Rabu, 27 Mei 2015

DAKWAH USTMAN BIN AFFAN DAN ALLI BIN ABI THALIB



DAKWAH USTMAN BIN AFFAN DAN

ALI BIN ABI THALIB

Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Sejarah Dakwah
Dosen Pengampu : Suisyanto



Disusun Oleh:
Sufi Amalia
Siti Nuzulul Istiqomah


PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015


 

KATA PENGANTAR

      Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur kami persembahkan kehadirat allah SWT. Hanya dengan nikmat, karunia, inayah, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW, kepada keluarganya yang setia mendampingi beliau, baik dalam keadaan suka maupun duka, dan kepada para sahabatnya yang setia menyertai beliau dalam berjihad dan berdakwah. Semoga allah meridoi mereka semua. Amin.
Makalah ini membahas tentang sejarah dakwah pada masa Khulafaur Rasyidin tepatnya kami membahas pada masa khalifah Usman bin Affan dan Ali bin abi Thalib. Makalah ini disusun dengan tujuan agar kita bisa bersama mempelajari sejarah dakwah pada masa Ustman dan Ali. Dan diharapkan kita bisa mengambil hikmah yang terdapat pada masa sahabat tersebut.
Penulis mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Yogyakarta, 23 mei 2015

Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................... 1
DAFTAR ISI ......................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 3
A.    Latar belakang masalah ..................................................................... 3
B.     Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C.    Tujuan Masalah .................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................... 5
A.    Definisi Khalifah................................................................................ 5
B.     Ustman bin Affan dari Lahir sampai Wafat ...................................... 5
C.    Ali bin Abi Thalib dari Lahir sampai Wafat .................................... 11
BAB III PENUTUP ............................................................................ 17
A.    Kesimpulan  ..................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 18










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang masalah
Dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang da’i dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat. Tujuannya adalah agar mengajak seluruh manusia menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan menghindarkan manusia dari jalan yang bisa merugikan manusia atau jalan yang salah.  
Dalam proses dakwah ini pastinya tidak segampang yang kita harapkan melainkan terdapat bermacam rintangan, salah satunya penolakan oleh golongan lain. Banyak sekali tantangan dan cobaan-cobaan yang dihadapi oleh seorang da’i dalam menjalankan misi dakwah ini.
Karena proses dakwah kedepanya banyak rintangan yang pastinya akan mempersulit jalan kita, maka dari itu kita perlu melakukan berbagai persiapan. Salah satunya adalah kembali kemasa lalu. Mengingat sejarah. Mengingat sejarah itu penting, ini sangat baik untuk memperkuat keteguhan hati. Dengan melihat dakwah masa Nabi dan para sahabat diharapkan kita akan memiliki mental dan keteguhan hati yang sama dengan para pendahulu.
Bersama makalah ini mari kita kembali menjelajah kehidupan pada masa Ustman dan Ali yang penuh kepiluan, keteguhan hati, kesabaran yang sangat luar biasa. Semoga dengan adanya makalah ini menjadikan kita manusia yang lebih baik dan baik lagi. Amin.

B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa itu Khalifah?
2.      Bagaimana pemerintahan Ustman bin Affan?
3.      Bagaimana pemerintahan Ali bin Abi Thalib?
C.    Tujuan
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Sejarah Dakwah yang diampu oleh Bapak Suisyanto. Isi di dalam makalah ini membahas tentang kepemimpinan Kalifah Ustman dan Ali. Dengan adanya makalah ini para pembaca menjadi lebih teguh dan pantang menyerah seperti para pendahulu yang Syahid, karena memperjuangkan Agama Allah SWT.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kalifah
Khalifah adalah jabatan tertinggi dalam kepemimpinan Islam pasca Rasulullah Saw, wafat. Mereka dipilih oleh umat Islam melalui musyawarah. Seorang khalifah wajib menjalankan kepemimpinan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Khalifah tidak menjalankan funsi kenabian, tugas utama mereka dalam hal keagamaan adalah memimpin Sholat Jum’at di masjid Nabawi dan menyampaikan khuthbah Jum’at.
Tugas seorang khalifah selain sebagai kepala Negara, dia juga menjabat sebagai panglima pasukan Islam yang memiliki kewenangan luas dalam hal pemerintahan. Dalam sejarah tugas nabi Muhammad saw, sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara diemban oleh empat sahabatnya secara berurutan. Termasuk dalam tugas tersebut adalah mengurus masalah keagamaan umat Islam. Keempat penggantinya inilah yang dikenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin. Secara bahasan, Khulafaur Rasyidin berarti para khalifah yang mendapat petunjuk.[1]
B.     Ustman bin Affan (23 - 35 H/ 644 – 656 M )
1.      Biografi Ustman
Ustman bin Affan bin Abu Al ‘Ash bin Umayyah bin abdu Syams bin abdu Manaf bin Qushay Al Amawi Al Qurasyi lahir pada tahun kelima dari kelahiran Rasulullah s. a. w. Dikatakan, bahwa ia dilahirkan enam tahun sesudah tahun Gajah. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdu Syams. Sedangkan nenek dari ibunya bernama Al Baidha’ binti Abdul Muththalib, bibi Rasulullah s. a. w., yakni saudari kembaran Abdullah, yakni ayah Rasulullah s. a. w.
Ustman masuk islam lewat Abu Bakar dan ia dinikahkan oleh Rasulullah s. a. w. dengan putrinya yang bernama Ruqayah. Usman dan Ruqayah termasuk kelompok pertama yang hijrah ke Habsyi. Ustman merupakan sahabat Rasul yang selalu ikut dalam peperangan, kecuali dalam Perang Badar. Karena waktu itu Ruqayah sedang dalam keadaan sakit. Ruqayah meninggal tepat saat kaum muslimin memenangkan Perang Badar. Dan kemudian Ustman dinikahkan lagi dengan putri Rasul yang bernama Ummu Kultsum, oleh sebab itu ia diberi gelar Dzunnirain yang berarti orang yang mendapat anugerah dua cahaya, yakni sebagai orang yang dapat anugerah memperistri dua puteri Rasulullah s. a. w. Namun Ummu Kultsum meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah.
Ustman terkenal sebagai orang yang pandai menjaga kehormatan diri (‘iffah), pemalu dan budiman. Begitu juga ia terkenal sebagai orang berhati lembut, banyak berderma, dan sabar. Dia selaalu puasa sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang dimakruhkan berpuasa, yaitu pada hari Idul Fitri dan Idul Qurban serta hari Syakk pada penentuan awal Ramadan.
Ustman terkenal sebagai sahabat yang sering mendermakan hartanya demi Islam. Hal ini tidaklah mengherankan, karena dialah sahabat yang telah membantu logistik para tentara Islam yang dikenal dengan sebutan “Jaisy Al ‘Usrah” saat Rasulullah s. a. w. mempersiapkan mereka untuk menaklukkan Tabuk yang kebetulan saat itu kaum Muslimin sedang dilanda Paceklik. Saat itu Ustman mendermakan  sembilan ratus lima puluh dua kuda, dan uang sebanyak seribu dinar. Beliau juga membeli Bi’r Rumah, yakni sumur rumah dari seorang Yahudi seharga dua puluh ribu dirham dan disedekahkan kepada kaum muslimin.
Imam An Nawawi telah mengatakan “Sesungguhnya Ustman telah meriwayatkan seratus empat puluh enam Hadist dari Rasulullah s. a. w.tiga diantaranya telah disepakati oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Imam Bukhori telah mmeriwayatkan delapan hadist dari Ustman dan Imam Muslim telah meriwayatkan lima Hadist daripadanya”.[2]
Kedudukan Ustman yang begitu mulia disisi nabi membuatnya sangat dihormati oleh kaum muslimin. Pada masa Abu Bakar dan Umar, pendapat Ustman senantiasa didengarkan dan diperhatikan. Tidaklah mengherankan jika Umar menunjuknya sebagai salah satu anggota Dewan syura. Lewat Dewan syura itu pula Ustman diangkat sebagai Khalifah ketiga.
2.      Kisah Asy Syura (Ustman di Bai’at)
Pada hari rabu waktu subuh, 4 Dzulhijjah 23 H, khalifah Umar yang hendak mengimami sholat di masjid mengalami nasib naas. Ia ditikam oleh seorang budak dari Persia milik Mughirah bin Syu’bah yang bernama Abu Lu’lu’ah Fairus.
Setelah penikaman Umar masih bertahan beberapa hari. Dalam keadaan sakit ia membentuk sebuah dewan yang beranggotakan enam orang yaitu:
a.       Abdurrahman bin Auf (ketua sidang)
b.      Zubair bin Awwan
c.       Saad bin Abi Waqash
d.      Thalhah bin Ubaidillah
e.       Ali bin Abi Thalib
f.       Ustman bin Affan
Sidang berjalan alot, sehingga memakan waktu tiga hari lamanya. Pada hari ketiga, empat sahabat mengundurkan diri, kecuali Ustman dan ali. Dan akhirnya Ustman terpilih sebagai khalifah, yang saat itu beliau berumur 70 tahun. Ustman terpilih mengalahkan Ali karena pertimbangan usia.
Setelah di Bai’at, Ustman berkhuthbah di depan kaum muslimin :
“Sesungguhnya kalian berada di tempat sementara, dan perjalanan hidup kalian pun hanya untuk menghabiskan umur yang tersisa. Bergegaslah sedapat mungkin kepada kebaikan sebelum ajal datang menjemput. Sunnguh ajal tidak pernah sungkan datang sembarangan waktu dan keadaan baik siang maupun tidak pernah malam. Ingatlah sesunggguhnya dunia penuh dengan tipu daya. Jangan kalian terpedaya oleh kemilau dunia dan janganlah kalian sekali-kali melakukan tipu daya kepada Allah. Sesungguhnya Allah tidak pernah lalai dan melalaikan kalian”.
Semua sifat baik yang dimiliki Ustman tidak hilang walau dia telah menjadi khalifah. Bahkan kebaikannya semakin bertambah. Harta kekayaan berupa Jizyah  dan harta rampasan perang yang didapat dari daerah taklukkan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum muslimin.
Dia bukan saja seorang yang dermawan dan lemah lembut, namun dia juga memiliki hati yang teguh. Misalnya, segera mengirimkan pasukan untuk menngamankan wilayah-wilayah yang memberotak terhadap kekuasaan islam.
Kelemahan Ustman adalah terlalu mengutamakan keluarganya dari Bani Umayyah. Misalnya, ia mengangkat beberapa orang dari Bani Umayyah menjadi Gubernur di beberapa Wilayah. Sifatnya yang lemah lembut dan dermawan sering dimanfaatkan oleh anggota Bani Umayyah untuk mendapatkan keuntungan. Ia kurang bisa bersikap tegas terhadap keluarganya.
3.      Kebijakan dan Strategi Ustman bin Affan
a.       Perluasan Wilayah
Upaya perluasan daerah kekuasaan Islam diantaranya adalah melanjutkan usaha penaklukan Persia. Kemudian Tabaristan, Azerbaijan, dan Armenia. Usah perluasan daerah kekuasaan Islam tersebut lebih lancar lagi setelah dibangunnya armada laut. Satu-persatu daerah diseberang laut ditaklukannya, antara lain wilayah Asia Kecil, Pesisir Laut Hitam, Pulau Cyprus, Tunisia, dan Nubia.
Dalam upaya pemantapan dan stabilitas daerah kekuasaan Islam di luar kota Madinah, khalifah Ustman bin Affan telah melakukan pengamanan terhadap para pemberontak yang melakukan maka di daerah Azerbaijan dan Rai, karena mereka enggan membayar pajak, begitu juga di Iskandariyah dan di Persia.
b.      Standarisasi Al-Qur’an
Pada masa Ustman, terjadi perselisihan di tengah kaum muslimin perihal cara baca Al-qur’an (qiraat). Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan beragam cara baca. Karena perselisihan ini, hampir saja terjadi perang saudara. Kondisi ini dilaporkan oleh Hudzaifah al Yamani kepada khalifah Ustman. Menanggapi laporan tersebut, khalifah Ustman memutuskan untuk melakukan penyeragaman cara baca Al-Qur’an. Cara baca inilah yang akhirnya secara resmi dipakai oleh kaum muslimin. Dengan demikian, perselisihan dapat diselesaikan dan perpecahan dapat dihindari.
Dalam menyusun cara baca Al-Qur’an resmi ini, khalifah Ustman melakukannya berdasarkan cra baca yang dipakai dalam Al-Quran yang disusun oleh Abu Bakar. Setelah pembukuan selesai, dibuatlah beberapa salinannya untuk dikirim ke Mesir, Syam, Yaman, Kufah, Basrah dan Makkah. Satu mushaf disimpan di Madinah. Mushaf-mushaf inilah yang kemudian dikenal dengan nama Mushaf Ustmani. Khalifah Ustman mengharuskan umat Islam menggunakan Al-Qur’an hasil salinan yang telah disebarkan tersebut. Sementara mushaf Al-Qur’an dengan cara baca yang lainnya dibakar.
c.       Pengangkatan Pejabat Negara
Pemerintahan Ustman berlangsung selama 12 tahun. Pada paruh terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan kecewa dikalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Ustman sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin karena umurnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H/ 655 M, Ustman dibunuh oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecew itu.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak kecewa terhadap kepemimpinan Ustman adalah kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting diantaranya adalah Marwan Ibnu Hakam. Dialah pada dasarnya yang menjalankan pemerintahan, sedangkan Ustman hanya menyandang gelar khalifah. Setelah banyak anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Ustman laksna boneka dihadapan kerabatnya tersebut. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan. Harta kekayaan negara, oleh keluarganya dibagi-bagikan tanpa kontrol oleh Ustman sendiri.
d.      Pembangunan Fisik
Mekipun demikian, tidak berarti bahwa pada masa Ustman tidak ada kegiatan-kegiatan yang penting. Ustman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia jiga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid, dan memperluas masjid nabi di Madinah.[3]
C.    Ali bin Abi Thalib
1.      Bografi Ali bin Abi Thalib
Ali bin abi Thalib lahir pada hari Jum’at tanggal 13 Rajab di kota Makkah sekitar tahun 600 M. Ia lahir dari pasangan Abu Thalib bin abdul Muthalib dan Fatimah binti Asad. Ketika lahir ia diberi nama oleh ibunya Haidar yang artinya singgah. Namun sang ayah lebih suka menamainya Ali artinya tinggi dan luhur. Abu Thallib adalah kakak Abdullah ayah nabi Muhammad s. a. w. jadi Ali dan nabi adalah saudara sepupu.
Sejak kecil Ali tinggal dengan nabi Muhammad s. a. w. berada di bawah asuhannya. Nabi tentu saja ingat bahwa ia pernah diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika dalam asuhan sepupunya inilah, ali mendapat cahaya kebenaran yakni Islam. Tanpa ragu sedikit pun ia langsung memutuskan untuk menyatakan beriman kepada Allah dan Rasulnya. Keputusan ini dilakukanketika Ali ketika masih kecil, ketika umurnya baru sepuluh tahun. Secara keseluruhan ia adalah orang ketiga yang memeluk Islam dan pertama dari golongan anak-anak.
Di bawah asuhan Rasulullah s. a. w. Ali tumbuh berkembang. Segala kebaikan perilaku diajarkan oleh Nabi kepada sepupunya. Ali tumbuh menjadi pemuda yang cerdas, pemberani, tegas, juga lembut hati serta pemurah. Kecerdasannya sangat menonnjol. Ia merupakan sahabat nabi yang paling paham tentang Al-Qur’an dan sunnah, karena merupakan salah satu sahabat terdekat nabi. Ia menerima langsung pengajaran Al-Qur’an dan Sunnah dari Rasulullah s. a. w., setelah hijrah ke Madinah. Ali bekerja sebagai petani, seperti Abu Bakar dan Umar. Dua tahun setelah hijrah Ali menikah dengan Fatimah az Zahra, putri kesayangan Rasulullah s. a. w. Dari pasangan inilah lahir dua cucu Rasulullah yang bernama Hasan dan Husain.
Dari Madinah, bersama Nabi dan kaum muslimin lainnya berjuang bersama-sama. Ali hampir tidak pernah absen di dalam mengikuti peperangan bersma Rasulullah, seperti perang Badar, Uhud, Khandak, Khaibar, dan pembebasan kota Makkah.
Pada ekspedisi ke Tabuk, Ali tidak ikut dalam barisan perang kaum muslimin atas perintah Nabi. Ali diperintah tinggal di Madinah menggantikannya mengurus keperluan warga kota. Kaum munafik menebarkan fitnah dengan mengatakan bahwa Nabi memberi tugas itu untuk membebaskan Ali dari kewajiban perang. Mendengar hal tersebut, Ali merasa sedih, dengan pakaian perang lengkap ia menyusul Rasulullah s. a. w. dan meminta izin untuk bergabung dengan pasukan. Namun Nabi bersabda : “Mereka berdusta.  Aku memintamu tinggal untuk menjaga yang kutinggalkan. Maka kembalilah dan lindungilah keluarga dan harta bendaku. Tidakkah engkau bahagia, wahai Ali, bahwa engkau disisiku seperti Harun disisi Musa. Ingatlah bahwa sesudahku tidak ada Nabi.” Dengan penuh patuh Ali kembali ke Madinah.
Sepeninggal Nabi Saw, Ali menjadi tempat para sahabat meminta pendapat. Begitu terhormat posisi Ali di mata Islam. Bahkan Abu Bakar, Umar, dan Ustman ketika menjadi khalifah tidak pernah mengabaikan nasehat-nasehat Ali.[4]
2.      Sifat Ali bin Abi Thalib
Meskipun tegas dan keras dalam setiap pertempuran, namun Ali memiliki sifat penyayang yang luar biasa. Ali tak pernah membunuh lawan yang sudah tidak berdaya. Bahkan ia pernah tak jadi membunuh musuhnya dikarenakan sang musuh meludahinya, sehingga membuatnya marah.
Ali hidup dengan sahaja dalam hari-harinya. Meskipun miskin Ali tetap gemar bersedekah. Ali tak segan-segan menyedekahkan makanan yang seharusnya ia berikan kepada keluarganaya. Bahkan pernah Ali tidak makan berhari-hari karena makanannya diberikan kepada orang yang meminta-minta.
3.      Proses Ali di Bai’at
Ali menjadi khalifah karena desakan yang terjadi setelah pembunuhan Ustman. Karena keadaan kacau dan menghawatirkan sehingga Ali pun ragu-ragu untuk membuat sebuah keputusan dan tindakan. Dan akhirya Ali bersedia di Bai’at menjadi khalifah pada tanggal 24 Juni 656 M, bertempat di Masjid Nabawi. Namun sayangnya, ternyata tidak seluruh kaum muslimin membai’at Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Selama masa kepemimpinannya, Ali sibuk mengurusi mereka yang tidak mau membai’at dirinya tersebut. Sama seperti pendahulunya yaitu Rasulullah,  Abu Bakar, Umar dan Ustman, khalifah Ali juga hidup sederhana dan zuhud. Ia tidak suka dengan kemewahan hidup. Ia bahkan menentang mereka yang hidup bermewah-mewahan.
Karena keperwiraannya Ali mendapat julukan Asadullah, yang artinya singa Allah. Karena ketegasannya ia tak segan-segan mengganti pejabat gubernur yang tidak becus mengurusi kepentingan umat Islam. Ia juga tidak segan-segan memerangi mereka yang melakukan pemberontakan. Diantara peperangan itu adalah perang Jamal dan perang Siffin. Berkat ketegasan serta ketangkasannya, perang jamal dapat dimenangkan. Namun dalam perang Siffin, khalifah Ali tertipu oleh muslihat pihak Mu’awiyah. Ali hampir memenangi, namun pihak Mu’awiyah meminta kepada Ali agar diadakan perjanjian damai yang disebut perjanjian di Daumatul Jandal.
4.      Kebijakan dan Strategi Ali bin abi Thalib
a.       Penggantian Pejabat Lama dengan yang Baru
Khalifah Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikitpun dalam pemerintahnnya yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para gubernur yang diangkat oleh Ustman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi dikarenakan keteledoran mereka.
b.      Penarikan Kembali Tanah Hadiah
Ali juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Ustman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan kembali memakai sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam sebagaiman pernah diterapkan oleh Umar Ibnu Khatab.
c.       Menghadapi Para Pemberontak
Setelah kebijakan tersebut diterapkan, Ali bin Abu Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Ustman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Ustman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali sebenarnya ingin menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara tersebut secara damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dasyat terjadi. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Perang Unta), karena Aisyah dalam pertempuran ini menunggang Unta. Ali berhasil mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersmaan dengan itu kebijaksnaan-kebijaksnaan Ali juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus yaitu Muawiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari Kuffah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan pasukan Muawiyah di Siffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tetapi ternyata tahkim tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga yaitu Khawarij, artinya orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya diujung masa pemerintahan Ali bin Abu Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Muawiyah, Syi’ah (pengikut)  Ali dan Khawarij atau orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Keadaan ini tidak menguntungkan Ali. Munculnya kelompok Khawarij menyebabkan tentaranya semakin melemah, sementara posisi Muawiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 Ramadhan 40 H (660 M), Ali terbunuh oleh salah satu anggota kelompok Khawarij yakni ibnu Muljam. Ali terbunuh setelah ditikam dengan pedang beracun.
Kedudukan Ali sebagai Khalifah kemudian dijabat oleh putranya yang bernama Hasan bin Ali selama beberapa bulan. Namun karena Hasan ternyata lemah, sementara Muawiyah kuat, maka Hasan membuat perjanjian damai. Perjanjian ini dapat menyatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, di bawah Muawiyah bin Abu Sufyan. Disisi lain, perjanjian itu juga menyebabkan Muawiyah jadi penguasa Absolut dalam Islam. Tahun 41 H (661 M), tahun persatuan ini dikenal dalam sejarah sebagai tahun Amul Jamaah. Dengan demikian berakhirlah apa yang disebut dengan Khulafaur Rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani Umayyah dalam sejarah politik Islam.[5]



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dapat kita simpulkan dari pembahasan di atas, bahwa sebagai manusia yang hidup untuk menjadi khalifah sebagai pengganti Allah di Bumi, kita tidak boleh tunduk kepada keadaan, namun tundukan keadaan agar kita tidak jatuh dan terinjak yang kemudian musnah tanpa jejak. Kemudian, jangan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan suatu hal yang diinginkan, seperti mengdu domba. Karena sesungguhnya segala perbuatan yang kita lakukan baik itu perbuatan terpuji maupun tercela, dikemudian hari kita akan memetik buah dari apa yang kita tanam.















DAFTAR PUSTAKA
Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2009.
Mahbub Hefdzil Akbar, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta: Kementrian Agama, 2014.


[1] Mahbub Hefdzil Akbar, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kementrian Agama, 2014), hlm. 69
[2] Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2009), hlm. 480
[3] Ibid. Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 90.
[4] Ibid, Sejarah Kebudayaan Islam, hlm. 78
[5] Ibid. Hlm. 92
By Sufi Amalia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar