Rabu, 17 Juni 2015


Aku akan Tua
Oleh Sufi Amalia
Seperti matahari yang akan tenggelam. Bintang yang menghilang saat fajar menyingsing. Kayu yang akan lapuk dan akhirnya patah. Besi yang berkarat. Aku seperti itu dan tak abadi. Aku akan meninggalkanmu, dan membuatmu sendirian tanpa aku. Kau akan sendiri seperti bintang malam saat bulan bersembunyi dibalik awan.
Saat semua berubah mukinkah kau akan tetap di sini dan bersamaku?. Mataku tak akan bisa melihatmu, telingaku tak bisa mendengar tenangnya suaramu, lidahku tak bisa merasakan lagi gurihnya masakanmu, hidungku tak bisa lagi mencium bau wangi dari arah dapur, Tanganku tak bisa lagi menjagamu, dan memelukmu. Kakiku tak bisa lagi berjalan mendekatimu. Semua akan beruabah. Tak lagi semanis seperti awal pertemuan kita.
Mengingatmu di bawah langit senja membuatku nyaman. Meski kau tak bisa lagi duduk bersamaku. Aku merindukanmu. Sungguh. Teringat saat senja menghantar langkahku kepadamu. Bersih wajahmu meluluhkanku. Semua janji tentang masa depan kau berikan kepadaku. Kau berjanji menuntunku menuju taman surga. Terimakasih untuk senja yang telah mempertemukan kesederhanaan cinta kami. Maaf karena aku tak sempurna. Maaf karena masakanku terlalu Asin, bahkan kau tak pernah mengeluh, meski sudah ku paksa. Haruskah aku tersenyum sendiri mengingatmu? Hari ini aku memasak sayur Asem dan Balado Teri. Aku ingat ini masakan kesukaanmu. Aku membuatnya karena aku sungguh merindukanmu.
Senja...aku ingat saat aku pulang dan menemukan gadis tua itu duduk di kursi lapuk menunggu tubuh renta ini. Tak pernah sekalipun aku melihat cemberut wajah tuanya. Meski waktu telah membuatnya tampak kurus kering tapi dia tetap cantik. Dia wanitaku. Terimakasih telah hidup menemaniku. Aku teringat sayur Asem dan Balado Teri buatannya. Aku tau rasanya Keasinan, namun semua berubah manis karena senyuman tua itu. Aku tak bisa melihatnya kecewa. Aku ingin tetap seperti ini, duduk dengannya menunggu waktu berlalu. Namun aku takut senja... aku takut jika suatu saat dia akan kesepian tanpaku. Aku teringat saat tubuh tua dan kotor ini dia bersihkan. Aku mengingat nasehatnya saat aku merokok. Dan saat itu aku berjanji tak akan membuatnya takut karena rokok.
Senja...aku takut membuatnya marah karena rokok. Aku hanya ingin dia sehat, dan terus bersamaku. Aku tak ingin banyak hal darinya, aku hanya ingin dia sehat. Cukup hanya itu.
Senja itu, dia memegang tanganku dan berkata “kenapa tanganmu kasar sekali?” aku hanya terdiam. “Ma’af... karena aku membiarkan kedua telapak tanganmu bekerja keras.” Dia menangis, dan berbaring dipangkuanku. “kelak saat tangku ditanya dia akan menjawab bahwa tangan ini telah bersusah payah mencuci, memasak untukmu.”  Terimakasih telah memilih wanita bodoh sepertiku untuk bersanding denganmu. Maaf atas kekuranganku. Maaf, karena tak ada lengkingan kecil memanggilmu “Ayah”. Maaf karena hanya aku yang berbaring disampingmu.
Teringat saat butiran bening itu memenuhi mata teduhnya. Dia memintaku untuk pergi, namun sungguh aku tak bisa. Aku hidup untuk melengkapinya. Tak ada yang lain. Cukup hanya dia dan aku saja untuk melukis kisah kami diatas langit senja. Terimaksih telah bertemu denganku, dan menjadi bagian dari kisahku. Aku merindukanmu selalu.
Kini kisah ini menjadi bagian dari alam. Berhembus lembut mengikuti arah angin dan menyelimuti setiap cinta. Terimakasih telah hidup dan pernah hadir dalam memoriku, memberi kesempatan untukku menulis tentang kalian. Memperkenalkan kisah ini kepadamu yang masih Allah rahasiakan dariku._Sufi PJJ

                                             


1 komentar: