DAKWAH USTMAN BIN AFFAN DAN
ALI BIN ABI THALIB
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sejarah Dakwah
Dosen Pengampu : Suisyanto
Disusun Oleh:
Sufi Amalia
Siti Nuzulul Istiqomah
PROGRAM STUDI
ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur kami persembahkan kehadirat allah SWT. Hanya dengan nikmat,
karunia, inayah, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, kepada
keluarganya yang setia mendampingi beliau, baik dalam keadaan suka maupun duka,
dan kepada para sahabatnya yang setia menyertai beliau dalam berjihad dan
berdakwah. Semoga allah meridoi mereka semua. Amin.
Makalah ini membahas tentang sejarah dakwah pada masa Khulafaur Rasyidin
tepatnya kami membahas pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin abi
Thalib. Makalah ini disusun dengan tujuan agar kita bisa bersama mempelajari
sejarah dakwah pada masa Ustman dan Ali. Dan diharapkan kita bisa mengambil
hikmah yang terdapat pada masa sahabat tersebut.
Penulis mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi
perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi
kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita
peroleh. Amin.
Yogyakarta, 23 mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................... 1
DAFTAR ISI ......................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 3
A. Latar belakang masalah ..................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C. Tujuan Masalah .................................................................................. 4
BAB II
PEMBAHASAN ...................................................................... 5
A. Definisi Khalifah................................................................................ 5
B. Ustman bin Affan dari Lahir sampai Wafat ...................................... 5
C. Ali bin Abi Thalib dari Lahir sampai Wafat .................................... 11
BAB III PENUTUP ............................................................................ 17
A. Kesimpulan ..................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah
Dakwah
merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang da’i dalam menyampaikan
ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat. Tujuannya adalah agar mengajak seluruh
manusia menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan menghindarkan manusia
dari jalan yang bisa merugikan manusia atau jalan yang salah.
Dalam
proses dakwah ini pastinya tidak segampang yang kita harapkan melainkan
terdapat bermacam rintangan, salah satunya penolakan oleh golongan lain. Banyak
sekali tantangan dan cobaan-cobaan yang dihadapi oleh seorang da’i dalam
menjalankan misi dakwah ini.
Karena proses dakwah kedepanya banyak rintangan yang
pastinya akan mempersulit jalan kita, maka dari itu kita perlu melakukan
berbagai persiapan. Salah satunya adalah kembali kemasa lalu. Mengingat
sejarah. Mengingat sejarah itu penting, ini sangat baik untuk memperkuat
keteguhan hati. Dengan melihat dakwah masa Nabi dan para sahabat diharapkan
kita akan memiliki mental dan keteguhan hati yang sama dengan para pendahulu.
Bersama makalah ini mari kita kembali menjelajah
kehidupan pada masa Ustman dan Ali yang penuh kepiluan, keteguhan hati,
kesabaran yang sangat luar biasa. Semoga dengan adanya makalah ini menjadikan
kita manusia yang lebih baik dan baik lagi. Amin.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapa itu Khalifah?
2.
Bagaimana
pemerintahan Ustman bin Affan?
3.
Bagaimana
pemerintahan Ali bin Abi Thalib?
C. Tujuan
Makalah
ini disusun guna melengkapi tugas Sejarah Dakwah yang diampu oleh Bapak Suisyanto. Isi di dalam makalah ini
membahas tentang kepemimpinan Kalifah Ustman dan Ali. Dengan
adanya makalah ini para pembaca menjadi lebih teguh dan pantang menyerah
seperti para pendahulu yang Syahid, karena memperjuangkan Agama Allah SWT.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Kalifah
Khalifah adalah jabatan tertinggi dalam
kepemimpinan Islam pasca Rasulullah Saw, wafat. Mereka dipilih oleh umat Islam
melalui musyawarah. Seorang khalifah wajib menjalankan kepemimpinan sesuai
dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Khalifah tidak menjalankan funsi kenabian,
tugas utama mereka dalam hal keagamaan adalah memimpin Sholat Jum’at di masjid
Nabawi dan menyampaikan khuthbah Jum’at.
Tugas seorang khalifah selain sebagai kepala
Negara, dia juga menjabat sebagai panglima pasukan Islam yang memiliki
kewenangan luas dalam hal pemerintahan. Dalam sejarah tugas nabi Muhammad saw,
sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara diemban oleh empat sahabatnya
secara berurutan. Termasuk dalam tugas tersebut adalah mengurus masalah
keagamaan umat Islam. Keempat penggantinya inilah yang dikenal dengan sebutan Khulafaur
Rasyidin. Secara bahasan, Khulafaur Rasyidin berarti para khalifah yang
mendapat petunjuk.[1]
B. Ustman bin
Affan (23 - 35 H/ 644 – 656 M )
1. Biografi Ustman
Ustman bin Affan bin Abu Al ‘Ash bin Umayyah bin abdu Syams bin abdu Manaf
bin Qushay Al Amawi Al Qurasyi lahir pada tahun kelima dari kelahiran
Rasulullah s. a. w. Dikatakan, bahwa ia dilahirkan enam tahun sesudah tahun
Gajah. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdu Syams.
Sedangkan nenek dari ibunya bernama Al Baidha’ binti Abdul Muththalib, bibi
Rasulullah s. a. w., yakni saudari kembaran Abdullah, yakni ayah Rasulullah s.
a. w.
Ustman masuk islam lewat Abu Bakar dan ia dinikahkan oleh Rasulullah s. a.
w. dengan putrinya yang bernama Ruqayah. Usman dan Ruqayah termasuk kelompok
pertama yang hijrah ke Habsyi. Ustman merupakan sahabat Rasul yang selalu ikut
dalam peperangan, kecuali dalam Perang Badar. Karena waktu itu Ruqayah sedang
dalam keadaan sakit. Ruqayah meninggal tepat saat kaum muslimin memenangkan
Perang Badar. Dan kemudian Ustman dinikahkan lagi dengan putri Rasul yang
bernama Ummu Kultsum, oleh sebab itu ia diberi gelar Dzunnirain yang
berarti orang yang mendapat anugerah dua cahaya, yakni sebagai orang yang dapat
anugerah memperistri dua puteri Rasulullah s. a. w. Namun Ummu Kultsum
meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah.
Ustman terkenal sebagai orang yang pandai menjaga kehormatan diri (‘iffah),
pemalu dan budiman. Begitu juga ia terkenal sebagai orang berhati lembut,
banyak berderma, dan sabar. Dia selaalu puasa sepanjang tahun, kecuali pada
hari-hari yang dimakruhkan berpuasa, yaitu pada hari Idul Fitri dan Idul Qurban
serta hari Syakk pada penentuan awal Ramadan.
Ustman terkenal sebagai sahabat yang sering mendermakan hartanya demi
Islam. Hal ini tidaklah mengherankan, karena dialah sahabat yang telah membantu
logistik para tentara Islam yang dikenal dengan sebutan “Jaisy Al ‘Usrah”
saat Rasulullah s. a. w. mempersiapkan mereka untuk menaklukkan Tabuk yang
kebetulan saat itu kaum Muslimin sedang dilanda Paceklik. Saat itu Ustman
mendermakan sembilan ratus lima puluh
dua kuda, dan uang sebanyak seribu dinar. Beliau juga membeli Bi’r Rumah,
yakni sumur rumah dari seorang Yahudi seharga dua puluh ribu dirham dan
disedekahkan kepada kaum muslimin.
Imam An Nawawi telah mengatakan “Sesungguhnya Ustman telah meriwayatkan
seratus empat puluh enam Hadist dari Rasulullah s. a. w.tiga diantaranya telah
disepakati oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Imam Bukhori telah mmeriwayatkan
delapan hadist dari Ustman dan Imam Muslim telah meriwayatkan lima Hadist
daripadanya”.[2]
Kedudukan Ustman yang begitu mulia disisi nabi membuatnya sangat dihormati
oleh kaum muslimin. Pada masa Abu Bakar dan Umar, pendapat Ustman senantiasa
didengarkan dan diperhatikan. Tidaklah mengherankan jika Umar menunjuknya
sebagai salah satu anggota Dewan syura. Lewat Dewan syura itu pula Ustman
diangkat sebagai Khalifah ketiga.
2. Kisah Asy Syura (Ustman di Bai’at)
Pada hari rabu waktu subuh, 4 Dzulhijjah 23 H, khalifah Umar yang hendak
mengimami sholat di masjid mengalami nasib naas. Ia ditikam oleh seorang budak
dari Persia milik Mughirah bin Syu’bah yang bernama Abu Lu’lu’ah Fairus.
Setelah penikaman Umar masih bertahan beberapa hari. Dalam keadaan sakit ia
membentuk sebuah dewan yang beranggotakan enam orang yaitu:
a. Abdurrahman bin Auf (ketua sidang)
b. Zubair bin Awwan
c. Saad bin Abi Waqash
d. Thalhah bin Ubaidillah
e. Ali bin Abi Thalib
f. Ustman bin Affan
Sidang berjalan alot, sehingga memakan waktu tiga hari lamanya. Pada hari
ketiga, empat sahabat mengundurkan diri, kecuali Ustman dan ali. Dan akhirnya
Ustman terpilih sebagai khalifah, yang saat itu beliau berumur 70 tahun. Ustman
terpilih mengalahkan Ali karena pertimbangan usia.
Setelah di Bai’at, Ustman berkhuthbah di depan kaum muslimin :
“Sesungguhnya kalian berada di tempat sementara, dan perjalanan hidup kalian
pun hanya untuk menghabiskan umur yang tersisa. Bergegaslah sedapat mungkin
kepada kebaikan sebelum ajal datang menjemput. Sunnguh ajal tidak pernah
sungkan datang sembarangan waktu dan keadaan baik siang maupun tidak pernah
malam. Ingatlah sesunggguhnya dunia penuh dengan tipu daya. Jangan kalian
terpedaya oleh kemilau dunia dan janganlah kalian sekali-kali melakukan tipu
daya kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah lalai dan melalaikan
kalian”.
Semua sifat baik yang dimiliki Ustman tidak hilang walau dia telah menjadi
khalifah. Bahkan kebaikannya semakin bertambah. Harta kekayaan berupa Jizyah
dan harta rampasan perang yang
didapat dari daerah taklukkan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum
muslimin.
Dia bukan saja seorang yang dermawan dan lemah lembut, namun dia juga
memiliki hati yang teguh. Misalnya, segera mengirimkan pasukan untuk
menngamankan wilayah-wilayah yang memberotak terhadap kekuasaan islam.
Kelemahan Ustman adalah terlalu mengutamakan keluarganya dari Bani Umayyah.
Misalnya, ia mengangkat beberapa orang dari Bani Umayyah menjadi Gubernur di
beberapa Wilayah. Sifatnya yang lemah lembut dan dermawan sering dimanfaatkan
oleh anggota Bani Umayyah untuk mendapatkan keuntungan. Ia kurang bisa bersikap
tegas terhadap keluarganya.
3. Kebijakan dan Strategi Ustman bin Affan
a. Perluasan Wilayah
Upaya perluasan daerah kekuasaan Islam diantaranya adalah melanjutkan usaha
penaklukan Persia. Kemudian Tabaristan, Azerbaijan, dan Armenia. Usah perluasan
daerah kekuasaan Islam tersebut lebih lancar lagi setelah dibangunnya armada
laut. Satu-persatu daerah diseberang laut ditaklukannya, antara lain wilayah
Asia Kecil, Pesisir Laut Hitam, Pulau Cyprus, Tunisia, dan Nubia.
Dalam upaya pemantapan dan stabilitas daerah kekuasaan Islam di luar kota
Madinah, khalifah Ustman bin Affan telah melakukan pengamanan terhadap para
pemberontak yang melakukan maka di daerah Azerbaijan dan Rai, karena mereka
enggan membayar pajak, begitu juga di Iskandariyah dan di Persia.
b. Standarisasi Al-Qur’an
Pada masa Ustman, terjadi perselisihan di tengah kaum muslimin perihal cara
baca Al-qur’an (qiraat). Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Al-Qur’an
diturunkan dengan beragam cara baca. Karena perselisihan ini, hampir saja
terjadi perang saudara. Kondisi ini dilaporkan oleh Hudzaifah al Yamani kepada
khalifah Ustman. Menanggapi laporan tersebut, khalifah Ustman memutuskan untuk
melakukan penyeragaman cara baca Al-Qur’an. Cara baca inilah yang akhirnya
secara resmi dipakai oleh kaum muslimin. Dengan demikian, perselisihan dapat
diselesaikan dan perpecahan dapat dihindari.
Dalam menyusun cara baca Al-Qur’an resmi ini, khalifah Ustman melakukannya
berdasarkan cra baca yang dipakai dalam Al-Quran yang disusun oleh Abu Bakar.
Setelah pembukuan selesai, dibuatlah beberapa salinannya untuk dikirim ke
Mesir, Syam, Yaman, Kufah, Basrah dan Makkah. Satu mushaf disimpan di Madinah.
Mushaf-mushaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Ustmani. Khalifah
Ustman mengharuskan umat Islam menggunakan Al-Qur’an hasil salinan yang telah
disebarkan tersebut. Sementara mushaf Al-Qur’an dengan cara baca yang lainnya
dibakar.
c. Pengangkatan Pejabat Negara
Pemerintahan Ustman berlangsung selama 12 tahun. Pada paruh terakhir masa
kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam
terhadapnya. Kepemimpinan Ustman sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini
mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya
yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H/ 655 M, Ustman dibunuh oleh kaum
pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecew itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak kecewa terhadap kepemimpinan
Ustman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang
terpenting diantaranya adalah Marwan Ibnu Hakam. Dialah pada dasarnya yang
menjalankan pemerintahan, sedangkan Ustman hanya menyandang gelar khalifah.
Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting,
Ustman laksna boneka dihadapan kerabatnya tersebut. Dia tidak dapat berbuat
banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap
kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh keluarganya dibagi-bagikan tanpa
kontrol oleh Ustman sendiri.
d. Pembangunan Fisik
Mekipun demikian, tidak berarti bahwa pada masa Ustman tidak ada
kegiatan-kegiatan yang penting. Ustman berjasa membangun bendungan untuk
menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia
jiga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas
masjid nabi di Madinah.[3]
C. Ali bin Abi
Thalib
1. Bografi Ali bin Abi Thalib
Ali bin abi Thalib lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Rajab di kota Makkah
sekitar tahun 600 M. Ia lahir dari pasangan Abu Thalib bin abdul Muthalib dan
Fatimah binti Asad. Ketika lahir ia diberi nama oleh ibunya Haidar yang artinya
singgah. Namun sang ayah lebih suka menamainya Ali artinya tinggi dan luhur.
Abu Thallib adalah kakak Abdullah ayah nabi Muhammad s. a. w. jadi Ali dan nabi
adalah saudara sepupu.
Sejak kecil Ali tinggal dengan nabi Muhammad s. a. w. berada di bawah
asuhannya. Nabi tentu saja ingat bahwa ia pernah diasuh oleh pamannya, Abu
Thalib. Ketika dalam asuhan sepupunya inilah, ali mendapat cahaya kebenaran
yakni Islam. Tanpa ragu sedikit pun ia langsung memutuskan untuk menyatakan
beriman kepada Allah dan Rasulnya. Keputusan ini dilakukanketika Ali ketika
masih kecil, ketika umurnya baru sepuluh tahun. Secara keseluruhan ia adalah
orang ketiga yang memeluk Islam dan pertama dari golongan anak-anak.
Di bawah asuhan Rasulullah s. a. w. Ali tumbuh berkembang. Segala kebaikan
perilaku diajarkan oleh Nabi kepada sepupunya. Ali tumbuh menjadi pemuda yang
cerdas, pemberani, tegas, juga lembut hati serta pemurah. Kecerdasannya sangat
menonnjol. Ia merupakan sahabat nabi yang paling paham tentang Al-Qur’an dan
sunnah, karena merupakan salah satu sahabat terdekat nabi. Ia menerima langsung
pengajaran Al-Qur’an dan Sunnah dari Rasulullah s. a. w., setelah hijrah ke
Madinah. Ali bekerja sebagai petani, seperti Abu Bakar dan Umar. Dua tahun
setelah hijrah Ali menikah dengan Fatimah az Zahra, putri kesayangan Rasulullah
s. a. w. Dari pasangan inilah lahir dua cucu Rasulullah yang bernama Hasan dan
Husain.
Dari Madinah, bersama Nabi dan kaum muslimin lainnya berjuang bersama-sama.
Ali hampir tidak pernah absen di dalam mengikuti peperangan bersma Rasulullah,
seperti perang Badar, Uhud, Khandak, Khaibar, dan pembebasan kota Makkah.
Pada ekspedisi ke Tabuk, Ali tidak ikut dalam barisan perang kaum muslimin
atas perintah Nabi. Ali diperintah tinggal di Madinah menggantikannya mengurus
keperluan warga kota. Kaum munafik menebarkan fitnah dengan mengatakan bahwa
Nabi memberi tugas itu untuk membebaskan Ali dari kewajiban perang. Mendengar
hal tersebut, Ali merasa sedih, dengan pakaian perang lengkap ia menyusul
Rasulullah s. a. w. dan meminta izin untuk bergabung dengan pasukan. Namun Nabi
bersabda : “Mereka berdusta. Aku
memintamu tinggal untuk menjaga yang kutinggalkan. Maka kembalilah dan
lindungilah keluarga dan harta bendaku. Tidakkah engkau bahagia, wahai Ali,
bahwa engkau disisiku seperti Harun disisi Musa. Ingatlah bahwa sesudahku tidak
ada Nabi.” Dengan penuh patuh Ali kembali ke Madinah.
Sepeninggal Nabi Saw, Ali menjadi tempat para sahabat meminta pendapat.
Begitu terhormat posisi Ali di mata Islam. Bahkan Abu Bakar, Umar, dan Ustman
ketika menjadi khalifah tidak pernah mengabaikan nasehat-nasehat Ali.[4]
2. Sifat Ali bin Abi Thalib
Meskipun tegas dan keras dalam setiap pertempuran, namun Ali memiliki sifat
penyayang yang luar biasa. Ali tak pernah membunuh lawan yang sudah tidak
berdaya. Bahkan ia pernah tak jadi membunuh musuhnya dikarenakan sang musuh
meludahinya, sehingga membuatnya marah.
Ali hidup dengan sahaja dalam hari-harinya. Meskipun miskin Ali tetap gemar
bersedekah. Ali tak segan-segan menyedekahkan makanan yang seharusnya ia
berikan kepada keluarganaya. Bahkan pernah Ali tidak makan berhari-hari karena
makanannya diberikan kepada orang yang meminta-minta.
3. Proses Ali di Bai’at
Ali menjadi khalifah karena desakan yang terjadi setelah pembunuhan Ustman.
Karena keadaan kacau dan menghawatirkan sehingga Ali pun ragu-ragu untuk
membuat sebuah keputusan dan tindakan. Dan akhirya Ali bersedia di Bai’at
menjadi khalifah pada tanggal 24 Juni 656 M, bertempat di Masjid Nabawi. Namun
sayangnya, ternyata tidak seluruh kaum muslimin membai’at Ali bin Abi Thalib
sebagai khalifah. Selama masa kepemimpinannya, Ali sibuk mengurusi mereka yang
tidak mau membai’at dirinya tersebut. Sama seperti pendahulunya yaitu
Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Ustman,
khalifah Ali juga hidup sederhana dan zuhud. Ia tidak suka dengan kemewahan
hidup. Ia bahkan menentang mereka yang hidup bermewah-mewahan.
Karena keperwiraannya Ali mendapat julukan Asadullah, yang artinya
singa Allah. Karena ketegasannya ia tak segan-segan mengganti pejabat gubernur
yang tidak becus mengurusi kepentingan umat Islam. Ia juga tidak segan-segan
memerangi mereka yang melakukan pemberontakan. Diantara peperangan itu adalah
perang Jamal dan perang Siffin. Berkat ketegasan serta ketangkasannya, perang
jamal dapat dimenangkan. Namun dalam perang Siffin, khalifah Ali tertipu oleh
muslihat pihak Mu’awiyah. Ali hampir memenangi, namun pihak Mu’awiyah meminta
kepada Ali agar diadakan perjanjian damai yang disebut perjanjian di Daumatul
Jandal.
4. Kebijakan dan Strategi Ali bin abi Thalib
a. Penggantian Pejabat Lama dengan yang Baru
Khalifah Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia
menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikitpun dalam pemerintahnnya
yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat
para gubernur yang diangkat oleh Ustman. Dia yakin bahwa
pemberontakan-pemberontakan terjadi dikarenakan keteledoran mereka.
b. Penarikan Kembali Tanah Hadiah
Ali juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Ustman kepada penduduk
dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan kembali memakai
sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaiman pernah
diterapkan oleh Umar Ibnu Khatab.
c. Menghadapi Para Pemberontak
Setelah kebijakan tersebut diterapkan, Ali bin Abu Thalib menghadapi
pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau
menghukum para pembunuh Ustman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Ustman
yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin menghindari perang.
Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk
menyelesaikan perkara tersebut secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak.
Akhirnya, pertempuran yang dasyat terjadi. Perang ini dikenal dengan nama Perang
Jamal (Perang Unta), karena Aisyah dalam pertempuran ini menunggang Unta.
Ali berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak
melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersmaan dengan itu kebijaksnaan-kebijaksnaan Ali juga mengakibatkan
timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus yaitu Muawiyah, yang didukung
oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan
kejayaan. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah,
Ali bergerak dari Kuffah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara.
Pasukannya bertemu dengan pasukan Muawiyah di Siffin. Perang ini
diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tetapi ternyata tahkim tidak
menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu
Khawarij, artinya orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya diujung
masa pemerintahan Ali bin Abu Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan
politik, yaitu Muawiyah, Syi’ah (pengikut) Ali dan Khawarij atau orang-orang yang keluar
dari barisan Ali. Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok
Khawarij menyebabkan tentaranya semakin melemah, sementara posisi Muawiyah
semakin kuat. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah
satu anggota kelompok Khawarij yakni ibnu Muljam. Ali terbunuh setelah ditikam
dengan pedang beracun.
Kedudukan Ali sebagai Khalifah kemudian dijabat oleh putranya yang bernama
Hasan bin Ali selama beberapa bulan. Namun karena Hasan ternyata lemah,
sementara Muawiyah kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini
dapat menyatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, di bawah
Muawiyah bin Abu Sufyan. Disisi lain, perjanjian itu juga menyebabkan Muawiyah
jadi penguasa Absolut dalam Islam. Tahun 41 H (661 M), tahun persatuan ini
dikenal dalam sejarah sebagai tahun Amul Jamaah. Dengan demikian
berakhirlah apa yang disebut dengan Khulafaur Rasyidin dan dimulailah
kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.[5]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dapat kita simpulkan dari pembahasan di atas,
bahwa sebagai manusia yang hidup untuk menjadi khalifah sebagai pengganti Allah
di Bumi, kita tidak boleh tunduk kepada keadaan, namun tundukan keadaan agar
kita tidak jatuh dan terinjak yang kemudian musnah tanpa jejak. Kemudian,
jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan suatu hal yang diinginkan,
seperti mengdu domba. Karena sesungguhnya segala perbuatan yang kita lakukan
baik itu perbuatan terpuji maupun tercela, dikemudian hari kita akan memetik
buah dari apa yang kita tanam.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan Ibrahim
Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Mahbub Hefdzil Akbar, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kementrian
Agama, 2014.
By Sufi Amalia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar