RUANG
LINGKUP SKIZOFRENIA
Makalah
ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Kesehatan Mental
Dosen Pengampu : Andayani

Disusun Oleh :
Sufi Amalia 14250023
PROGRAM
STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Skizofrenia
Skizofrenia
adalah sindrom klinik yang bervariasi, sangat mengganggu, dengan psikopatologi
yang terentang dari disfungsi kognitif, gangguan proses pikir, gangguan emosi,
gangguan persepsi, dan gangguan perilaku. Pasien skizofrenia umumnya mengalami
hendaya nyata taraf kemampuan fungsionalnya sehari-hari sehingga cenderung
memerlukan bantuan dan pertolongan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada pihak
lain, khususnya kepada pihak keluarga atau relasi yang peduli terhadapnya
(Sadock dan Sadock, 2007; Tenhula et al., 2009).[1]
B.
Ciri-ciri Gangguan
1.
Gangguan isi pikiran dan pembicaraan
a.
Gangguan isi pikiran
Gangguan yang paling nyata pada isi pikiran mencakup waham, atau
keyakinan yang salah yanng menetap pada pikiran seseorang tanpa
mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak adanya bukti untuk mendukung
keyakinan tersebut. Ada macam-macam waham, seperti:
1)
Waham persekusi (misalnya, “merasa dikejar-kejar oleh Mafia,
FBI,CIA”)
2)
Waham reverensi (“Orang-orang di bis sedang membicarakan saya”
atau “Orang-orang di TV menjadikan saya sebagai lelucon”)
3)
Waham dikendalikan (“meyakini bahwa pikiran, perasaan,
implus-implus, atau tindakannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, seperti
suruhan setan”)
4)
Waham kebebasan (“meyakini bahwa dirinya sebagai yesus atau
meyakini drinya sedang dalam misi khusus, atau memiliki rencana yang hebat
namun tidak logis untuk menyelamatkan dunia”)
b.
Gangguan pembicaraan
Bentuk pembicaraan
orang yang mengalami skizofrenia seringkali tidak teratur atau kacau, dengan
bagian-bagian kata dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai
bersama untuk membuat rima-rima yang tidak bermakna. Pembicaraan mereka juga
dapat melompat dari satu topik ke topik lainnya, namun kurang menunjukkan
keterkaitan antara ide atau pikiran-pikiran yang diekspresikan. Mereka juga
tidak meyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tampak tidak normal. Adapun tanda-tanda
kurang umum meliputi:
a.
Neologisme (kata-kata yang dibuat oleh pembicara yang kurang atau
tidak memiliki arti bagi oranng lain).
b.
Perseverasi (pengulangan yang tidak sesuai namun menetap pada
kata-kata yang sama, atau rentetan pikiran).
c.
Clanging (merangkaikan secara bersama kata-kata atau bunyi-bunyi
berdasarkan rima. Misalnya “saya tau siapa saya tapi saya tidak tahu dia”).
d.
Blocking (tanpa di-kehendaki dan secara tiba-tiba pembicaraan atau
pikiran terputus).
2.
Kekurangan dalam pemusatan perhatian
Kesulitan
memberikan perhatian pada stimulus yang relevan dan menyaring keluar stimulus
yang tidak relevan.
3.
Gangguan gerakan mata
Gerakan
mata pada seseorang yang terkena skizofrenia tampak tidak normal, saat
menelusuri sebuah target yang bergerak melintasi lapangan. Mata tidak terlihat
fokus memperhatikan target, malah berbalik dan kemudian mengejarnya dalam
gerakan yang menyentak.
4.
Gangguan persepsi
Bentuk yang paling umum pada gangguan persepsi
ini ialah halusinasi. Halusinasi merupakan gambaran yang dipersepsi tanpa
adanya stimulus dari lingkungan. Dan sangat sulit dibedakan dengan kenyataan.
Halusinasi dapat melibatkan setiap indra:
a.
Halusinasi auditoris (mendengar suara-suara).
b.
Halusinasi taktil (seperti digelitik, sensasi listrik atau
terbakar).
c.
Halusinasi somatis (seperti merasa ada ular yang menjalar di dalam
perut).
d.
Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada).
e.
Halusinasi gustatoris (merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak
ada).
f.
Halusinasi olfaktoris (mencium bau yang tidak ada).
5.
Beberapa jenis hendaya lainnya
a.
Kebingungan akan identitas pribadi
b.
Hilangnya keinginan
c.
Perilaku yang sangat bersemangat atau kondisi stupor
d.
Gerakan tubuh yang ganjil atau ekspresi wajah yang aneh
e.
Hendaya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain[2]
C.
Jenis-Jenis
Skizofrenia
1)
Skizofrenia
yang tidak Teratur
Skizofrenia ini
sebelumnya disebut skizofrenia hebrefenik. Pada skizofrenia ini mempunyai ciri
tingkah laku bodoh, ketidakpaduan anatara pikiran, bicara, dan tindakan, sifat kekanak-kanakan. Orang yang
menderita gangguan ini akan menarik diri secara ekstrem. Penderita tidak lagi
tertarik pada dunia di sekitarnya, dan ia hampir sepenuhnya hidup di dalam
dirinya sendiri. Ledakan-ledakan emosi seperti manangis dan tertawa, yang
dialami penderita bukan akibat stimulus-stimulus dari luar, tetapi
stimulus-stimulus yang berasal dari dunia khayalan tempat ia hidup.
Penderita biasanya tertawa
terkikih-kikih seperti anak kecil. Ciri dan tingkah lakunya aneh, ia berbicara
dan membuat gerak-gerik isyarat terhadap dirinya sendiri, berselang–seling
antara menangis dan tertawa. Pada penderita tipe ini mengalami banyak
halusinasi, seperti mendengar suara-suara yang mengatakan kepadanya hal-hal
yang menyenangkan tetapi juga mencaci makinya. Pada tipe skizofrenia ini dapat digambarkan sebagai
orang yang dilanda sress kehidupan sehingga ia mundur ke tahap penyesuaian diri
kanak-kanak. Regresi ini mungkin begitu ekstrim sehingga penderita bertingkah
laku seperti bayi.
2)
Skizofrenia
Katatonik
Dalam reaksi
katatonik, penderita berubah-ubah sikap antara keadaan stupor ( seperti terbius)
dan keadaan gempar seperti meledak-ledak. Dalam keadaan stupor penderita
kehilangan segala semangat, tetapi tidak bergerak selama berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan pada kejadian-kejadian tertentu
bisa lebih lama lagi. Ia tidak makan dan tidak menunjukkan usaha untuk
mengendalikan buang air besar atau buang air kecil. Pada skizofrenia jenis ini
ia memepunyai reaksi yang khas, hal ini dapat di contohkan ketika ia terlihat stupor (terbius), ia bisa
mengetahui semua yang terjadi di sekitarnya dan kadang-kadang dapat memberikan
bukti yang jelas atas apa yang diketahuinya. Penderita mudah dipengaruhi dan
akan menirukan tingkah laku (apa yang dibuat) orang lain (ekopraksia) atau
mengulangi secara mekanik kata-kata orang lain dan menjalankan perintah orang
lain.
Ketika dalam keadaan
stupor penderita selalu berhalusinasi dan delusi. Halusinasi dan delusi mungkin
melibatkan penderita dalam suatu konflik yang bersifat kosmis (misalnya
kekuatan baik dan jahat mungkin pada saat itu penderita mengalami bertempur
mati-matian di dalam dirinya. Selain itu, penderita juga mengalami delusi
kemegahan dan merasa dikejar-kejar. Katatonia berkembang dari konflik dan
represi yang berat. Kata-kata yang serimg diulang-ulang oleh penderita dan
kelihatannya sama sekali tidak masuk akal bagi yang mendengarkannya tetapi bagi
penderita sangat masuk akal.
3)
Skizofrenia
Paranoid
Ciri khas penderita
paranoid adalah murung, mudah tersinggung dan curiga. Individu yang
mengembangkan skizofrenia adalah orang yang sangat ambisius yang menetapkan
cita-cita yang tidak mungkin dapat diraih dan kemudian menyalahkan orang lain
atas kegagalannya dalam mencapai cita-cita itu (kebutuhan akan prestasi dan
status), maka ia menyesuaikan diri dengan menyakinkan dirinya sendiri bahwa
orang lainlah yang berusaha mencegahnya meraih sukses. Apabila penyakit
berjalan terus, ia tidak dapat meneruskan pekerjaannya dan hidupnya menjadi
tidak teratur.Penderita paranoid sebaiknya dirawat di rumah sakit, tetaoi ni
sering kali sulit untuk dilaksanakan karena penyakitnya berubah-ubah dan
penderita sendiri tidak mau dirawat. Gangguan psikotik yang parah mungkin
suatau saat kelihatannya sembuh dan ia bisa bergaul dengan orang lain sehingga
orang tidak bisa sungguh-sungguh menyelami penyakitnya.
4)
Skizofrenia
Residual
Orang-orang
yang mengalami gangguan skizofrenia residual adalah orang-orang yang sekurang-kurangnya
memiliki riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau dan sekarang
memperlihatkan beberapa tanda skizofrenia, seperti emosi yang tumpul, menarik
diri dari orang-orang lain (masyarakat),bertingkah laku eksentrik atau
mengalami gangguan pikiran, tetapi simton-simton ini pada umumnya tidak begitu
kuat. Untuk mendiagnosis sebagai skizofrenia residual harus memenuhi semua
persyaratan diantaranya adalah :
1.
Gejala negatif
dari skizofrenia yang menonjol, misalnya psikomotorik lambat, aktivitas menurun,
afek yang menumpul,sikap pasif dan tidak ada yang inisiatif serta komunikasi
non verbal yang buruk.
2.
Ada riwayat
satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau yang memenuhi kriteria untuk
diagnosis skizofrenia
3.
Sudah melampaui
kurun waktu satu tahun di mana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham (keyakinan atau pikiran
yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata, serta dibangun atas
unsur-unsur yang dan halusinasi sangat berkurang (minimal) dan timbul sindrom
negatif dari skizofrenia
4.
Tidak terdapat penyakit atau gangguan otak
organik yang lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat
menjelaskan disabilitas negatif (Maslim, 1998)
5)
Skizofrenia
yang Tidak Terperinci
Skizofrenia yang tidak terperinci merupakan kategori keranjang
sampah di mana individu yang mengalam skizofrenia tipe ini tidak memiliki salah
satu atau lebih dari semua tipe skizofrenia yang dikemukakan. Menurut pendapat
Muslim,skizofrenia yang tidak terperinci tidak memenuhi kriteria umum untuk
diagnosis, tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid,
katatonik, atau tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi
pasca skizofrenia (Maslim, 1998)[3]
D.
Penyebab
terjadinya Skizofrenia
1. Prespektif
Psikodinamika
Skizofrenia
mencerminkan ego yang dibanjirinya oleh dorongan-dorongan seksual primitif atau
agresif atau implus-implus yang berasal dari id. Implus-implus tersebut
mengancam ego dan berkembang menjadi konflik intrapsikis yang kuat. Di bawah
ancaman seperti itu, orang tersebut mundur ke periode awal dari tahapan oral,
yang disebut sebagai narsisme primer. Pada periode ini, bayi belum belajar
bahwa dunia dan dirinya adalah hal yang berbeda. Karena ego menjembatani
hubungan antara diri dengan dunia luar, kerusakan pada fungsi ego ini
berpengaruh terhadap adanya jarak terhadap realitas yang khas skizofrenia.
Masukan dari id menyebabkan fantasi menjadi disalahartikan sebagai realitas,
menyebabkan halusinasi dan waham. Implus-implus primitif mungkin juga membawa beban
yang lebih berat daripada norma-norma sosial dan diekspresikan pada perilaku
yang aneh, dan tidak sesuai secara sosial.[4]
Salah satu pengikut Freud,
Sullivan (1962) meneliti masalah skizofrenia, menekankan pentingnya hubungan
ibu dan anak yang terganggu, dan mengemukakan argumentasi bahwa hal tersebut
dapat menetapkan tahapan untuk penarikan diri secara perlahan-lahan dari orang
lain. Permusuhan antara anak dan orang tua membawa anak untuk mencari
perlindungan pada dunia fantasi yang bersifat pribadi. Semakin anak menarik
diri, semakin berkurang kesempatan yang ada untuk membangun kepercayaan pada
orang lain dan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk membangun keintiman.
Kemudian ikatan yang lemah antara anak dan orang lain mendorong kecemasan sosial
dan penarikan diri yang lebih jauh. Siklus ini berlanjut sampai masa dewasa
muda.
Kemudian, dihadapkan dengan meningkatnya tuntutan di sekolah atau
pekerjaan dan dalam hubungan intim, orang tersebut menjadi semakin dibanjiri
dengan kecemasan dan menarik diri sepenuhnya ke dunia fantasi Dengan kata lain dalam hal ini
skizofrenia disebabkan karena adanya permasalahan keluarga. Sehingga salah satu
anggota keluarganya menarik diri dari orang-orang sekitar dan lebih asyik
dengan dunia fantasinya sendiri. Ditandai dengan kecemasan dan tidak percaya
terhadap orang lain yang semakin membuat dirinya menarik diri dan masuk ke
dunia fantasi.[5]
2. Prespektif
Biologis
Faktor biologis dalam hal ini memerankan
peranan penting. Karena banyak kasus skizofrenia disebabkan oleh faktor
biologis dari keluarga.
a.
Faktor Genetis
Skizofrenia, sebagaimana
banyak gangguan lainnya, cenderung menurun dalam keluarga (Erlenmeyer-Kimling
dkk., 1997). Secara keseluruhan, keluarga tingkat pertama dari orang-orang yang
mengalami skizofrenia (orang tua atau saudara kandung) memiliki sekitar sepuluh
kali (APA, 2000; Kendler & Diehl, 1993). [6]
Dukungan lebih jauh
terhadap hubungan genetis menyatakan, semakin dekat hubungan genetis antara
orang yang di diagnosis skizofrenia dan anggota keluarga mereka, semakin besar
kecenderungan (atau concordance rate) mengidap skizofrenia pada keluarga mereka
(Gottesman, 2001). Hubungan genetis
dengan orang yang mengalami skizofrenia tampaknya merupakan faktor risiko yang
paling nyata untuk perkembangan gangguan.[7]
b.
Faktor Biokimia
Penelitian biologis
kontemporer tentang skizofrenia difokuskan pada peranan neurotransmiter
dopmain. Teori dopmain beranggapan bahwa skizofrenia melibatkan terlalu
aktifnya reseptor dopamain di otak-reseptor yang terletak di neuron pascasinaptik
dimana molekul dopamain terikat (Haber & Fudge, 1997).[8]
Model dopamin ditemukan
pada efek obat-obatan anti psikotik yang disebut neuroleptik. Neuroleptik
berasal dari obat-obatan yang disebut phenothiazines, seperti Thorazine,
Mellarile, dan Prolixine. Dengan neuroleptik menghambat meningkatnya perilaku
skizofrenia.
Untuk bukti yang mendukung
peranan dopamin pada skizofrenia didasarkan pada kerja amfetamin, suatu
kelompok obat-obat stimulan. Apabila diberikan dalam dosis yang besar kepada orang
normal, obat-obatan tersebut dapat menyebabkan perilaku skizofrenia menyerupai
skizofrenia paranoid.[9]
3. Teori
Keluarga
Faktor penyebab stres pada
keluarga yang mungkin berinteraksi degan kerentanan genetis dalam menyebabkan
berkembangnya skizofrenia. Dua sumberutama dari stres keluarga yang telah
dipelajari adalah pola-pola komunikasi yang menyimpang dan ekspresi emodi yang
negatif dalam keluarga.[10]
a.
Penyimpangan dalam komunikasi (communication
deviance-CD)
Adalah pola komunikasi yang
tidak jelas, samar-samar, terganggu, atau terpecah-pecah, yang sering ditemukan
pada orang tua dan anggota keluarga dari pasien skizofrenia. CD ditandai dengan
pembicaraan yang sulit untuk diikuti dan sulit ditangkap intinya (Wahlberg dkk,
2001).[11]
Penyimpangan komunikasi
mungkin satu dari faktor-faktor yang berkaitan dengan stres yang menigkatkan
risiko berkembangya skizofrenia pada individu yang memiliki kerentanan genetis
(Goldstein, 1987). Penyimpangan komunikasi dapat terjadi ketika reaksi orang
tua terhadap anak yang terganggu. Orang tua belajar bahasa yang aneh untuk
menyesuaikan dengan anak yang terus menerus mengganggu mereka. Atau orang tua
dan anak memiliki trait genetis yang sama, kemudian di ekspresikan dalam
komunikasi yang terganggu dan meningkatkan kerentanan terhadap skizofrenia.[12]
b.
Ekspresi Emosi
(Expressed emotion-EE)
EE
melibatkan kecenderungan anggota keluarga untuk bersikap kejam, mengkritik, dan
tidak mendukung pada anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Orang dengan
skizofrenia yang memiliki keluarga dengan EE tinggi cenderung menunjukkan
penyesuaian diri yang lebih buruk dan memiliki rata-rata kambuh yang tinggi
setelah keluar dari rumah sakit, dibandingkan mereka yang memiliki keluarga
yang lebih mendukung (Cutting & Docherty, 2000; King & Dixon, 1999).[13]
E.
Dampak Gangguan
skizofrenia
F.
Penanganan/intervensi
Terhadap Penderita Skizofrenia
Dari berbagai macam referensi yang kami dapati, menyebutkan bahwa
tidak ada suatu cara untuk menghilangkan/menyembuhkan skizofrenia. Yang ada
hanya cara-cara untuk menekan penyakit skizofrenia agar tidak kambuh.
Penanganannya pun berbeda-beda tergantung tingkat yang diderita pasien. Para
ahli kebanyakan menggunakan pendekatan farmakologis, psikologis, dan
rehabilitatif yang diseting dalam bentuk pelayanan kesehatan di rumah sakit
jiwa. Adapun untuk lebih spesifik mengetahui bagaimana bentuk-bentuk penanganan
terhadap penderita skizofrenia sebagai berikut:[14]
a.
Pendekatan
Biologis
Pendekatan
ini memiliki hubungan dengan pendekatan farmakologis karena penderita
skizofrenia diwajibkan untuk meminum obat-obatan antipsikotik secara rutin
untuk mengurangi halusinasi dan waham karena adanya ketegangan-ketegangan yang
terjadi pada syaraf.[15] Akan tetapi cara ini saja ternyata tidak
cukup. Karena obat yang dikonsumsi ternyata menimbulkan efek samping yang
kurang baik seperti menurunkan respon kesadaran terhadap lingkungan sosial
bahkan sampai menyebabkan disabilitas atau yang dikenal dengan tardive
dyskinesia.[16]
b.
Terapi Personal
Terapi
ini merupakan bentuk lanjutan setelah penderita skizofrenia mengkonsumsi obat antipsikotik. Yang mana ketika
halusinasi/delusi dan waham sudah dapat ditangani menggunakan obat tadi, maka
penderita mulai dibantu untuk mempelajari bagaimana menghadapi kritik orang
lain, membangun keterampilan sosial, dan aktivitas-aktivitas yang membuat
penderita tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Biasanya terapi ini akan
jauh lebih efektif apabila penderita mendapat dukungan moril dari pihak
keluarganya.[17]
c.
Rehabilitasi
Psikososial
Kebanyakan
penderita skizofrenia mengalami masalah dalam menjalankan peran-peran sosial
maupun pekerjaannya. Oleh karena itulah penting bagi mereka untuk dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya. Biasanya bentuk-bentuk
rehabilitasi ini dirancang dengan menggunakan prinsip belajar, seperti mempelajari
bagaimana mengurus keuangan/token ekonomi, memecahkan masalah dengan anggota
keluarga, membangun persahabatan, pelatihan keterampilan sosial, berbelanja dan
sebagainya.[18]
d.
Program
Intervensi Keluarga
Kebanyakan
keluarga memiliki persepsi yang salah terhadap penderita skizofrenia, hal
tersebut dilakukan dengan cara memasung, mengurung penderita, memukul/menyiksa,
meminggirkan mereka dalam hubungan sosial keluarga karena dianggap aib. Padahal
dukungan dengan bentuk kedekatan/kasih sayang dari keluarga cukuplah penting.
Oleh karenanya keluarga juga haruslah diberi pemahaman terkait dengan
skizofrenia itu sendiri.[19]
e.
Pengobatan
Sosiokultural/Terapi Milieu
Lingkungan sosial tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap
perilaku individu. Sedangkan pada penderita skizofrenia mereka cenderung
mengalami kondisi maladaptif. Terapi milieu menjadi salah satu langkah untuk
melakukan penangan terhadap penderita skizofrenia. Terapi Milieu adalah suatu
model yang melibatkan proses sosial sebagai alat untuk mengubah perilaku
individu. [20]
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
MAKALAH
KESEHATAN MENTAL
(SKIZOFRENIA)
Dosen Pengampu : Andayani
Disusun oleh :
ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAN NEGERI YOGYAKARTA
[1]
Makmuroch, “Keefektifan Ketrampilan Pelatihan
Regulasi Terhadap Penurunan Tingkat Ekspresi Emosi Pada Caregiver Pasien Skizofrenia
Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta”, Wacana Jurnal Psikologi, Vol. 6 No. 11
(Januari 2014)
[2]
Jeffrey S. Nevid, dkk., Psikologi Abnormal,
Edisi Kelima, Jilid 2, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 111-117
[7] Ibid.,hlm 122
[11] Ibid.
[13]
Ibid.
[14]
Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dkk...hlm
131.
[16]
Richard P. Halgin dan Susan
Krauss Whitbourne, Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis pada Gangguan
Psikologis, (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 68
[17] Jeffrey S. Nevid, dkk, ibid., hlm. 133.
[18]
Ibid.,hlm 135
[19]
Ibid.
[20]
Richard P. Halgin....hlm 71
sangat membantu
BalasHapus