Senin, 21 Maret 2016

KEBUDAYAAN DI INDONESIA

KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pekerjaan Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Dosen Pengampu : Lathiful Khuluq, Ph. D.



 

Disusun Oleh :
Sufi Amalia                              14250023
Muhammad Tarmizi                14250037
Feni Rahmadhani                     14250079

PROGRAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam kesehariaanya manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya kebudayaan, karena manusia pencipta dan pengguna kebudayaan yang ada di sekitar mereka. Budaya akan terus berkembang apabila manusia terus melestarikannya, dan akan mati ketika manusia meninggalkannya. Sebuah kebudayaan tidak lahir bersamaan dengan kelahiran manusia itu. Tapi kebudayaan ada ketika manusia mau mengusahakannya. Namun terkadang tanpa disadari manusia bisa merusak atau bahkan menghilangkan sebuah kebudayaan.
Jika di dunia ini sudah tidak ada lagi kebudayaan, maka dipastikan sudah tidak ada lagi manusia di dunia. Karena manusia tidak mungkin bisa hidaup tanpa kebudayaan itu. Dengan melestarikan sebuah kebudayaan, maka kita sudah menyumbangkan sebuah kekuatan untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Melalui makalah ini kita akan mempelajari ruang lingkup dari kebudayaan tersebut. Mulai dari pengertian, sifat kebudayaan, unsur kebudayaan, sampai wujud dari sebuah kebudayaan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian kebudayaan?
2.      Apa saja sifat-sifat dari kebudayaan?
3.      Apa saja unsur-unsur kebudayaan?
4.      Apa saja wudud dari kebudayaan?

C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah menjawab beberapa hal yang ada di dalam kebudayaan, diantaranya ialah pengertian, sifat, unsur-unsur serta wujud dari kebudayaan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “Buddahyah” yaitu, bentuk jamak dari buddi  yang artinya bidi dan akal. Ada juga yang berpendapat bahwa pengertian kebudayaan adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk yang berarti daya dari budi.[1] Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Definisi yang paling mutakhir dikemukakan oleh Marvin Harris (1999: 19), yaitu seluruh aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku. Selain itu juga ada definisi yang dikemukakan oleh Parsudi Suparlan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk social, yang digunakan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang dihadapi, dan untuk menciptakan serta mendorong terwujudnya kelakuan. Ada pula konsep budaya yang paling awal berasal dari E. B  Tylor (J. Murry, 1871) yang mengemukakan sebagai berikut:
“Kebudayaan ialah suatu keseluruhan kompleks yang mengandung ilmu pengetahuan, kepercayaan kesenian, kesusilaan, hukum adat istiadat, dan kemampuan lainnya, serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakatnya”.
Kebudayaan bukanlah suatu yag dibawa bersama dengan kelahiran, melainkan diperoleh dari proses belajar dari lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan social.[2]
B.     Sifat-sifat Kebudayaan
Kroeber (dalam anthropology, 1948) menganggap kebudayaan itu memilili sifat-sifat yang “superorganik” yang bentuknya lebih dari individu atau “organik”. Artinya kebudayaan dijalankan oleh semua orang, tetapi bentuknya tak ditentukan oleh individu tertentu, misalnya bahasa akan mati apabila semua bangsa memakai bahasa itu semuanya musnah karena bahasa itu akan diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya sebagai “superorgank”.[3]
Ada lagi sifat-sifat budaya yang lain:
1.      Etnosentris
Etnosentrisme cenderung memandang rendah orang-orang yang dianggap asing, etnosentrisme memandang dan mengukur budaya asing dengan budayanya sendiri.
2.      Universal
Kebudayaan universal adalah kebudayaan yang mencari jawab atas problematika masyarakat, bukan apologi terhadap kesenian an-sich, tidak pula apriori terhadap politisasi massa. Tetapi, lebih pada rasionalitas melihat dan menjangkau ke depan demi perkembangan masyarakat majemuk Indonesia. Memang, kita tidak menafikan karya-karya besar kesusasteraan yang memengaruhi masyarakat Eropa yang notabene reading mainded. Tetapi untuk Indonesia, kebudayaan universal dituntut untuk mengempaskan diri ke keranjang sampah masyarakatnya yang papa.
3.      Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
4.      Adaptif
Kebudayaan adalah suatu mekansime yang dapat menyesuaikan diri. Kebudayaan adalah sebuah keberhasila mekanisme bagi spesis manusia. Kebudayaan memberikan kita sebuah keuntungan selektif yang besar dalam kompetisi bertahan hidup terhadap bentuk kehidupan yang lain.
5.      Dinamis (flexibel)
Kebudayaan itu tidak bersifat statis, ia selalu berubah atau bersifat dinamis. Tanpa adanya “gangguan” dari kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya waktu. Bila tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu sendiri yang akan memperkenalkan variasi -variasi baru dalam tingkah-laku yang akhirnya akan menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian dari kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi tersebut. Tiap masyarakat mempunyai suatu kebudayaan yang berbeda dari kebudayaan masyarakat lain dan kebudayaan itu merupakan suatu kumpulan yang berintegrasi dari cara-cara berlaku yang dimiliki bersama dan kebudayaan yang bersangkutan secara unik mencapai penyesuaian kepada lingkungan tertentu.
6.      Integrative (integrasi)
Integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan msyoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing.[4]
C.    Unsur-unsur Kebudayaan
Kebudayaan menurut Koentjaraningrat, mencakup konsep yang luas sehingga untuk kepentinga analisis, konsep budaya ini perlu dipecah lagi ke dalam unsur-unsurnya. Unsur-unsur yang terbesar terjadi karena pecahan tahapan pertama disebut unsur-unsur kebudayaan yang universal dan merpakan unsur-unsur yang pasti bias didapat di semua kebudayaan di dunia, baik yang hidup dalam masyarakat pedesaan yang kecil dan terpencil maupun dalam masyarakat kota yang besar dan kompleks. Unsur-unsur universal itu merupakan isi dari semua kebudayaan yang ada di dunia, yaitu:
1.      Sistem religi dan upacara keagamaan
Religi sebagai dalam suatu kebudayaan sebenarnya telah mengalami pengayaan dan enkulturasi dalam kebudayaan tersebut. Inteaksi yang terdapat dalam suatu religi ini bersifat sacral, ada dua macam interaksi, diantaranya:
a.       Interaksi yang mengacu kepada aktifitas yang dipercayai dapat menyertakan, mencakup atau sejalan dengan kemauan dan hasrat Adikodrati.
b.      Interaksi yang mengacu kepada kepercayaan bahwa perbuatan tersebut dapat memengaruhi Adikodrati untuk memenuhi keinginan pelakunya (Spiro, 1977: 97-8). Manusia juga percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib lainnya yang lebih rendah dari keberadaan sang Adikodrati, namun mereka membenci roh jahat dan kesengsaraan.[5]
2.      Sistem kemasyarakatan
Berupa sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan, dsb.
3.      Sistem pengetahuan
Sistem pengetahuan sesungguhnya telah ada pada masa nenek moyang, sistem ini merupakan sistem tradisional atau system pengetahuan pra-modern. Sistem ini memiliki sifat non-scientific knowledge yang kebenaranya tidak dapat dibuktikan atau diferifikasi melalui pengujian ilmiah. Pengetahuan tradisional di sampaikan dengan lisan dan disertai contoh tindakan.[6]
4.      Bahasa (lisan maupun tulisan)
Bahasa adalah salah satu kemampuan alamiyah yang dianugerahkan kepada umat manusia. Begitu sederhana sampai manusia tidak menyadari karena adanya bahasa ini kita mengenal peradaban yang di dalamya ada agama, ilmu pengetahuan dan teknologi. Inilah bahasa yang mengantarkan manusia mengenal dunia multidimensi.[7]
5.      Kesenian
Seni rupa, seni suara, seni gerak, dsb.
6.      Sistem mata pencaharian hidup
Sistem mata uang, penanaman padi, pengairan, peternakan, sistem distribusi, sistem produksi.
7.      Sistem teknologi dan peralatan
Pengolahan logam, pelayaran, perbintangan.
Disamping itu, Bronislaw Malinowski yang seorang antropolog menyebut unsur-unsur pokok kebudayaan sebagai berikut:
1.      Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat di dalam upaya menguasai alam sekelilingnya.
2.      Organisasi ekonomi
3.      Alat-alat atau lembaga atau petugas pendidikan. Perlu diingat bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang utama.
4.      Organisasi kekuatan[8]
D.    Wujud Kebudayaan
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.
1.      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2.      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3.      Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
a.       Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
b.      Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.[9]







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Manusia terlahir ke dunia ini tidak langsung membawa kebudayaan bersamanya. Namun kebudayaan ada mengikuti perkembangan yang dialami manusia dari lahir sampai dia tumbuh besar. Itu berarti kehidupan dari kebudayaan yang dimiliki manusia juga akan punah seiring dengan berhentinya hidup manusia. Oleh karena itu sebelum budaya di sekitar kita benar-benar hilang dan tak bisa di kembalikan lagi, mari kita menjaga dan mengembangkannya.
B.     Saran
Kami sebagai penulis sangat menyadari bahwa materi yang kami buat ini masih banyak kekurangan. Jadi untuk itu kami  meminta kepada saudara-saudari semuanya untuk memberikan saran, kritikan, dan hal-hal lainnya yang bisa membangun untuk menuju kepada yang lebih baik. Agar pembuatan makalah berikutnya lebih baik lagi, dan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan orang yang membacanya.











DAFTAR PUSTAKA

Achadiati Ikram, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Bahasa, Sastra dan Aksara)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Agus Aris Munandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Religi dan Falsafah)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Friska Berliana Pakpahan, “Fungsi Komunikasi Antar Budaya Dalam dalam Prosesi Pernikahan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi kasus Empat Pasangan Berbeda Etnis antara Entis Batak dan Etnis Jawa, Toraja dan Dayak)”, 1 (3) 2013: 237.
Mohammad Iskandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Sistem Pengetahuan)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009
Ranjabar, Jacobus, “Sistem Sosal Budaya Indonesia: Suatu Pengantar” Bandung: Alfabeta, 2013.
















[1]               Friska Berliana Pakpahan, “Fungsi Komunikasi Antar Budaya Dalam dalam Prosesi Pernikahan Adat Batak di Kota Samarinda (Studi kasus Empat Pasangan Berbeda Etnis antara Entis Batak dan Etnis Jawa, Toraja dan Dayak)”, 1 (3) 2013: 237.
[2] Ranjabar, Jacobus, “Sistem Sosal Budaya Indonesia: Suatu Pengantar” (Bandung: Alfabeta, 2013), hal. 155.
[3] Ibid, hal  155-156.
[4]               http://ezyzurriyati.blogspot.co.id/2014/03/definisi-sifat-dan-fungsikebudayaan.html. diakses pada 07 maret 2016.
[5]               Agus Aris Munandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Religi dan Falsafah)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009, hlm. 2-3.
[6]               Mohammad Iskandar, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Sistem Pengetahuan)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009, hlm. 8.
[7]               Achadiati Ikram, dkk. “Sejarah Kebudayaan Indonesia (Bahasa, Sastra dan Aksara)”, Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada, 2009, hlm. 1.
[8] Ranjabar, Jacobus, Sistem Sosial…hal. 29-30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar