Aku akan
Tua
Oleh Sufi
Amalia
Seperti
matahari yang akan tenggelam. Bintang yang menghilang saat fajar menyingsing.
Kayu yang akan lapuk dan akhirnya patah. Besi yang berkarat. Aku seperti itu
dan tak abadi. Aku akan meninggalkanmu, dan membuatmu sendirian tanpa aku. Kau
akan sendiri seperti bintang malam saat bulan bersembunyi dibalik awan.
Saat
semua berubah mukinkah kau akan tetap di sini dan bersamaku?. Mataku tak akan
bisa melihatmu, telingaku tak bisa mendengar tenangnya suaramu, lidahku tak
bisa merasakan lagi gurihnya masakanmu, hidungku tak bisa lagi mencium bau
wangi dari arah dapur, Tanganku tak bisa lagi menjagamu, dan memelukmu. Kakiku
tak bisa lagi berjalan mendekatimu. Semua akan beruabah. Tak lagi semanis
seperti awal pertemuan kita.
Mengingatmu
di bawah langit senja membuatku nyaman. Meski kau tak bisa lagi duduk
bersamaku. Aku merindukanmu. Sungguh. Teringat saat senja menghantar langkahku
kepadamu. Bersih wajahmu meluluhkanku. Semua janji tentang masa depan kau
berikan kepadaku. Kau berjanji menuntunku menuju taman surga. Terimakasih untuk
senja yang telah mempertemukan kesederhanaan cinta kami. Maaf karena aku tak
sempurna. Maaf karena masakanku terlalu Asin, bahkan kau tak pernah mengeluh,
meski sudah ku paksa. Haruskah aku tersenyum sendiri mengingatmu? Hari ini aku memasak
sayur Asem dan Balado Teri. Aku ingat ini masakan kesukaanmu. Aku membuatnya
karena aku sungguh merindukanmu.
Senja...aku
ingat saat aku pulang dan menemukan gadis tua itu duduk di kursi lapuk menunggu
tubuh renta ini. Tak pernah sekalipun aku melihat cemberut wajah tuanya. Meski
waktu telah membuatnya tampak kurus kering tapi dia tetap cantik. Dia wanitaku.
Terimakasih telah hidup menemaniku. Aku teringat sayur Asem dan Balado Teri
buatannya. Aku tau rasanya Keasinan, namun semua berubah manis karena senyuman
tua itu. Aku tak bisa melihatnya kecewa. Aku ingin tetap seperti ini, duduk
dengannya menunggu waktu berlalu. Namun aku takut senja... aku takut jika suatu
saat dia akan kesepian tanpaku. Aku teringat saat tubuh tua dan kotor ini dia
bersihkan. Aku mengingat nasehatnya saat aku merokok. Dan saat itu aku berjanji
tak akan membuatnya takut karena rokok.
Senja...aku
takut membuatnya marah karena rokok. Aku hanya ingin dia sehat, dan terus
bersamaku. Aku tak ingin banyak hal darinya, aku hanya ingin dia sehat. Cukup
hanya itu.
Senja itu,
dia memegang tanganku dan berkata “kenapa tanganmu kasar sekali?” aku
hanya terdiam. “Ma’af... karena aku membiarkan kedua telapak tanganmu
bekerja keras.” Dia menangis, dan berbaring dipangkuanku. “kelak saat
tangku ditanya dia akan menjawab bahwa tangan ini telah bersusah payah mencuci,
memasak untukmu.” Terimakasih telah
memilih wanita bodoh sepertiku untuk bersanding denganmu. Maaf atas
kekuranganku. Maaf, karena tak ada lengkingan kecil memanggilmu “Ayah”. Maaf
karena hanya aku yang berbaring disampingmu.
Teringat
saat butiran bening itu memenuhi mata teduhnya. Dia memintaku untuk pergi,
namun sungguh aku tak bisa. Aku hidup untuk melengkapinya. Tak ada yang lain.
Cukup hanya dia dan aku saja untuk melukis kisah kami diatas langit senja.
Terimaksih telah bertemu denganku, dan menjadi bagian dari kisahku. Aku
merindukanmu selalu.
Kini
kisah ini menjadi bagian dari alam. Berhembus lembut mengikuti arah angin dan
menyelimuti setiap cinta. Terimakasih telah hidup dan pernah hadir dalam
memoriku, memberi kesempatan untukku menulis tentang kalian. Memperkenalkan
kisah ini kepadamu yang masih Allah rahasiakan dariku._Sufi PJJ

bagus mbakk,, ejaannya tingga dirapiin aja,, hehe
BalasHapus