Senin, 21 Maret 2016

RUANG LINGKUP SKIZOFRENIA

RUANG LINGKUP SKIZOFRENIA
Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Kesehatan Mental
Dosen Pengampu : Andayani

 Description: logo-uin-suka-baru-warna.jpg

Disusun Oleh :
Sufi Amalia                              14250023


PROGRAM STUDI ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015



























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Skizofrenia
            Skizofrenia adalah sindrom klinik yang bervariasi, sangat mengganggu, dengan psikopatologi yang terentang dari disfungsi kognitif, gangguan proses pikir, gangguan emosi, gangguan persepsi, dan gangguan perilaku. Pasien skizofrenia umumnya mengalami hendaya nyata taraf kemampuan fungsionalnya sehari-hari sehingga cenderung memerlukan bantuan dan pertolongan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada pihak lain, khususnya kepada pihak keluarga atau relasi yang peduli terhadapnya (Sadock dan Sadock, 2007; Tenhula et al., 2009).[1]

B.     Ciri-ciri Gangguan
1.      Gangguan isi pikiran dan pembicaraan
a.       Gangguan isi pikiran
Gangguan yang paling nyata pada isi pikiran mencakup waham, atau keyakinan yang salah yanng menetap pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak adanya bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Ada macam-macam waham, seperti:
1)      Waham persekusi (misalnya, “merasa dikejar-kejar oleh Mafia, FBI,CIA”)
2)      Waham reverensi (“Orang-orang di bis sedang membicarakan saya” atau “Orang-orang di TV menjadikan saya sebagai lelucon”)
3)      Waham dikendalikan (“meyakini bahwa pikiran, perasaan, implus-implus, atau tindakannya dikendalikan oleh kekuatan dari luar, seperti suruhan setan”)
4)      Waham kebebasan (“meyakini bahwa dirinya sebagai yesus atau meyakini drinya sedang dalam misi khusus, atau memiliki rencana yang hebat namun tidak logis untuk menyelamatkan dunia”)
b.      Gangguan pembicaraan
            Bentuk pembicaraan orang yang mengalami skizofrenia seringkali tidak teratur atau kacau, dengan bagian-bagian kata dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai bersama untuk membuat rima-rima yang tidak bermakna. Pembicaraan mereka juga dapat melompat dari satu topik ke topik lainnya, namun kurang menunjukkan keterkaitan antara ide atau pikiran-pikiran yang diekspresikan. Mereka juga tidak meyadari bahwa pikiran dan perilaku mereka tampak tidak normal. Adapun tanda-tanda kurang umum meliputi:
a.       Neologisme (kata-kata yang dibuat oleh pembicara yang kurang atau tidak memiliki arti bagi oranng lain).
b.      Perseverasi (pengulangan yang tidak sesuai namun menetap pada kata-kata yang sama, atau rentetan pikiran).
c.       Clanging (merangkaikan secara bersama kata-kata atau bunyi-bunyi berdasarkan rima. Misalnya “saya tau siapa saya tapi saya tidak tahu dia”).
d.      Blocking (tanpa di-kehendaki dan secara tiba-tiba pembicaraan atau pikiran terputus).
2.      Kekurangan dalam pemusatan perhatian
            Kesulitan memberikan perhatian pada stimulus yang relevan dan menyaring keluar stimulus yang tidak relevan.
3.      Gangguan gerakan mata
          Gerakan mata pada seseorang yang terkena skizofrenia tampak tidak normal, saat menelusuri sebuah target yang bergerak melintasi lapangan. Mata tidak terlihat fokus memperhatikan target, malah berbalik dan kemudian mengejarnya dalam gerakan yang menyentak.
4.      Gangguan persepsi
Bentuk yang paling umum pada gangguan persepsi ini ialah halusinasi. Halusinasi merupakan gambaran yang dipersepsi tanpa adanya stimulus dari lingkungan. Dan sangat sulit dibedakan dengan kenyataan. Halusinasi dapat melibatkan setiap indra:
a.    Halusinasi auditoris (mendengar suara-suara).
b.    Halusinasi taktil (seperti digelitik, sensasi listrik atau terbakar).
c.    Halusinasi somatis (seperti merasa ada ular yang menjalar di dalam perut).
d.   Halusinasi visual (melihat sesuatu yang tidak ada).
e.    Halusinasi gustatoris (merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak ada).
f.     Halusinasi olfaktoris (mencium bau yang tidak ada).


5.      Beberapa jenis hendaya lainnya
a.       Kebingungan akan identitas pribadi
b.      Hilangnya keinginan
c.       Perilaku yang sangat bersemangat atau kondisi stupor
d.      Gerakan tubuh yang ganjil atau ekspresi wajah yang aneh
e.       Hendaya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain[2]

C.    Jenis-Jenis Skizofrenia

1)      Skizofrenia yang tidak Teratur
          Skizofrenia ini sebelumnya disebut skizofrenia hebrefenik. Pada skizofrenia ini mempunyai ciri tingkah laku bodoh, ketidakpaduan anatara pikiran, bicara,  dan tindakan, sifat kekanak-kanakan. Orang yang menderita gangguan ini akan menarik diri secara ekstrem. Penderita tidak lagi tertarik pada dunia di sekitarnya, dan ia hampir sepenuhnya hidup di dalam dirinya sendiri. Ledakan-ledakan emosi seperti manangis dan tertawa, yang dialami penderita bukan akibat stimulus-stimulus dari luar, tetapi stimulus-stimulus yang berasal dari dunia khayalan tempat ia hidup. Penderita  biasanya tertawa terkikih-kikih seperti anak kecil. Ciri dan tingkah lakunya aneh, ia berbicara dan membuat gerak-gerik isyarat terhadap dirinya sendiri, berselang–seling antara menangis dan tertawa. Pada penderita tipe ini mengalami banyak halusinasi, seperti mendengar suara-suara yang mengatakan kepadanya hal-hal yang menyenangkan tetapi juga mencaci makinya. Pada tipe  skizofrenia ini dapat digambarkan sebagai orang yang dilanda sress kehidupan sehingga ia mundur ke tahap penyesuaian diri kanak-kanak. Regresi ini mungkin begitu ekstrim sehingga penderita bertingkah laku seperti bayi.
2)      Skizofrenia Katatonik
          Dalam reaksi katatonik, penderita berubah-ubah sikap antara keadaan stupor ( seperti terbius) dan keadaan gempar seperti meledak-ledak. Dalam keadaan stupor penderita kehilangan segala semangat, tetapi tidak bergerak selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan pada kejadian-kejadian tertentu bisa lebih lama lagi. Ia tidak makan dan tidak menunjukkan usaha untuk mengendalikan buang air besar atau buang air kecil. Pada skizofrenia jenis ini ia memepunyai reaksi yang khas, hal ini dapat di contohkan ketika  ia terlihat stupor (terbius), ia bisa mengetahui semua yang terjadi di sekitarnya dan kadang-kadang dapat memberikan bukti yang jelas atas apa yang diketahuinya. Penderita mudah dipengaruhi dan akan menirukan tingkah laku (apa yang dibuat) orang lain (ekopraksia) atau mengulangi secara mekanik kata-kata orang lain dan menjalankan perintah orang lain.
          Ketika dalam keadaan stupor penderita selalu berhalusinasi dan delusi. Halusinasi dan delusi mungkin melibatkan penderita dalam suatu konflik yang bersifat kosmis (misalnya kekuatan baik dan jahat mungkin pada saat itu penderita mengalami bertempur mati-matian di dalam dirinya. Selain itu, penderita juga mengalami delusi kemegahan dan merasa dikejar-kejar. Katatonia berkembang dari konflik dan represi yang berat. Kata-kata yang serimg diulang-ulang oleh penderita dan kelihatannya sama sekali tidak masuk akal bagi yang mendengarkannya tetapi bagi penderita sangat masuk akal.
3)      Skizofrenia Paranoid
          Ciri khas penderita paranoid adalah murung, mudah tersinggung dan curiga. Individu yang mengembangkan skizofrenia adalah orang yang sangat ambisius yang menetapkan cita-cita yang tidak mungkin dapat diraih dan kemudian menyalahkan orang lain atas kegagalannya dalam mencapai cita-cita itu (kebutuhan akan prestasi dan status), maka ia menyesuaikan diri dengan menyakinkan dirinya sendiri bahwa orang lainlah yang berusaha mencegahnya meraih sukses. Apabila penyakit berjalan terus, ia tidak dapat meneruskan pekerjaannya dan hidupnya menjadi tidak teratur.Penderita paranoid sebaiknya dirawat di rumah sakit, tetaoi ni sering kali sulit untuk dilaksanakan karena penyakitnya berubah-ubah dan penderita sendiri tidak mau dirawat. Gangguan psikotik yang parah mungkin suatau saat kelihatannya sembuh dan ia bisa bergaul dengan orang lain sehingga orang tidak bisa sungguh-sungguh menyelami penyakitnya.
4)      Skizofrenia Residual
Orang-orang yang mengalami gangguan skizofrenia residual adalah orang-orang yang sekurang-kurangnya memiliki riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau dan sekarang memperlihatkan beberapa tanda skizofrenia, seperti emosi yang tumpul, menarik diri dari orang-orang lain (masyarakat),bertingkah laku eksentrik atau mengalami gangguan pikiran, tetapi simton-simton ini pada umumnya tidak begitu kuat. Untuk mendiagnosis sebagai skizofrenia residual harus memenuhi semua persyaratan diantaranya adalah :
1.      Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya psikomotorik lambat, aktivitas menurun, afek yang menumpul,sikap pasif dan tidak ada yang inisiatif serta komunikasi non verbal yang buruk.
2.      Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas pada masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
3.      Sudah melampaui kurun waktu satu tahun di mana intensitas dan frekuensi gejala yang   nyata seperti waham (keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan dunia nyata, serta dibangun atas unsur-unsur yang dan halusinasi sangat berkurang (minimal) dan timbul sindrom negatif dari skizofrenia
4.        Tidak terdapat penyakit atau gangguan otak organik yang lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif (Maslim, 1998)
5)      Skizofrenia yang Tidak Terperinci
Skizofrenia yang tidak terperinci merupakan kategori keranjang sampah di mana individu yang mengalam skizofrenia tipe ini tidak memiliki salah satu atau lebih dari semua tipe skizofrenia yang dikemukakan. Menurut pendapat Muslim,skizofrenia yang tidak terperinci tidak memenuhi kriteria umum untuk diagnosis, tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, katatonik, atau tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia (Maslim, 1998)[3]

D.    Penyebab terjadinya Skizofrenia
1.            Prespektif Psikodinamika
            Skizofrenia mencerminkan ego yang dibanjirinya oleh dorongan-dorongan seksual primitif atau agresif atau implus-implus yang berasal dari id. Implus-implus tersebut mengancam ego dan berkembang menjadi konflik intrapsikis yang kuat. Di bawah ancaman seperti itu, orang tersebut mundur ke periode awal dari tahapan oral, yang disebut sebagai narsisme primer. Pada periode ini, bayi belum belajar bahwa dunia dan dirinya adalah hal yang berbeda. Karena ego menjembatani hubungan antara diri dengan dunia luar, kerusakan pada fungsi ego ini berpengaruh terhadap adanya jarak terhadap realitas yang khas skizofrenia. Masukan dari id menyebabkan fantasi menjadi disalahartikan sebagai realitas, menyebabkan halusinasi dan waham. Implus-implus primitif mungkin juga membawa beban yang lebih berat daripada norma-norma sosial dan diekspresikan pada perilaku yang aneh, dan tidak sesuai secara sosial.[4]
   Salah satu pengikut Freud, Sullivan (1962) meneliti masalah skizofrenia, menekankan pentingnya hubungan ibu dan anak yang terganggu, dan mengemukakan argumentasi bahwa hal tersebut dapat menetapkan tahapan untuk penarikan diri secara perlahan-lahan dari orang lain. Permusuhan antara anak dan orang tua membawa anak untuk mencari perlindungan pada dunia fantasi yang bersifat pribadi. Semakin anak menarik diri, semakin berkurang kesempatan yang ada untuk membangun kepercayaan pada orang lain dan keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk membangun keintiman. Kemudian ikatan yang lemah antara anak dan orang lain mendorong kecemasan sosial dan penarikan diri yang lebih jauh. Siklus ini berlanjut sampai masa dewasa muda.
Kemudian, dihadapkan dengan meningkatnya tuntutan di sekolah atau pekerjaan dan dalam hubungan intim, orang tersebut menjadi semakin dibanjiri dengan kecemasan dan menarik diri sepenuhnya ke dunia fantasi          Dengan kata lain dalam hal ini skizofrenia disebabkan karena adanya permasalahan keluarga. Sehingga salah satu anggota keluarganya menarik diri dari orang-orang sekitar dan lebih asyik dengan dunia fantasinya sendiri. Ditandai dengan kecemasan dan tidak percaya terhadap orang lain yang semakin membuat dirinya menarik diri dan masuk ke dunia fantasi.[5]
2. Prespektif Biologis
   Faktor biologis dalam hal ini memerankan peranan penting. Karena banyak kasus skizofrenia disebabkan oleh faktor biologis dari keluarga.
a.       Faktor Genetis
   Skizofrenia, sebagaimana banyak gangguan lainnya, cenderung menurun dalam keluarga (Erlenmeyer-Kimling dkk., 1997). Secara keseluruhan, keluarga tingkat pertama dari orang-orang yang mengalami skizofrenia (orang tua atau saudara kandung) memiliki sekitar sepuluh kali (APA, 2000; Kendler & Diehl, 1993). [6]
   Dukungan lebih jauh terhadap hubungan genetis menyatakan, semakin dekat hubungan genetis antara orang yang di diagnosis skizofrenia dan anggota keluarga mereka, semakin besar kecenderungan (atau concordance rate) mengidap skizofrenia pada keluarga mereka (Gottesman, 2001).  Hubungan genetis dengan orang yang mengalami skizofrenia tampaknya merupakan faktor risiko yang paling nyata untuk perkembangan gangguan.[7]
b.      Faktor Biokimia
   Penelitian biologis kontemporer tentang skizofrenia difokuskan pada peranan neurotransmiter dopmain. Teori dopmain beranggapan bahwa skizofrenia melibatkan terlalu aktifnya reseptor dopamain di otak-reseptor yang terletak di neuron pascasinaptik dimana molekul dopamain terikat (Haber & Fudge, 1997).[8] 
   Model dopamin ditemukan pada efek obat-obatan anti psikotik yang disebut neuroleptik. Neuroleptik berasal dari obat-obatan yang disebut phenothiazines, seperti Thorazine, Mellarile, dan Prolixine. Dengan neuroleptik menghambat meningkatnya perilaku skizofrenia.
   Untuk bukti yang mendukung peranan dopamin pada skizofrenia didasarkan pada kerja amfetamin, suatu kelompok obat-obat stimulan. Apabila diberikan dalam dosis yang besar kepada orang normal, obat-obatan tersebut dapat menyebabkan perilaku skizofrenia menyerupai skizofrenia paranoid.[9]
3. Teori Keluarga
   Faktor penyebab stres pada keluarga yang mungkin berinteraksi degan kerentanan genetis dalam menyebabkan berkembangnya skizofrenia. Dua sumberutama dari stres keluarga yang telah dipelajari adalah pola-pola komunikasi yang menyimpang dan ekspresi emodi yang negatif dalam keluarga.[10]
a.         Penyimpangan dalam komunikasi (communication deviance-CD)
   Adalah pola komunikasi yang tidak jelas, samar-samar, terganggu, atau terpecah-pecah, yang sering ditemukan pada orang tua dan anggota keluarga dari pasien skizofrenia. CD ditandai dengan pembicaraan yang sulit untuk diikuti dan sulit ditangkap intinya (Wahlberg dkk, 2001).[11]
   Penyimpangan komunikasi mungkin satu dari faktor-faktor yang berkaitan dengan stres yang menigkatkan risiko berkembangya skizofrenia pada individu yang memiliki kerentanan genetis (Goldstein, 1987). Penyimpangan komunikasi dapat terjadi ketika reaksi orang tua terhadap anak yang terganggu. Orang tua belajar bahasa yang aneh untuk menyesuaikan dengan anak yang terus menerus mengganggu mereka. Atau orang tua dan anak memiliki trait genetis yang sama, kemudian di ekspresikan dalam komunikasi yang terganggu dan meningkatkan kerentanan terhadap skizofrenia.[12]
b.      Ekspresi Emosi (Expressed emotion-EE)
EE melibatkan kecenderungan anggota keluarga untuk bersikap kejam, mengkritik, dan tidak mendukung pada anggota keluarga yang menderita skizofrenia. Orang dengan skizofrenia yang memiliki keluarga dengan EE tinggi cenderung menunjukkan penyesuaian diri yang lebih buruk dan memiliki rata-rata kambuh yang tinggi setelah keluar dari rumah sakit, dibandingkan mereka yang memiliki keluarga yang lebih mendukung (Cutting & Docherty, 2000; King & Dixon, 1999).[13]

E.     Dampak Gangguan skizofrenia

F.     Penanganan/intervensi Terhadap Penderita Skizofrenia

Dari berbagai macam referensi yang kami dapati, menyebutkan bahwa tidak ada suatu cara untuk menghilangkan/menyembuhkan skizofrenia. Yang ada hanya cara-cara untuk menekan penyakit skizofrenia agar tidak kambuh. Penanganannya pun berbeda-beda tergantung tingkat yang diderita pasien. Para ahli kebanyakan menggunakan pendekatan farmakologis, psikologis, dan rehabilitatif yang diseting dalam bentuk pelayanan kesehatan di rumah sakit jiwa. Adapun untuk lebih spesifik mengetahui bagaimana bentuk-bentuk penanganan terhadap penderita skizofrenia sebagai berikut:[14]

a.       Pendekatan Biologis
Pendekatan ini memiliki hubungan dengan pendekatan farmakologis karena penderita skizofrenia diwajibkan untuk meminum obat-obatan antipsikotik secara rutin untuk mengurangi halusinasi dan waham karena adanya ketegangan-ketegangan yang terjadi pada syaraf.[15]  Akan tetapi cara ini saja ternyata tidak cukup. Karena obat yang dikonsumsi ternyata menimbulkan efek samping yang kurang baik seperti menurunkan respon kesadaran terhadap lingkungan sosial bahkan sampai menyebabkan disabilitas atau yang dikenal dengan tardive dyskinesia.[16]


b.      Terapi Personal
Terapi ini merupakan bentuk lanjutan setelah penderita skizofrenia mengkonsumsi  obat antipsikotik. Yang mana ketika halusinasi/delusi dan waham sudah dapat ditangani menggunakan obat tadi, maka penderita mulai dibantu untuk mempelajari bagaimana menghadapi kritik orang lain, membangun keterampilan sosial, dan aktivitas-aktivitas yang membuat penderita tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Biasanya terapi ini akan jauh lebih efektif apabila penderita mendapat dukungan moril dari pihak keluarganya.[17]

c.       Rehabilitasi Psikososial
Kebanyakan penderita skizofrenia mengalami masalah dalam menjalankan peran-peran sosial maupun pekerjaannya. Oleh karena itulah penting bagi mereka untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya. Biasanya bentuk-bentuk rehabilitasi ini dirancang dengan menggunakan prinsip belajar, seperti mempelajari bagaimana mengurus keuangan/token ekonomi, memecahkan masalah dengan anggota keluarga, membangun persahabatan, pelatihan keterampilan sosial, berbelanja dan sebagainya.[18]

d.      Program Intervensi Keluarga
Kebanyakan keluarga memiliki persepsi yang salah terhadap penderita skizofrenia, hal tersebut dilakukan dengan cara memasung, mengurung penderita, memukul/menyiksa, meminggirkan mereka dalam hubungan sosial keluarga karena dianggap aib. Padahal dukungan dengan bentuk kedekatan/kasih sayang dari keluarga cukuplah penting. Oleh karenanya keluarga juga haruslah diberi pemahaman terkait dengan skizofrenia itu sendiri.[19] 

e.       Pengobatan Sosiokultural/Terapi Milieu
Lingkungan sosial tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap perilaku individu. Sedangkan pada penderita skizofrenia mereka cenderung mengalami kondisi maladaptif. Terapi milieu menjadi salah satu langkah untuk melakukan penangan terhadap penderita skizofrenia. Terapi Milieu adalah suatu model yang melibatkan proses sosial sebagai alat untuk mengubah perilaku individu. [20]
                                                

KESIMPULAN










































DAFTAR PUSTAKA











































MAKALAH
KESEHATAN MENTAL
(SKIZOFRENIA)
Dosen Pengampu : Andayani




Disusun oleh :



ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAN NEGERI YOGYAKARTA



[1] Makmuroch, “Keefektifan Ketrampilan Pelatihan Regulasi Terhadap Penurunan Tingkat Ekspresi Emosi Pada Caregiver Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta”, Wacana Jurnal Psikologi, Vol. 6 No. 11 (Januari 2014)
[2] Jeffrey S. Nevid, dkk., Psikologi Abnormal, Edisi Kelima, Jilid 2, (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 111-117

[3] Yustinus Semiun,OFM,Kesehatan Mental 3, (Yogyakarta : Kanisius,2006),hlm. 28-33
[4] Jeffrey S. Nevid, dkk.....hlm 120
[5] Ibid.
[6] Ibid.,hlm 121
[7] Ibid.,hlm 122
[8] Ibid.,hlm.123
[9] Ibid.,hlm.123-124
[10] Ibid.,hlm. 126
[11] Ibid.
[12] Ibid.,127
[13] Ibid.
[14] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dkk...hlm 131.
[15]   Ibid., hlm. 132.
[16] Richard P. Halgin dan Susan Krauss Whitbourne, Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis, (Jakarta: Salemba Humanika, 2011), hlm. 68
[17] Jeffrey S. Nevid, dkk, ibid., hlm. 133.
[18] Ibid.,hlm 135
[19] Ibid.
[20] Richard P. Halgin....hlm 71
  

1 komentar: