Senin, 21 Maret 2016

RUANG LINGKUP SKIZOFRENIA

RUANG LINGKUP SKIZOFRENIA
Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Kesehatan Mental
Dosen Pengampu : Andayani

 Description: logo-uin-suka-baru-warna.jpg

Disusun Oleh :
Sufi Amalia                              14250023


PROGRAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015



























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Skizofrenia
            Skizofrenia adalah sindrom klinik yang bervariasi, sangat mengganggu, dengan psikopatologi yang terentang dari disfungsi kognitif, gangguan proses pikir, gangguan emosi, gangguan persepsi, dan gangguan perilaku. Pasien skizofrenia umumnya mengalami hendaya nyata taraf kemampuan fungsionalnya sehari-hari sehingga cenderung memerlukan bantuan dan pertolongan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada pihak lain, khususnya kepada pihak keluarga atau relasi yang peduli terhadapnya (Sadock dan Sadock, 2007; Tenhula et al., 2009).[1]

B.     Ciri-ciri Gangguan
1.      Gangguan isi pikiran dan pembicaraan
a.       Gangguan isi pikiran
Gangguan yang paling nyata pada isi pikiran mencakup waham, atau keyakinan yang salah yanng menetap pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak adanya bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Ada macam-macam waham, seperti:
1)      Waham persekusi (misalnya, “merasa dikejar-kejar oleh Mafia, FBI,CIA”)
2)      Waham reverensi (“Orang-orang di bis sedang membicarakan saya” atau “Orang-orang di TV menjadikan saya sebagai lelucon”)
3)      Waham dikendalikan (“meyakini bahwa pikiran, perasaan, implus-implus, atau tindakannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, seperti suruhan setan”)
4)      Waham kebebasan (“meyakini bahwa dirinya sebagai yesus atau meyakini drinya sedang dalam misi khusus, atau memiliki rencana yang hebat namun tidak logis untuk menyelamatkan dunia”)
b.      Gangguan pembicaraan
            Bentuk pembicaraan orang yang mengalami skizofrenia seringkali tidak teratur atau kacau, dengan bagian-bagian kata dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai bersama untuk membuat rima-rima yang tidak bermakna. Pembicaraan mereka juga dapat melompat dari satu topik ke topik lainnya, namun kurang menunjukkan keterkaitan antara ide atau pikiran-pikiran yang diekspresikan. Mereka juga tidak meyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tampak tidak normal. Adapun tanda-tanda kurang umum meliputi:
a.       Neologisme (kata-kata yang dibuat oleh pembicara yang kurang atau tidak memiliki arti bagi oranng lain).
b.      Perseverasi (pengulangan yang tidak sesuai namun menetap pada kata-kata yang sama, atau rentetan pikiran).
c.       Clanging (merangkaikan secara bersama kata-kata atau bunyi-bunyi berdasarkan rima. Misalnya “saya tau siapa saya tapi saya tidak tahu dia”).
d.      Blocking (tanpa di-kehendaki dan secara tiba-tiba pembicaraan atau pikiran terputus).
2.      Kekurangan dalam pemusatan perhatian
            Kesulitan memberikan perhatian pada stimulus yang relevan dan menyaring keluar stimulus yang tidak relevan.
3.      Gangguan gerakan mata
          Gerakan mata pada seseorang yang terkena skizofrenia tampak tidak normal, saat menelusuri sebuah target yang bergerak melintasi lapangan. Mata tidak terlihat fokus memperhatikan target, malah berbalik dan kemudian mengejarnya dalam gerakan yang menyentak.
4.      Gangguan persepsi
Bentuk yang paling umum pada gangguan persepsi ini ialah halusinasi. Halusinasi merupakan gambaran yang dipersepsi tanpa adanya stimulus dari lingkungan. Dan sangat sulit dibedakan dengan kenyataan. Halusinasi dapat melibatkan setiap indra:
a.    Halusinasi auditoris (mendengar suara-suara).
b.    Halusinasi taktil (seperti digelitik, sensasi listrik atau terbakar).
c.    Halusinasi somatis (seperti merasa ada ular yang menjalar di dalam perut).
d.   Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada).
e.    Halusinasi gustatoris (merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak ada).
f.     Halusinasi olfaktoris (mencium bau yang tidak ada).


5.      Beberapa jenis hendaya lainnya
a.       Kebingungan akan identitas pribadi
b.      Hilangnya keinginan
c.       Perilaku yang sangat bersemangat atau kondisi stupor
d.      Gerakan tubuh yang ganjil atau ekspresi wajah yang aneh
e.       Hendaya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain[2]

C.    Jenis-Jenis Skizofrenia

1)      Skizofrenia yang tidak Teratur
          Skizofrenia ini sebelumnya disebut skizofrenia hebrefenik. Pada skizofrenia ini mempunyai ciri tingkah laku bodoh, ketidakpaduan anatara pikiran, bicara,  dan tindakan, sifat kekanak-kanakan. Orang yang menderita gangguan ini akan menarik diri secara ekstrem. Penderita tidak lagi tertarik pada dunia di sekitarnya, dan ia hampir sepenuhnya hidup di dalam dirinya sendiri. Ledakan-ledakan emosi seperti manangis dan tertawa, yang dialami penderita bukan akibat stimulus-stimulus dari luar, tetapi stimulus-stimulus yang berasal dari dunia khayalan tempat ia hidup. Penderita  biasanya tertawa terkikih-kikih seperti anak kecil. Ciri dan tingkah lakunya aneh, ia berbicara dan membuat gerak-gerik isyarat terhadap dirinya sendiri, berselang–seling antara menangis dan tertawa. Pada penderita tipe ini mengalami banyak halusinasi, seperti mendengar suara-suara yang mengatakan kepadanya hal-hal yang menyenangkan tetapi juga mencaci makinya. Pada tipe  skizofrenia ini dapat digambarkan sebagai orang yang dilanda sress kehidupan sehingga ia mundur ke tahap penyesuaian diri kanak-kanak. Regresi ini mungkin begitu ekstrim sehingga penderita bertingkah laku seperti bayi.
2)      Skizofrenia Katatonik
          Dalam reaksi katatonik, penderita berubah-ubah sikap antara keadaan stupor ( seperti terbius) dan keadaan gempar seperti meledak-ledak. Dalam keadaan stupor penderita kehilangan segala semangat, tetapi tidak bergerak selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan pada kejadian-kejadian tertentu bisa lebih lama lagi. Ia tidak makan dan tidak menunjukkan usaha untuk mengendalikan buang air besar atau buang air kecil. Pada skizofrenia jenis ini ia memepunyai reaksi yang khas, hal ini dapat di contohkan ketika  ia terlihat stupor (terbius), ia bisa mengetahui semua yang terjadi di sekitarnya dan kadang-kadang dapat memberikan bukti yang jelas atas apa yang diketahuinya. Penderita mudah dipengaruhi dan akan menirukan tingkah laku (apa yang dibuat) orang lain (ekopraksia) atau mengulangi secara mekanik kata-kata orang lain dan menjalankan perintah orang lain.
          Ketika dalam keadaan stupor penderita selalu berhalusinasi dan delusi. Halusinasi dan delusi mungkin melibatkan penderita dalam suatu konflik yang bersifat kosmis (misalnya kekuatan baik dan jahat mungkin pada saat itu penderita mengalami bertempur mati-matian di dalam dirinya. Selain itu, penderita juga mengalami delusi kemegahan dan merasa dikejar-kejar. Katatonia berkembang dari konflik dan represi yang berat. Kata-kata yang serimg diulang-ulang oleh penderita dan kelihatannya sama sekali tidak masuk akal bagi yang mendengarkannya tetapi bagi penderita sangat masuk akal.
3)      Skizofrenia Paranoid
          Ciri khas penderita paranoid adalah murung, mudah tersinggung dan curiga. Individu yang mengembangkan skizofrenia adalah orang yang sangat ambisius yang menetapkan cita-cita yang tidak mungkin dapat diraih dan kemudian menyalahkan orang lain atas kegagalannya dalam mencapai cita-cita itu (kebutuhan akan prestasi dan status), maka ia menyesuaikan diri dengan menyakinkan dirinya sendiri bahwa orang lainlah yang berusaha mencegahnya meraih sukses. Apabila penyakit berjalan terus, ia tidak dapat meneruskan pekerjaannya dan hidupnya menjadi tidak teratur.Penderita paranoid sebaiknya dirawat di rumah sakit, tetaoi ni sering kali sulit untuk dilaksanakan karena penyakitnya berubah-ubah dan penderita sendiri tidak mau dirawat. Gangguan psikotik yang parah mungkin suatau saat kelihatannya sembuh dan ia bisa bergaul dengan orang lain sehingga orang tidak bisa sungguh-sungguh menyelami penyakitnya.
4)      Skizofrenia Residual
Orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia residual adalah orang-orang yang sekurang-kurangnya memiliki riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau dan sekarang memperlihatkan beberapa tanda skizofrenia, seperti emosi yang tumpul, menarik diri dari orang-orang lain (masyarakat),bertingkah laku eksentrik atau mengalami gangguan pikiran, tetapi simton-simton ini pada umumnya tidak begitu kuat. Untuk mendiagnosis sebagai skizofrenia residual harus memenuhi semua persyaratan diantaranya adalah :
1.      Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya psikomotorik lambat, aktivitas menurun, afek yang menumpul,sikap pasif dan tidak ada yang inisiatif serta komunikasi non verbal yang buruk.
2.      Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
3.      Sudah melampaui kurun waktu satu tahun di mana intensitas dan frekuensi gejala yang   nyata seperti waham (keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata, serta dibangun atas unsur-unsur yang dan halusinasi sangat berkurang (minimal) dan timbul sindrom negatif dari skizofrenia
4.        Tidak terdapat penyakit atau gangguan otak organik yang lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif (Maslim, 1998)
5)      Skizofrenia yang Tidak Terperinci
Skizofrenia yang tidak terperinci merupakan kategori keranjang sampah di mana individu yang mengalam skizofrenia tipe ini tidak memiliki salah satu atau lebih dari semua tipe skizofrenia yang dikemukakan. Menurut pendapat Muslim,skizofrenia yang tidak terperinci tidak memenuhi kriteria umum untuk diagnosis, tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, katatonik, atau tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia (Maslim, 1998)[3]

D.    Penyebab terjadinya Skizofrenia
1.            Prespektif Psikodinamika
            Skizofrenia mencerminkan ego yang dibanjirinya oleh dorongan-dorongan seksual primitif atau agresif atau implus-implus yang berasal dari id. Implus-implus tersebut mengancam ego dan berkembang menjadi konflik intrapsikis yang kuat. Di bawah ancaman seperti itu, orang tersebut mundur ke periode awal dari tahapan oral, yang disebut sebagai narsisme primer. Pada periode ini, bayi belum belajar bahwa dunia dan dirinya adalah hal yang berbeda. Karena ego menjembatani hubungan antara diri dengan dunia luar, kerusakan pada fungsi ego ini berpengaruh terhadap adanya jarak terhadap realitas yang khas skizofrenia. Masukan dari id menyebabkan fantasi menjadi disalahartikan sebagai realitas, menyebabkan halusinasi dan waham. Implus-implus primitif mungkin juga membawa beban yang lebih berat daripada norma-norma sosial dan diekspresikan pada perilaku yang aneh, dan tidak sesuai secara sosial.[4]
   Salah satu pengikut Freud, Sullivan (1962) meneliti masalah skizofrenia, menekankan pentingnya hubungan ibu dan anak yang terganggu, dan mengemukakan argumentasi bahwa hal tersebut dapat menetapkan tahapan untuk penarikan diri secara perlahan-lahan dari orang lain. Permusuhan antara anak dan orang tua membawa anak untuk mencari perlindungan pada dunia fantasi yang bersifat pribadi. Semakin anak menarik diri, semakin berkurang kesempatan yang ada untuk membangun kepercayaan pada orang lain dan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk membangun keintiman. Kemudian ikatan yang lemah antara anak dan orang lain mendorong kecemasan sosial dan penarikan diri yang lebih jauh. Siklus ini berlanjut sampai masa dewasa muda.
Kemudian, dihadapkan dengan meningkatnya tuntutan di sekolah atau pekerjaan dan dalam hubungan intim, orang tersebut menjadi semakin dibanjiri dengan kecemasan dan menarik diri sepenuhnya ke dunia fantasi          Dengan kata lain dalam hal ini skizofrenia disebabkan karena adanya permasalahan keluarga. Sehingga salah satu anggota keluarganya menarik diri dari orang-orang sekitar dan lebih asyik dengan dunia fantasinya sendiri. Ditandai dengan kecemasan dan tidak percaya terhadap orang lain yang semakin membuat dirinya menarik diri dan masuk ke dunia fantasi.[5]
2. Prespektif Biologis
   Faktor biologis dalam hal ini memerankan peranan penting. Karena banyak kasus skizofrenia disebabkan oleh faktor biologis dari keluarga.
a.       Faktor Genetis
   Skizofrenia, sebagaimana banyak gangguan lainnya, cenderung menurun dalam keluarga (Erlenmeyer-Kimling dkk., 1997). Secara keseluruhan, keluarga tingkat pertama dari orang-orang yang mengalami skizofrenia (orang tua atau saudara kandung) memiliki sekitar sepuluh kali (APA, 2000; Kendler & Diehl, 1993). [6]
   Dukungan lebih jauh terhadap hubungan genetis menyatakan, semakin dekat hubungan genetis antara orang yang di diagnosis skizofrenia dan anggota keluarga mereka, semakin besar kecenderungan (atau concordance rate) mengidap skizofrenia pada keluarga mereka (Gottesman, 2001).  Hubungan genetis dengan orang yang mengalami skizofrenia tampaknya merupakan faktor risiko yang paling nyata untuk perkembangan gangguan.[7]
b.      Faktor Biokimia
   Penelitian biologis kontemporer tentang skizofrenia difokuskan pada peranan neurotransmiter dopmain. Teori dopmain beranggapan bahwa skizofrenia melibatkan terlalu aktifnya reseptor dopamain di otak-reseptor yang terletak di neuron pascasinaptik dimana molekul dopamain terikat (Haber & Fudge, 1997).[8] 
   Model dopamin ditemukan pada efek obat-obatan anti psikotik yang disebut neuroleptik. Neuroleptik berasal dari obat-obatan yang disebut phenothiazines, seperti Thorazine, Mellarile, dan Prolixine. Dengan neuroleptik menghambat meningkatnya perilaku skizofrenia.
   Untuk bukti yang mendukung peranan dopamin pada skizofrenia didasarkan pada kerja amfetamin, suatu kelompok obat-obat stimulan. Apabila diberikan dalam dosis yang besar kepada orang normal, obat-obatan tersebut dapat menyebabkan perilaku skizofrenia menyerupai skizofrenia paranoid.[9]
3. Teori Keluarga
   Faktor penyebab stres pada keluarga yang mungkin berinteraksi degan kerentanan genetis dalam menyebabkan berkembangnya skizofrenia. Dua sumberutama dari stres keluarga yang telah dipelajari adalah pola-pola komunikasi yang menyimpang dan ekspresi emodi yang negatif dalam keluarga.[10]
a.         Penyimpangan dalam komunikasi (communication deviance-CD)
   Adalah pola komunikasi yang tidak jelas, samar-samar, terganggu, atau terpecah-pecah, yang sering ditemukan pada orang tua dan anggota keluarga dari pasien skizofrenia. CD ditandai dengan pembicaraan yang sulit untuk diikuti dan sulit ditangkap intinya (Wahlberg dkk, 2001).[11]
   Penyimpangan komunikasi mungkin satu dari faktor-faktor yang berkaitan dengan stres yang menigkatkan risiko berkembangya skizofrenia pada individu yang memiliki kerentanan genetis (Goldstein, 1987). Penyimpangan komunikasi dapat terjadi ketika reaksi orang tua terhadap anak yang terganggu. Orang tua belajar bahasa yang aneh untuk menyesuaikan dengan anak yang terus menerus mengganggu mereka. Atau orang tua dan anak memiliki trait genetis yang sama, kemudian di ekspresikan dalam komunikasi yang terganggu dan meningkatkan kerentanan terhadap skizofrenia.[12]
b.      Ekspresi Emosi (Expressed emotion-EE)
EE melibatkan kecenderungan anggota keluarga untuk bersikap kejam, mengkritik, dan tidak mendukung pada anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Orang dengan skizofrenia yang memiliki keluarga dengan EE tinggi cenderung menunjukkan penyesuaian diri yang lebih buruk dan memiliki rata-rata kambuh yang tinggi setelah keluar dari rumah sakit, dibandingkan mereka yang memiliki keluarga yang lebih mendukung (Cutting & Docherty, 2000; King & Dixon, 1999).[13]

E.     Dampak Gangguan skizofrenia

F.     Penanganan/intervensi Terhadap Penderita Skizofrenia

Dari berbagai macam referensi yang kami dapati, menyebutkan bahwa tidak ada suatu cara untuk menghilangkan/menyembuhkan skizofrenia. Yang ada hanya cara-cara untuk menekan penyakit skizofrenia agar tidak kambuh. Penanganannya pun berbeda-beda tergantung tingkat yang diderita pasien. Para ahli kebanyakan menggunakan pendekatan farmakologis, psikologis, dan rehabilitatif yang diseting dalam bentuk pelayanan kesehatan di rumah sakit jiwa. Adapun untuk lebih spesifik mengetahui bagaimana bentuk-bentuk penanganan terhadap penderita skizofrenia sebagai berikut:[14]

a.       Pendekatan Biologis
Pendekatan ini memiliki hubungan dengan pendekatan farmakologis karena penderita skizofrenia diwajibkan untuk meminum obat-obatan antipsikotik secara rutin untuk mengurangi halusinasi dan waham karena adanya ketegangan-ketegangan yang terjadi pada syaraf.[15]  Akan tetapi cara ini saja ternyata tidak cukup. Karena obat yang dikonsumsi ternyata menimbulkan efek samping yang kurang baik seperti menurunkan respon kesadaran terhadap lingkungan sosial bahkan sampai menyebabkan disabilitas atau yang dikenal dengan tardive dyskinesia.[16]


b.      Terapi Personal
Terapi ini merupakan bentuk lanjutan setelah penderita skizofrenia mengkonsumsi  obat antipsikotik. Yang mana ketika halusinasi/delusi dan waham sudah dapat ditangani menggunakan obat tadi, maka penderita mulai dibantu untuk mempelajari bagaimana menghadapi kritik orang lain, membangun keterampilan sosial, dan aktivitas-aktivitas yang membuat penderita tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Biasanya terapi ini akan jauh lebih efektif apabila penderita mendapat dukungan moril dari pihak keluarganya.[17]

c.       Rehabilitasi Psikososial
Kebanyakan penderita skizofrenia mengalami masalah dalam menjalankan peran-peran sosial maupun pekerjaannya. Oleh karena itulah penting bagi mereka untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya. Biasanya bentuk-bentuk rehabilitasi ini dirancang dengan menggunakan prinsip belajar, seperti mempelajari bagaimana mengurus keuangan/token ekonomi, memecahkan masalah dengan anggota keluarga, membangun persahabatan, pelatihan keterampilan sosial, berbelanja dan sebagainya.[18]

d.      Program Intervensi Keluarga
Kebanyakan keluarga memiliki persepsi yang salah terhadap penderita skizofrenia, hal tersebut dilakukan dengan cara memasung, mengurung penderita, memukul/menyiksa, meminggirkan mereka dalam hubungan sosial keluarga karena dianggap aib. Padahal dukungan dengan bentuk kedekatan/kasih sayang dari keluarga cukuplah penting. Oleh karenanya keluarga juga haruslah diberi pemahaman terkait dengan skizofrenia itu sendiri.[19] 

e.       Pengobatan Sosiokultural/Terapi Milieu
Lingkungan sosial tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap perilaku individu. Sedangkan pada penderita skizofrenia mereka cenderung mengalami kondisi maladaptif. Terapi milieu menjadi salah satu langkah untuk melakukan penangan terhadap penderita skizofrenia. Terapi Milieu adalah suatu model yang melibatkan proses sosial sebagai alat untuk mengubah perilaku individu. [20]
                                                

KESIMPULAN










































DAFTAR PUSTAKA











































MAKALAH
KESEHATAN MENTAL
(SKIZOFRENIA)
Dosen Pengampu : Andayani




Disusun oleh :



ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAN NEGERI YOGYAKARTA



[1] Makmuroch, “Keefektifan Ketrampilan Pelatihan Regulasi Terhadap Penurunan Tingkat Ekspresi Emosi Pada Caregiver Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta”, Wacana Jurnal Psikologi, Vol. 6 No. 11 (Januari 2014)
[2] Jeffrey S. Nevid, dkk., Psikologi Abnormal, Edisi Kelima, Jilid 2, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 111-117

[3] Yustinus Semiun,OFM,Kesehatan Mental 3, (Yogyakarta : Kanisius,2006),hlm. 28-33
[4] Jeffrey S. Nevid, dkk.....hlm 120
[5] Ibid.
[6] Ibid.,hlm 121
[7] Ibid.,hlm 122
[8] Ibid.,hlm.123
[9] Ibid.,hlm.123-124
[10] Ibid.,hlm. 126
[11] Ibid.
[12] Ibid.,127
[13] Ibid.
[14] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dkk...hlm 131.
[15]   Ibid., hlm. 132.
[16] Richard P. Halgin dan Susan Krauss Whitbourne, Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis, (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 68
[17] Jeffrey S. Nevid, dkk, ibid., hlm. 133.
[18] Ibid.,hlm 135
[19] Ibid.
[20] Richard P. Halgin....hlm 71
  

BIOGRAFI AL KHANSA BINTI AMRU (ibunda para syuhada)

Al-Khansa Binti Amru,
Ibunda Para Syuhada

Oleh: Sufi Amalia (1M2 B)

Jumat, 19 Desember 2014, 13:55 WIB
          Ketaatan seorang hamba kepada ibu adalah ketaatan yang hanya bersumber kepada Allah SWT. Begitu besar kemuliaan seorang anak yang bisa membahagiakan ibunya. Namun, tentu lebih besar lagi jika seorang anak bisa mengamalkan perintah Allah disertai ridha sang ibu.

          Sebaik-baik kisah tentang keridhaan seorang ibu ada pada keluarga Khansa binti Amru. Sosok sahabiyah yang mempersembahkan keempat anaknya sebagai syuhada. Ia digelari "Ibunda Para Syuhada". Tiadalah anak-anaknya bersemangat menjemput syahid jika bukan karena didikan Khansa.

          Khansa lahir pada zaman jahiliyah kaum Quraisy. Ia tumbuh besar di tengah suku Arab, Bani Mudhar. Khansa digambarkan sebagai sosok yang mulia, murah hari, tenang, pemberani, dan jujur. Ia juga memiliki kelebihan lain, yakni bersyair. Syairnya indah seperti jiwanya. Kata-katanya menghujam seperti tekadnya.

          Syahdan suatu hari ia bersyair untuk ayahnya Mua'wwiyah dan saudara lelakinya Shakhr yang gugur dalam peperangan di masa jahiliyah. Ia mengucapkan syair sembari meneteskan air mata. Umat bin Khattab RA yang melihatnya pun bertanya, "Mengapa engkau menangis Khansa?" Ia pun menjawab, "Aku menangisi ayah dan saudaraku." Umar pun menegur Khansa karena mereka berdua meninggal dalam keadaan kafir. "Justru itulah yang membuatku lebih kecewa dan sedih lagi. Dulu aku menangisi Sakhr atas kehidupannya. Sekarang aku menangisinya karena ia adalah ahli neraka."

          Rasulullah bersabda, bahwa orang yang paling pandai bersyair adalah Al-Khansa binti Amru dan orang yang paling murah hati adalah Muhammad Rasulullah serta orang yang paling pandai berkuda adalah Ali bin Abi Thalib."

          Kemampuannya bersyair pun diakui oleh banyak sahabat Rasulullah. Jarir RA pernah ditanya oleh sesorang, "Siapakah yang paling pandai bersyair?" Jarir pun berkata "Kalau tidak ada al-Khansa tentu aku."

          Bakatnya sebagai seorang penyair sangat mumpuni. Begitu pun kasih sayang terhadap suami dan keempat anaknya yang tiada tara. Muslimah yang memiliki nama lengkap Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah ini menikah dengan Rawahah bin Abdul Aziz As Sulami. Dari pernikahan itu, ia mendapatkan empat orang anak laki-laki.

          Kasih sayang dan ilmu yang berlimpah ia berikan kepada anak-anaknya. Sehingga, keempat anaknya itu menjadi pahlawan Islam yang tersohor. Keempatnya wafat sebagai syuhada pada perang Qadisiyah. 
Ia pun memberikan ridha bagi keempat anaknya untuk berjihad. "Berangkatlah kalian dan bertempurlah hingga syahid menjemput kalian." Keempatnya pun bergegas menuju medan perang. Mereka saling berjuang melawan musuh-musuh Allah dan berhasil membunuh banyak pasukan Persia. Pada akhirnya syahid datang dan menjemput mereka.
Al-Khansa pun mendengar syahid keempat anak-anaknya. Namun, bukanlah air mata yang mengalir deras dari matanya, melainkan binaran tanda syukur dan ia berkata "Alhamdulillah, yang telah memuliakanku dengan syahidnya putra-putraku. Semoga Allah, segera menjemputku dan mempertemukan aku dengan mereka dalam naungan rahmat-Nya di Firdaus-Nya yang luas."

          Keikhlasan dirinya sebagai seseorang yang mengandung anak-anaknya selama sembilan bulan tak terbandingi nilainya. Doanya untuk dipertemukan dengan keempat putra yang syuhada datang. Ia wafat pada masa permulaan Khalifah Ustman bin Affan RA, tepatnya pada 24 Hijriyah. n c64 ed: hafidz muftisany

Sumber:http://www.republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/14/12/20/ngthwz37-alkhansa-binti-amru-ibunda-para-syuhada

KEBUDAYAAN DI INDONESIA

KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pekerjaan Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Dosen Pengampu : Lathiful Khuluq, Ph. D.



 

Disusun Oleh :
Sufi Amalia                              14250023
Muhammad Tarmizi                14250037
Feni Rahmadhani                     14250079

PROGRAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016

Senin, 14 September 2015

Hidup itu perjuangan
Oleh Sufi Amalia

Aku menyukai sebuah kata bijak dari seorang yang luar biasa, beliau adalah Imam Syafi’i, begini katanya “Biarkan waktu berlalu dengan segala suka dukanya. Lapangkan jiwa dalam menerima segala keputusan tuhan. Jangan bersedih karena kejadian yang menyakitkan, sebab segala peristiwa di dunia ini tidak ada yang kekal. Jadilah dirimu sebagai manusia yang tangguh terhadap segala cobaan dan tantangan, agar keberhasilan menghampirimu kelak”. Aku mengingat kalimat ini yang selalu ayah sampaikan kepadaku. Aku menyukainya, sangat. Kalimat ini yang membantuku berdiri di atas keterpurukanku. Mungkin begitu juga dengan ayah, dan kedua adik lelakiku.

Rabu, 17 Juni 2015


Aku akan Tua
Oleh Sufi Amalia
Seperti matahari yang akan tenggelam. Bintang yang menghilang saat fajar menyingsing. Kayu yang akan lapuk dan akhirnya patah. Besi yang berkarat. Aku seperti itu dan tak abadi. Aku akan meninggalkanmu, dan membuatmu sendirian tanpa aku. Kau akan sendiri seperti bintang malam saat bulan bersembunyi dibalik awan.
Saat semua berubah mukinkah kau akan tetap di sini dan bersamaku?. Mataku tak akan bisa melihatmu, telingaku tak bisa mendengar tenangnya suaramu, lidahku tak bisa merasakan lagi gurihnya masakanmu, hidungku tak bisa lagi mencium bau wangi dari arah dapur, Tanganku tak bisa lagi menjagamu, dan memelukmu. Kakiku tak bisa lagi berjalan mendekatimu. Semua akan beruabah. Tak lagi semanis seperti awal pertemuan kita.
Mengingatmu di bawah langit senja membuatku nyaman. Meski kau tak bisa lagi duduk bersamaku. Aku merindukanmu. Sungguh. Teringat saat senja menghantar langkahku kepadamu. Bersih wajahmu meluluhkanku. Semua janji tentang masa depan kau berikan kepadaku. Kau berjanji menuntunku menuju taman surga. Terimakasih untuk senja yang telah mempertemukan kesederhanaan cinta kami. Maaf karena aku tak sempurna. Maaf karena masakanku terlalu Asin, bahkan kau tak pernah mengeluh, meski sudah ku paksa. Haruskah aku tersenyum sendiri mengingatmu? Hari ini aku memasak sayur Asem dan Balado Teri. Aku ingat ini masakan kesukaanmu. Aku membuatnya karena aku sungguh merindukanmu.
Senja...aku ingat saat aku pulang dan menemukan gadis tua itu duduk di kursi lapuk menunggu tubuh renta ini. Tak pernah sekalipun aku melihat cemberut wajah tuanya. Meski waktu telah membuatnya tampak kurus kering tapi dia tetap cantik. Dia wanitaku. Terimakasih telah hidup menemaniku. Aku teringat sayur Asem dan Balado Teri buatannya. Aku tau rasanya Keasinan, namun semua berubah manis karena senyuman tua itu. Aku tak bisa melihatnya kecewa. Aku ingin tetap seperti ini, duduk dengannya menunggu waktu berlalu. Namun aku takut senja... aku takut jika suatu saat dia akan kesepian tanpaku. Aku teringat saat tubuh tua dan kotor ini dia bersihkan. Aku mengingat nasehatnya saat aku merokok. Dan saat itu aku berjanji tak akan membuatnya takut karena rokok.
Senja...aku takut membuatnya marah karena rokok. Aku hanya ingin dia sehat, dan terus bersamaku. Aku tak ingin banyak hal darinya, aku hanya ingin dia sehat. Cukup hanya itu.
Senja itu, dia memegang tanganku dan berkata “kenapa tanganmu kasar sekali?” aku hanya terdiam. “Ma’af... karena aku membiarkan kedua telapak tanganmu bekerja keras.” Dia menangis, dan berbaring dipangkuanku. “kelak saat tangku ditanya dia akan menjawab bahwa tangan ini telah bersusah payah mencuci, memasak untukmu.”  Terimakasih telah memilih wanita bodoh sepertiku untuk bersanding denganmu. Maaf atas kekuranganku. Maaf, karena tak ada lengkingan kecil memanggilmu “Ayah”. Maaf karena hanya aku yang berbaring disampingmu.
Teringat saat butiran bening itu memenuhi mata teduhnya. Dia memintaku untuk pergi, namun sungguh aku tak bisa. Aku hidup untuk melengkapinya. Tak ada yang lain. Cukup hanya dia dan aku saja untuk melukis kisah kami diatas langit senja. Terimaksih telah bertemu denganku, dan menjadi bagian dari kisahku. Aku merindukanmu selalu.
Kini kisah ini menjadi bagian dari alam. Berhembus lembut mengikuti arah angin dan menyelimuti setiap cinta. Terimakasih telah hidup dan pernah hadir dalam memoriku, memberi kesempatan untukku menulis tentang kalian. Memperkenalkan kisah ini kepadamu yang masih Allah rahasiakan dariku._Sufi PJJ