Kamis, 24 Maret 2016

ahlaq tasawuf

MENITI JALAN SURGA
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Akhlaq Tasawuf
Dosen Pengampu : H. Muhammad Hafiun

Disusun Oleh:
Sufi Amalia
NIM: 14250023



PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015



KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta karunianya sehingga saya dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang diberikan. Solawah serta salam salam saya haturkan kepada nabi pembawa cahaya iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini saya menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, saya menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini baik dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini dapat menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis lebih baik lagi.
Saya mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi wabaraktuh

Yogyakarta, 28 Mei 2015

Penulis



BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mengingat masa berabad-abad silam, di mana nabi Adam dan Siti Hawa hidup di surga, membuat semua umat manusia yakin bahwa kelak kita akan kembali ke surga. Tempat yang menurut bayangan orang-orang pada umumnya adalah tempat yang penuh dengan keindahan, kegembiraan dan hal menyenangkan lainnya. Memang benar kelak kita akan kembali ke tempat asal kita, yaitu Surga. Namun tidak serta-merta tanpa usaha kita akan kembali kesana. Semua butuh perjuangan. Seperti kita mau menyebrang danau, butuh yang namanya perjuangan untuk sampai ke tepi danau.
Allah SWT, memberi tiket murah untuk kita menuju Surganya, namun kebanyakan manusia hanya menginginkan surganya tanpa ada usaha. Sesungguhnya Surga adalah sebaik-baik nikmat yang Allah berikan kepada hambanya. Nikmat dunia tidak ada bandingannya dengan yang dinamakan Surga.
Oleh karena itu makalah ini saya buat untuk menjadi satu dari sekian banyak motifasi bagi kita untuk semangat meraih cintanya. Hanya dengan mendapat cinta Allah, maka surga menjadi mungkin untuk kita. Mari bersama menuju tujuan akhir yang bahagia. “Berakit-rakit kehulu, Bersenang-senang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Untuk siapa surga diciptakan?
2.      Seperti apa surga itu?
3.      Bagaimana kita memasuki surga?
C.     Tujuan
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Aklak Tasawuf yang diampu oleh Bapak H. Muhammad Hafiun. Isi di dalam makalah ini membahas tentang surga diperuntukan untuk siapa? Dan bagaiman cara kita memasuki tempat yang penuh dengan kebahagiaan tersebut.





















BAB III
PEMBAHASAN
A.    Untuk Siapa Surga diciptakan ?
Terkadang terbesit di pikiran kita, jika Allah sayang kepada aku kenapa dia memberi cobaan yang tak bisa aku lewati?. Sering sekali kita mengeluh dan jarang sekali mengucap syukur atas nikmat. Padahal semua yang ada pada diri kita dan yang terjadi adalah nikmat yang terhingga dari-Nya. Seperti ketika kita duduk itu adalah nikmat yang kadang kita lupakan. Coba saja ketika Allah tak memberi nikmat duduk apa kita bisa duduk? Tidak kawan. Kita hanya bisa berbaring. Bahkan berbaring itu juga nikmat yang Allah beri untuk kita. Coba pikir semua yang ada hanyalah nikmat yang tak terbatas.
Masih di dunia saja sudah banyak sekali nikmat yang Allah berikan. Apalagi jika nanti kita masuk surga, sungguh tak terkira banyaknya nikmat yang akan kita terima. Tapi sebenarnya surga itu untuk siapa?. Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim menjelaskan untuk siapa surga diciptakan.
      “aku telah menyiapkan surga untuk hamba-hambaku yang shalih, apa yang belum pernah mata melihat, telinga belum pernah mendengar, dan tidak terbesit dalam hati manusia.”(HR. Bukhori dan Muslim).
      Allah memberikan berbagai cobaan itu bertujuan agar kita bisa melaluinya dengan hati yang ikhlas, dengan manusia menerima apa yang telah terjadi diharapkan manusia masuk surga tanpa hisab. Seperti dalam firman-Nya.
      “...sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas”.[1]
     
B.     Seperti apa surga itu?
Tak ada yang bisa membayangkan surga secara pasti itu seperti apa. Keindahannya tak ada yang menyamai di muka Bumi ini. Bahkan taman terindah di Dunia pun tak bisa menyamai keindahannya. Berikut sabda Nabi tentang surga.
Nabi Saw, bersabda”Satu penyeru yang menyeru- menyeru penghuni Surga-,”Sesungguhnya bagi kalian keselamatan, dan kalian tidak pernah sakit, bagi kalian kehidupan dan kalian tidak akan pernah mati, dan bagi kalian kemudahan dan kalian tidak akan pernah (menjadi) tua.”
Umur semua yang hidup di Surga adalah sekitar tiga puluh tiga tahun. Mengapa? Tampaklah bahwa umur itu merupakan umur yang paling matang dan umur dimana manusia berempati dengan realitas maupun makna yang ada di sekitarnya.
Satu penyeru yang menyeru- menyeru penghuni surga- “Sesungguhnya bagi kalian kesehatan , dan kalian tidak pernah sakit, bagi kalian kehidupan dan kalian tidak akan pernah mati, dan bagi kalian kemudahan, dan kalian tidak akan pernah menjadi tu. Bersenang-senang dan tidak pernah khawatir.”
Ada empat perkara yang tidak akan ditemui di surga:
1.      Kesehatan abadi tanpa pernah sakit setelah itu
2.      Bagi kita kehidupan abadi dan kita tidak akan mati
3.      Kemudahan, sehingga tidak akan pernag menjadi tua setelah itu. Kita akan tetap dalam usia muda sepanjang masa tanpa pernah henti.
4.      Bersenang-senang tanpa pernah merasa khawatir akan kehilangan.
C.     Bagaimana kita memasuki surga?
1.      Pintu surga dari orang tua
a.       Birul Walidaini
Yaitu berbuat baik pada ibu dan ayah, berdasarkan nash Al-Qur’an dan Hadist.
Berdasar nash Al-Qur’an:
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Ayahmu dengan sebaik-baiknya.”(QS. Al-Israa’: 23)

“katakanlah, marilah kubaca apa yang diharuskan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan dia dan berbuat baiklah terhadap kedua orang, ibu ayah.” (QS. Al-An’aam: 151)
            Allah memaklumatkan satu peritah yang wajib ditinggalkan dan haram dikerjakan yaitu kemusyrikan. Satu perintah lagi wajib dikerjakan dan haram ditinggalkan yaitu berbuat baik kepada ibu dan ayah.
Wajib berbuat baik kepada ibu dan ayah berdasarkan sunnah Rasulullah Saw,
“Dari Abu Hurairah RA berkata, ‘seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya “ya Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku layani(patuhi)? Jawab Nabi ‘ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘kemudian siapa lagi?’ jawab nabi, ‘ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘kemudian siapa lagi?’ jawab Nabi, ‘ibumu.’’kemudian siapa lagi?’jawab Nabi, ‘Ayahmu.” (HR. Bukhori da Muslim).
b.      Khidmatul Ummi
Yaitu menngutamakan ibu tanpa mengabaikan jasa ayah. Alasannya, karena ibu merupakan orang yang bersusah payah dan menanggung beban derita paling besar dalam membesarkan anak.
Rasulullah memberi suatu kehormatan kepada ibu, dengan sabdanya “surgamu ada di bawah telapak kaki ibu.” Karenanya, beliau menganjurkan agar kita berkhidmad kepada ibu, terlebih bila dia sudah lanjut usia. Sebab, disanalah kunci-kunci surga berada.  
c.       Mahabatul Ummi
Yaitu kecintaan kepada ibu. Kita harus memahami betapa orang tua, terutama ibu, adalah orang yang sangat menyayangi kita. Besarnya kasih sayang ibu telah mengiringi perjalanan hidup kita selama ini. Walaupun kesusahan dirasakan demi membesarkan dan mendidik kita, ia jalani dengan penuh kesabaran hingga akhirnya kita menjadi besar, dewasa, dan dapat hidup mandiri. Sungguh hal yang sangat wajar bila orangtua, terutama ibu, harus dimuliakan dan dihormati.
d.      Syukur Lil Ummi
Yaitu kewajiban berterimakasih kepada ibu.  Setiap manusia wajib bersyukur kepada Allah dengan berterimakasih kepada orangtua, terutama ibu. Allah SWT berfirman:
“Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)[2]
2.      Pintu Surga dari Diri Sendiri
a.       Tobat
Tobat bermakna penyesalan. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam tobat terkandung tiga sifat:
·         Ilmu
·         Penyesalan atas l
b.      Sabar dan Syukur
c.       Khawf dan Raja’
d.      Fakir dan Zuhud
e.       Muraqabah dan Muhasabah
f.       Tawakal
g.      Al-Shidq
h.      Ikhlas
i.        Tafakur




[1] Amru Khalid, Hati Sebening Mata Air, (Solo: Aqwam, 2006), hlm.172.
[2] Mutia Mutmainnah, Keajaiban Doa dan Ridho Ibu, (Jakarta Selatan: PT. Wahyu Media, 2009), hlm.15.

PERSIAPAN DA’I SEBELUM BERDAKWAH

PERSIAPAN DA’I SEBELUM BERDAKWAH
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Tafsir Ayat-ayat Dakwah
Dosen Pengampu : Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag.

Description: F:\LOGO UIN\logo.png
Disusun Oleh:
Alfin Abdi Riski
Bima Anggara Yudha
Mila Marlinda
Sufi Amalia



PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta karunianya sehingga kami dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang diberikan. Solawah serta salam salam kami haturkan kepada nabi pembawa cahaya iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini kami menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini baik dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini dapat menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis lebih baik lagi.
kami mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi wabaraktuh

Yogyakarta, 13 April 2015

Penulis



BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang da’i dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat. Tujuannya adalah agar mengajak seluruh manusia menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan menghindarkan manusia dari jalan yang bisa merugikan manusia atau jalan yang salah.  
Dalam proses dakwah ini pastinya tidak segampampang yang kita harapkan melainkan terdapat bermacam rintangan, salah satunya penolakan oleh golongan lain. Banyak sekali tantangan dan cobaan-cobaan yang dihadapi oleh seorang da’i dalam menjalankan misi dakwah ini.
Untuk itu, seorang da’i sebelum melakukan dakwah hendaknya melakukan persiapan atau strategi dakwah terlebih dahulu agar dakwahnya berjalan lancar. Salah satunya adalah menguasai materi apa yang di sampaikan pada masyarakat, hal tersebut sangat penting karena seorang da’i di mata masyarakat merupakan seorang anutan, dan apabila da’i kurang melakukan persiapan dan belum menguasai materi maka masyarakat bisa keliru dalam memahaminya. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa lebih jelas lagi di bagian pembahasan pada makalah ini.




B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa itu da’i?
2.      Apa saja bekal para da’i?
                                                                                              
C.     Tujuan

Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Tafsir Ayat Dakwah. Isi di dalam makalah ini membahas persiapan atau strategi seorang da’i sebelum melakukan dakwah.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Da’i
Kata da’i berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang mengajak. dalam istilah ilmu komunikasi di sebut komunikator, di indonesia juga di kenal dengan sebutan lainseperti mubaligh, ustadz, kiai, ajengan,tuan guru, syeikh. Kemudian secar istilah da’i adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kata-kata, perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik menurut syariat al-quran dan sunah.[1]
ayat 108 QS. Yusuf
Description: E:\SEMESTER 2\TAFSIR AYAT DAKWAH\ayat2\12_108.png
Artinya: “Katakanlah,inilah jalan (agama-ku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. Yusuf: 108)
Ayat ini menyampaikan bahwa seorang dai harus mengetahui siapa dirinya, apa tujuan dakwahnya, sifat-sifat apa yang harus dimilikinya, siapa sasaran dakwhnya dan sasaran seta metode apa yang digunakannya.[2]





B.     Bekal Seorang Da’i
1.      Akhlak Da’i dan Sifat-sifatnya
Seorang Da’i sangat butuh kepada akhlak yang baik dan sifat yang mulia, yaitu akhlak islam yang telah dijelaskan oleh Allah SWT, dalam kitab-Nya dan dijelaskan oleh rasulullah Saw dalam sunnahnya.
Akhlak yang paling urgen yang harus dimiliki oleh seorang da’i ialah: Jujur, ikhlas, berdakwah kepada Allah SWT dengan bashirah, penyantun, lembut,lunak, sabar, kasih sayang, pemaaf, lapang dada, tawadhu, menepati janji, itsar (lebih mementingkan orang lain), takwa, memiliki keinginan yang kuat yang mencakup tekad (azimah) yang kuat, bercita-cita yang tinggi, optimisme, teratur, lihai (teliti), menjaga waktu, bangga dengan islam, mengamalkan sesuatu yang didakwahkannya agar menjadi qudwah (teladan) yang baik, zuhud, wara’, istiqamah, tanggap terhadap lingkungan, adil dan seimbang, selalu merasa akan adanya mu’iyatullah, tsiqah terhadapAllah SWT, bertahap dalam berdakwah, dan memulai dari yang terpenting kemudian yang penting, sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Saw, dan diperhatikan olehnya kepada Muadz bin Jabal ketika diutus ke negeri Yaman sebagai muallim (pengajar).[3]
Kredibilitas seorang da’i tidak tumbuh dengan sendirinya, ia harus dibina dan dipupuk. Memang kredibilitas erat kaitannya dengan karisma walau yang kredibilitas tinggi adalah seorang yang memiliki kompetensi dibidang yang ingin ia sebarkan, mempunyai jiwa yang tulus dan beraktifitas, senang terhadap pesan-pesan yang ia miliki, berbudi luhur, serta punya stetus yang cukup walau tidak harus tinggi. Dari sana berarti seoran da’i yang ingin memiliki kredibilitas tinggi harus berupaya membentuk dirinya dengan sungguh-sungguh.
Di samping itu, agar seorang da’i dengan mudah mengkomunikasikan pesan-pesan kepada komunikasikan, diperlukan pribadi yang cerdas, peka terhadap masyarakat, percaya terhadap dirinya, stabil emosinya, berani, bersemangat tinggi, penuh inisiatif, tegas tetapi juga hati-hati, kreatif serta berbudi luhur.[4]
Firman Allah yang menjelaskan tentang sikap berdakwah (Qs. Ali Imran: 159)
Description: E:\SEMESTER 2\TAFSIR AYAT DAKWAH\ayat2\ali imran ayat 159.png
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Seungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159)[5]

2.      Kompetensi Juru Dakwah
Agar suatu tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan tujuan tercapai dengan efektif dan efisien maka juru dakwah harus mempunyai kemampuan dibidang yang berkaitan dengan tugasnya. Karena semakin memiliki kemampuan yang profesional maka semakin meningkat pula keberhasilan tugas dakwahnya
Da’i akan berhasil dalam tugas melaksanakan dakwah jika dibekali kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengannya. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki da’i antara lain:
a.       Kemampuan berkomunikasi
b.      Kemampuan penguasaan diri
c.       Kemampuan pengetahuan psikologi
d.      Kemampuan pengetahuan kependidikan
e.       Kemampuan pengetahuan di bidang pengetehuan umum
f.       Kemampuan di bidang al-Qur’an[6]
Tidak cukup sampai di sini, para pendakwah juga harus mengetahui situasi negara atau daerah yang dituju, agar pembicaraan dan perbuatannya berhasil dan berfaedah. Pendakwah harus menguasai sejarah dan sistem pemerintahan negeri tersebut, kepercayaan tradisi dan sistem ekonomi.
Karena situasi berubah dari waktu ke waktu dan dari satu daerah ke daerah. Allah SWT mengajak untuk persiapan pendakwah dalam firmannya:
        Artinya: tidak sepatutnya bagi orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S., 9 : 122).[7]
Pendakwah yang hebat pastinya sebelum melakukan dakwah terdapat persiapan-persiapan khusus, dan materi dakwah yang akan di sampaikan masyarkat mestinya harus mengandung tiga bidang yaitu: Aqidah, yang menganut sistem keimanan/kepercayaan terhadap Allah SWT, berikutnya Syariat, rangkaian ajaran yang menyangkut aktivitas manusia muslimdi dalam semua aspek kehidupan, kemudian yang ketiga Akhlaq, yaitu tat cara berhubungan baik secara vertikal dengan Allah SWT.[8]
Sebelum berdakwah hendaknya para pendakwah itu senantiasa mengingat Allah SWT dengan jalan berdzikir yang tertera dalam firmannya:
Description: 33:41
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Qs. Al-Ahzaab: 41)
                              Ayat diatas menyampaikan keutamaan dzikir dan pahala orang-orang yang berdzikir. Allah SWT menguatkan perintah untuk senantiasa berdzikir dalam riwayat Mursal Baihaqi dari Makhul, “mengingat Allah adalah obat dan mengingat manusia adalah penyakit”. Diriwayatkan dari Qatadah “Ucapan subhannallah (maha suci Allah), Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), Laa illaaha illallaah (tidak ada tuhan yang berhak di sembah selain Allah), Allahu Akbar (Allah maha besar), Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya kekuatan selain karena pertolongan Allah)”[9]
Dzikir dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan Allah menuntun mereka menuju kebenaran yang tidak di ketahui orang lain, mengetahui jalan yang di tempuh orang lain yang mengantarkan menuju kekafiran, bid ah, dan kesesatan. Di akhirat Allah SWT mengamankan mereka dari ketakutan terbesar, memberi mereka naungan rahmat, malaikat memberi berita gembira mendapatkan surga dan selamat dari neraka sebagai wujud sayang dan cinta pada mereka.[10]























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan






















DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Syihata, Da’wah Islamiyah, Jakarta: C.V. Rofindo,1986
Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, Solo: Pustaka Arafah, juni 2001
Said bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Jakarta: Gema Insani Press, 1994
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009
Slamet Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, surabaya: Al Ikhlas, 1994
Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008









[1] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009, hal 68
[2] Said bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 94

[3] Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, (Solo: Pustaka Arafah, juni 2001), hlm. 95
[4] Smsul Munir amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: amzah, 2009), hlm.76
[5] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 618
[6] Slamet Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, (surabaya: Al Ikhlas, 1994), hlm.69-77
[7] Abdullah Syihata, Da’wah Islamiyah, (Jakarta: C.V. Rofindo,1986), hlm.24.
[8] Ahmad Amir Aziz, Pola Dakwah, Mataram, Larispda, 2011. Hal 15
[9] Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al-Wasith: Al-Qashas-An-Naas,(Jakarta: Gema Insani,2013), hlm. 141
[10] Ibid. Hal 9.