Senin, 14 September 2015

Hidup itu perjuangan
Oleh Sufi Amalia

Aku menyukai sebuah kata bijak dari seorang yang luar biasa, beliau adalah Imam Syafi’i, begini katanya “Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya. Lapangkan jiwa dalam menerima segala keputusan tuhan. Jangan bersedih karena kejadian yang menyakitkan, sebab segala peristiwa di dunia ini tidak ada yang kekal. Jadilah dirimu sebagai manusia yang tangguh terhadap segala cobaan dan tantangan, agar keberhasilan menghampirimu kelak”. Aku mengingat kalimat ini yang selalu ayah sampaikan kepadaku. Aku menyukainya, sangat. Kalimat ini yang membantuku berdiri di atas keterpurukanku. Mungkin begitu juga dengan ayah, dan kedua adik lelakiku.

Lebaran tahun ini kosong, tanpa isi. Hambar, tanpa rasa. Aku benar-benar tak mengerti dengan situasi seperti ini. Ayah selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi aku tau, keluargaku tengah terpuruk. Dan ini bukanlah situasi yang dapat dikatakan “baik-baik saja”.
Berapa umurku saat itu? 18 tahun, dan aku dihadapkan dengan situasi yang sangat menyesakkan. Keluargaku, oh tidak entah ini keluarga macam apa aku tak mengerti. Bisakah ini disebut keluarga? dengan kata perceraian di dalamnya? tidak sobat. Aku ketakutan ketika Ibu berteriak dan meminta berpisah dari Ayah. Aku melihat kedua mata mereka memerah, dan sesaat kemudian, tubuh wanita yang biasa aku panggil Ibu menghilang dibalik pintu. Aku dan kedua adikku menangis. Aku tak bisa mengerti, hal ini sungguh mengerikan.
Hari ini, tepat satu tahun mereka berpisah. Ayah tampak lebih tua dari umurnya. Rambutnya memutih, dan keriput dimana-mana. Ayah berkata “suatu saat, ayah mungkin tak bisa lagi berdiri, duduk pun sulit. Tapi ayah berharap hal itu tidak akan datang, karena pasti akan merepotkanmu dan adik”mu”. Aku hanya bisa menangis dan tidur dipangkuannya. Berharap Ibu kembali bersama kami.
“Jika kebersamaan ada untuk sebuah perpisahan dan luka, untuk apa ada kebersamaan? Lebih baik kita hidup sendiri dan jauh dari luka. Mungkin itu lebih baik”. Ayah tersenyum dan membut keriput itu bersembunyi, karena malu. “kau tau? Kebersamaan ada untuk dipertahankan keberadaannya. Karena hidup adalah perjuangan. Dalam sebuah perjalanan pasti ada tikungan, tanjakan, dan turunan. Ada kalanya kita melewti jalan yang berbatu hidup. Dan saat ini kita ada dalam jalan berbatu, mungkin Ayah telah melukai Ibumu. kami butuh waktu untuk memahami situasi ini.” Aku berusaha untuk mengerti kalimat yang Ayah sampaikan, meski ini sungguh susah. Aku tak tau siapa yang harus aku salahkan atas kejadian ini.
Dan dari sini aku dapat mengetahui bahwa Ayahku adalah orang yang kuat. Meski aku tau ayah sempat kalah dari rasa marah. Karena kemarahan orang tuaku berpisah. Dengan adanya kejadian ini, aku belajar untuk hidup lebih kuat. Seperti sabda Rasulullah “Orang yang kuat bukanlah mereka yang dapat mengalahkan orang lain di medan perang, namun orang yang kuat adalah mereka yang bisa menahan amarahnya.” (HR. Abu Hurairah)
Kemarahan yang berlanjut hanya akan menghancurkan kita dan orang-orang terkasih disekitar kita. Aku bahagia telah mendapat satu pelajaran yang berharga, meski awalnya memang susah, namun mungkin ini yang terbaik untuk keluarga kami.
Karena jauh, rindu menumpuk tinggi, mengisi kembali toples-toples cinta yang sempat kosong tanpa warna. Ucapan syukur tak henti-henti ku sampaikan kepada_Nya. Karena_Nya kami dapat pelajaran berharga tentang apa itu kebersamaan, meski kami tak dapat kembali lagi ke masa itu. Pada suatu sore Ayah berkata kepada kami “Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmat yang Ia berikan.” Memang sangat mudah untuk mengucapkan kata Syukur, tapi dalam kenyataannya tak ada yang mudah. Inilah kehidupan. “Perjuangan yang besar, akan memberi hasil yang membahagiakan.” Kira-kira begitu ungkapannya.

Pada akhirnya kita tau siapa pemegang skenario hidup. Dialah sutradara kehidupan. Mari kita berjuang dan kembalikan semua kepada_NyaJJJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar