KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Makalah
ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pekerjaan Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Dosen Pengampu : Lathiful Khuluq, Ph. D.
Disusun Oleh :
Sufi Amalia 14250023
Muhammad Tarmizi 14250037
Feni Rahmadhani 14250079
PROGRAM
STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam kesehariaanya manusia tidak akan
pernah lepas dari yang namanya kebudayaan, karena manusia pencipta dan pengguna
kebudayaan yang ada di sekitar mereka. Budaya akan terus
berkembang apabila manusia terus melestarikannya, dan akan mati ketika manusia
meninggalkannya. Sebuah kebudayaan tidak lahir bersamaan dengan kelahiran
manusia itu. Tapi kebudayaan ada ketika manusia mau mengusahakannya. Namun
terkadang tanpa disadari manusia bisa merusak atau bahkan
menghilangkan sebuah kebudayaan.
Jika di dunia ini sudah tidak ada lagi
kebudayaan, maka dipastikan sudah tidak ada lagi manusia di dunia. Karena
manusia tidak mungkin bisa hidaup tanpa kebudayaan itu. Dengan melestarikan
sebuah kebudayaan, maka kita sudah menyumbangkan sebuah kekuatan untuk
membangun peradaban yang lebih baik.
Melalui makalah ini kita akan mempelajari
ruang lingkup dari kebudayaan tersebut. Mulai dari pengertian, sifat
kebudayaan, unsur kebudayaan, sampai wujud dari sebuah kebudayaan.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kebudayaan?
2. Apa saja sifat-sifat dari kebudayaan?
3. Apa saja unsur-unsur kebudayaan?
4. Apa saja wudud
dari kebudayaan?
C.
Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah
menjawab beberapa hal yang ada di dalam kebudayaan, diantaranya ialah
pengertian, sifat, unsur-unsur serta wujud dari kebudayaan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari bahasa
sansekerta “Buddahyah” yaitu, bentuk jamak dari buddi yang artinya bidi dan akal. Ada juga yang
berpendapat bahwa pengertian kebudayaan adalah sebagai suatu perkembangan dari
kata majemuk yang berarti daya dari budi.[1]
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia,
kebudayaan adalah hasil kegiatan
dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan
adat istiadat. Definisi yang paling mutakhir dikemukakan oleh Marvin Harris (1999:
19), yaitu seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh
dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Selain itu juga ada
definisi yang dikemukakan oleh Parsudi Suparlan bahwa kebudayaan adalah
keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social, yang digunakan untuk
menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan untuk menciptakan
serta mendorong terwujudnya kelakuan. Ada pula konsep budaya yang paling awal
berasal dari E. B Tylor (J. Murry, 1871)
yang mengemukakan sebagai berikut:
“Kebudayaan
ialah suatu keseluruhan kompleks yang mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan
kesenian, kesusilaan, hukum adat istiadat, dan kemampuan lainnya, serta
kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakatnya”.
Kebudayaan bukanlah suatu yag dibawa bersama dengan
kelahiran, melainkan diperoleh dari proses belajar dari lingkungan baik
lingkungan alam maupun lingkungan social.[2]
B.
Sifat-sifat Kebudayaan
Kroeber (dalam anthropology, 1948) menganggap kebudayaan itu memilili
sifat-sifat yang “superorganik” yang bentuknya lebih dari individu atau
“organik”. Artinya kebudayaan dijalankan oleh semua orang, tetapi bentuknya tak
ditentukan oleh individu tertentu, misalnya bahasa akan mati apabila semua
bangsa memakai bahasa itu semuanya musnah karena bahasa itu akan diturunkan
dari satu generasi ke generasi lainnya sebagai “superorgank”.[3]
Ada lagi sifat-sifat budaya yang lain:
1. Etnosentris
Etnosentrisme cenderung memandang
rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur
budaya asing dengan budayanya sendiri.
2. Universal
Kebudayaan universal adalah
kebudayaan yang mencari jawab atas problematika masyarakat, bukan apologi
terhadap kesenian an-sich, tidak pula apriori terhadap politisasi massa.
Tetapi, lebih pada rasionalitas melihat dan menjangkau ke depan demi
perkembangan masyarakat majemuk Indonesia. Memang, kita tidak menafikan
karya-karya besar kesusasteraan yang memengaruhi masyarakat Eropa yang notabene
reading mainded. Tetapi untuk Indonesia, kebudayaan universal dituntut untuk
mengempaskan diri ke keranjang sampah masyarakatnya yang papa.
3. Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses
sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu
dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu
lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa
menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
4. Adaptif
Kebudayaan adalah suatu mekansime
yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasila mekanisme
bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang
besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.
5. Dinamis
(flexibel)
Kebudayaan itu tidak bersifat
statis, ia selalu berubah atau bersifat dinamis. Tanpa adanya “gangguan” dari
kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya waktu. Bila
tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu sendiri yang
akan memperkenalkan variasi -variasi baru dalam tingkah-laku yang akhirnya akan
menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian dari
kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan
kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat
kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi tersebut. Tiap masyarakat mempunyai suatu kebudayaan yang berbeda dari
kebudayaan masyarakat lain dan kebudayaan itu merupakan suatu kumpulan yang
berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama dan kebudayaan yang
bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu.
6. Integrative
(integrasi)
Integrasi adalah suatu keadaan di
mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap
kebudayaan msyoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan
mereka masing-masing.[4]
C.
Unsur-unsur Kebudayaan
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat,
mencakup konsep yang luas sehingga untuk kepentinga analisis, konsep budaya ini
perlu dipecah lagi ke dalam unsur-unsurnya. Unsur-unsur yang terbesar terjadi
karena pecahan tahapan pertama disebut unsur-unsur kebudayaan yang universal
dan merpakan unsur-unsur yang pasti bias didapat di semua kebudayaan di dunia,
baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil dan terpencil maupun dalam
masyarakat kota yang besar dan kompleks. Unsur-unsur
universal itu merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia, yaitu:
1.
Sistem religi dan upacara
keagamaan
Religi sebagai
dalam suatu kebudayaan sebenarnya telah mengalami pengayaan dan enkulturasi
dalam kebudayaan tersebut. Inteaksi yang terdapat dalam suatu religi ini
bersifat sacral, ada dua macam interaksi, diantaranya:
a.
Interaksi yang mengacu
kepada aktifitas yang dipercayai dapat menyertakan, mencakup atau sejalan
dengan kemauan dan hasrat Adikodrati.
b.
Interaksi yang mengacu
kepada kepercayaan bahwa perbuatan tersebut dapat memengaruhi Adikodrati untuk
memenuhi keinginan pelakunya (Spiro, 1977: 97-8). Manusia juga percaya kepada
kekuatan-kekuatan gaib lainnya yang lebih rendah dari keberadaan sang
Adikodrati, namun mereka membenci roh jahat dan kesengsaraan.[5]
2.
Sistem kemasyarakatan
Berupa sistem
kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan, dsb.
3.
Sistem pengetahuan
Sistem
pengetahuan sesungguhnya telah ada pada masa nenek moyang, sistem ini merupakan
sistem tradisional atau system pengetahuan pra-modern. Sistem ini memiliki
sifat non-scientific knowledge yang kebenaranya tidak dapat dibuktikan
atau diferifikasi melalui pengujian ilmiah. Pengetahuan tradisional di
sampaikan dengan lisan dan disertai contoh tindakan.[6]
4.
Bahasa (lisan maupun
tulisan)
Bahasa adalah
salah satu kemampuan alamiyah yang dianugerahkan kepada umat manusia. Begitu
sederhana sampai manusia tidak menyadari karena adanya bahasa ini kita mengenal
peradaban yang di dalamya ada agama, ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah
bahasa yang mengantarkan manusia mengenal dunia multidimensi.[7]
5.
Kesenian
Seni rupa, seni suara, seni
gerak, dsb.
6.
Sistem mata pencaharian
hidup
Sistem mata uang,
penanaman padi, pengairan, peternakan, sistem distribusi, sistem produksi.
7.
Sistem teknologi dan
peralatan
Pengolahan logam,
pelayaran, perbintangan.
Disamping itu, Bronislaw Malinowski yang seorang antropolog menyebut
unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:
1.
Sistem norma yang
memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai
alam sekelilingnya.
2.
Organisasi ekonomi
3.
Alat-alat atau lembaga atau
petugas pendidikan. Perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan
yang utama.
4.
Organisasi kekuatan[8]
D.
Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga:
gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.
Gagasan (Wujud
ideal)
Wujud ideal
kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak
dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala
atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan
gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu
berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat
tersebut.
2.
Aktivitas
(tindakan)
Aktivitas
adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi,
mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola
tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam
kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.
Artefak (karya)
Artefak adalah
wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga
wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan
kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa
dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan
ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak)
manusia.
Berdasarkan
wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
a. Kebudayaan material
Kebudayaan
material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk
dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu
penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat
terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b.
Kebudayaan
nonmaterial
Kebudayaan
nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian
tradisional.[9]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Manusia terlahir ke dunia ini tidak
langsung membawa kebudayaan bersamanya. Namun kebudayaan ada mengikuti
perkembangan yang dialami manusia dari lahir sampai dia tumbuh besar. Itu
berarti kehidupan dari kebudayaan yang dimiliki manusia juga akan punah seiring
dengan berhentinya hidup manusia. Oleh karena itu sebelum budaya di sekitar
kita benar-benar hilang dan tak bisa di kembalikan lagi, mari kita menjaga dan
mengembangkannya.
B. Saran
Kami sebagai penulis sangat menyadari bahwa materi yang kami
buat ini masih banyak kekurangan. Jadi untuk itu kami meminta kepada
saudara-saudari semuanya untuk memberikan saran, kritikan, dan hal-hal lainnya
yang bisa membangun untuk menuju kepada yang lebih baik. Agar pembuatan makalah
berikutnya lebih baik lagi, dan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
orang yang membacanya.
DAFTAR PUSTAKA
Achadiati Ikram, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Bahasa, Sastra
dan Aksara)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Agus Aris Munandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Religi dan
Falsafah)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Friska Berliana Pakpahan, “Fungsi Komunikasi Antar Budaya Dalam dalam
Prosesi Pernikahan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi kasus Empat Pasangan
Berbeda Etnis antara Entis Batak dan Etnis Jawa, Toraja dan Dayak)”, 1 (3)
2013: 237.
http://e-journal.uajy.ac.id/2374/3/2TA12077.pdf. diakses pada 05 maret 2016.
http://ezyzurriyati.blogspot.co.id/2014/03/definisi-sifat-dan-fungsikebudayaan.html. diakses pada 07 maret 20.
Mohammad Iskandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Sistem
Pengetahuan)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Ranjabar, Jacobus, “Sistem Sosal Budaya Indonesia: Suatu Pengantar” Bandung:
Alfabeta, 2013.
[1]
Friska Berliana Pakpahan, “Fungsi Komunikasi Antar
Budaya Dalam dalam Prosesi Pernikahan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi kasus
Empat Pasangan Berbeda Etnis antara Entis Batak dan Etnis Jawa, Toraja dan
Dayak)”, 1 (3) 2013: 237.
[2]
Ranjabar, Jacobus, “Sistem
Sosal Budaya Indonesia: Suatu Pengantar” (Bandung: Alfabeta, 2013), hal.
155.
[4]
http://ezyzurriyati.blogspot.co.id/2014/03/definisi-sifat-dan-fungsikebudayaan.html. diakses pada 07 maret 2016.
[5]
Agus Aris Munandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan
Indonesia (Religi dan Falsafah)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009,
hlm. 2-3.
[6]
Mohammad Iskandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan
Indonesia (Sistem Pengetahuan)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009,
hlm. 8.
[7]
Achadiati Ikram, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia
(Bahasa, Sastra dan Aksara)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009, hlm.
1.
[8]
Ranjabar, Jacobus, Sistem
Sosial…hal. 29-30.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar