Hidup itu perjuangan
Oleh Sufi Amalia
Aku
menyukai sebuah kata bijak dari seorang yang luar biasa, beliau adalah Imam
Syafi’i, begini katanya “Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya.
Lapangkan jiwa dalam menerima segala keputusan tuhan. Jangan bersedih karena
kejadian yang menyakitkan, sebab segala peristiwa di dunia ini tidak ada yang
kekal. Jadilah dirimu sebagai manusia yang tangguh terhadap segala cobaan dan
tantangan, agar keberhasilan menghampirimu kelak”. Aku mengingat kalimat
ini yang selalu ayah sampaikan kepadaku. Aku menyukainya, sangat. Kalimat ini
yang membantuku berdiri di atas keterpurukanku. Mungkin begitu juga dengan ayah,
dan kedua adik lelakiku.
Lebaran
tahun ini kosong, tanpa isi. Hambar, tanpa rasa. Aku benar-benar tak mengerti
dengan situasi seperti ini. Ayah selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi aku tau, keluargaku tengah terpuruk. Dan ini bukanlah situasi yang dapat
dikatakan “baik-baik saja”.
Berapa
umurku saat itu? 18 tahun, dan aku dihadapkan dengan situasi yang sangat
menyesakkan. Keluargaku, oh tidak entah ini keluarga macam apa aku tak
mengerti. Bisakah ini disebut keluarga? dengan kata perceraian di dalamnya?
tidak sobat. Aku ketakutan ketika Ibu berteriak dan meminta berpisah dari Ayah.
Aku melihat kedua mata mereka memerah, dan sesaat kemudian, tubuh wanita yang
biasa aku panggil Ibu menghilang dibalik pintu. Aku dan kedua adikku menangis. Aku
tak bisa mengerti, hal ini sungguh mengerikan.
Hari
ini, tepat satu tahun mereka berpisah. Ayah tampak lebih tua dari umurnya.
Rambutnya memutih, dan keriput dimana-mana. Ayah berkata “suatu saat, ayah
mungkin tak bisa lagi berdiri, duduk pun sulit. Tapi ayah berharap hal itu
tidak akan datang, karena pasti akan merepotkanmu dan adik”mu”. Aku hanya
bisa menangis dan tidur dipangkuannya. Berharap Ibu kembali bersama kami.
“Jika
kebersamaan ada untuk sebuah perpisahan dan luka, untuk apa ada kebersamaan?
Lebih baik kita hidup sendiri dan jauh dari luka. Mungkin itu lebih baik”. Ayah tersenyum dan membut
keriput itu bersembunyi, karena malu. “kau tau? Kebersamaan ada untuk
dipertahankan keberadaannya. Karena hidup adalah perjuangan. Dalam sebuah
perjalanan pasti ada tikungan, tanjakan, dan turunan. Ada kalanya kita melewti
jalan yang berbatu hidup. Dan saat ini kita ada dalam jalan berbatu, mungkin
Ayah telah melukai Ibumu. kami butuh waktu untuk memahami situasi ini.” Aku
berusaha untuk mengerti kalimat yang Ayah sampaikan, meski ini sungguh susah. Aku
tak tau siapa yang harus aku salahkan atas kejadian ini.
Dan
dari sini aku dapat mengetahui bahwa Ayahku adalah orang yang kuat. Meski aku
tau ayah sempat kalah dari rasa marah. Karena kemarahan orang tuaku berpisah.
Dengan adanya kejadian ini, aku belajar untuk hidup lebih kuat. Seperti sabda
Rasulullah “Orang yang kuat bukanlah mereka yang dapat mengalahkan orang
lain di medan perang, namun orang yang kuat adalah mereka yang bisa menahan
amarahnya.” (HR. Abu Hurairah)
Kemarahan
yang berlanjut hanya akan menghancurkan kita dan orang-orang terkasih disekitar
kita. Aku bahagia telah mendapat satu pelajaran yang berharga, meski awalnya
memang susah, namun mungkin ini yang terbaik untuk keluarga kami.
Karena
jauh, rindu menumpuk tinggi, mengisi kembali toples-toples cinta yang sempat
kosong tanpa warna. Ucapan syukur tak henti-henti ku sampaikan kepada_Nya.
Karena_Nya kami dapat pelajaran berharga tentang apa itu kebersamaan, meski
kami tak dapat kembali lagi ke masa itu. Pada suatu sore Ayah berkata kepada
kami “Bersyukurlah, maka Allah akan menambah nikmat yang Ia berikan.”
Memang sangat mudah untuk mengucapkan kata Syukur, tapi dalam kenyataannya tak
ada yang mudah. Inilah kehidupan. “Perjuangan yang besar, akan memberi hasil
yang membahagiakan.” Kira-kira begitu ungkapannya.
Pada
akhirnya kita tau siapa pemegang skenario hidup. Dialah sutradara kehidupan. Mari
kita berjuang dan kembalikan semua kepada_NyaJJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar