PERSIAPAN DA’I SEBELUM
BERDAKWAH
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Tafsir Ayat-ayat Dakwah
Dosen Pengampu : Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag.

Disusun Oleh:
Alfin Abdi Riski
Bima Anggara Yudha
Mila Marlinda
Sufi Amalia
PROGRAM STUDI
ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi
wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin,
segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta
karunianya sehingga kami dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang
diberikan. Solawah serta salam salam kami haturkan kepada nabi pembawa cahaya
iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan
agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan
lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini kami
menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat,
kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap
malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini,
kami menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini
baik dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini
dapat menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis
lebih baik lagi.
kami
mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan
dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan
kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi
wabaraktuh
Yogyakarta,
13 April 2015
Penulis
BAB
II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dakwah
merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang da’i dalam menyampaikan
ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat. Tujuannya adalah agar mengajak seluruh
manusia menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan menghindarkan manusia
dari jalan yang bisa merugikan manusia atau jalan yang salah.
Dalam
proses dakwah ini pastinya tidak segampampang yang kita harapkan melainkan
terdapat bermacam rintangan, salah satunya penolakan oleh golongan lain. Banyak
sekali tantangan dan cobaan-cobaan yang dihadapi oleh seorang da’i dalam
menjalankan misi dakwah ini.
Untuk
itu, seorang da’i sebelum melakukan dakwah hendaknya melakukan persiapan atau
strategi dakwah terlebih dahulu agar dakwahnya berjalan lancar. Salah satunya
adalah menguasai materi apa yang di sampaikan pada masyarakat, hal tersebut
sangat penting karena seorang da’i di mata masyarakat merupakan seorang anutan,
dan apabila da’i kurang melakukan persiapan dan belum menguasai materi maka
masyarakat bisa keliru dalam memahaminya. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa
lebih jelas lagi di bagian pembahasan pada makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Siapa
itu da’i?
2. Apa
saja bekal para da’i?
C.
Tujuan
Makalah
ini disusun guna melengkapi tugas Tafsir Ayat Dakwah. Isi di dalam makalah ini
membahas persiapan atau strategi seorang da’i sebelum melakukan dakwah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Da’i
Kata
da’i berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang mengajak. dalam istilah
ilmu komunikasi di sebut komunikator, di indonesia juga di kenal dengan sebutan
lainseperti mubaligh, ustadz, kiai, ajengan,tuan guru, syeikh. Kemudian secar
istilah da’i adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan kata-kata, perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi
yang baik atau lebih baik menurut syariat al-quran dan sunah.[1]
ayat 108
QS. Yusuf

Artinya:
“Katakanlah,inilah jalan (agama-ku), aku dan orang-orang yang mengikutiku
mengajak (kamu) kepada allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku
tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. Yusuf: 108)
Ayat ini menyampaikan bahwa seorang dai harus mengetahui
siapa dirinya, apa tujuan dakwahnya, sifat-sifat apa yang harus dimilikinya,
siapa sasaran dakwhnya dan sasaran seta metode apa yang digunakannya.[2]
B. Bekal
Seorang Da’i
1. Akhlak
Da’i dan Sifat-sifatnya
Seorang Da’i sangat butuh kepada akhlak
yang baik dan sifat yang mulia, yaitu akhlak islam yang telah dijelaskan oleh
Allah SWT, dalam kitab-Nya dan dijelaskan oleh rasulullah Saw dalam sunnahnya.
Akhlak yang paling urgen yang harus
dimiliki oleh seorang da’i ialah: Jujur, ikhlas, berdakwah kepada Allah SWT
dengan bashirah, penyantun, lembut,lunak, sabar, kasih sayang, pemaaf, lapang
dada, tawadhu, menepati janji, itsar (lebih mementingkan orang lain), takwa,
memiliki keinginan yang kuat yang mencakup tekad (azimah) yang kuat,
bercita-cita yang tinggi, optimisme, teratur, lihai (teliti), menjaga waktu,
bangga dengan islam, mengamalkan sesuatu yang didakwahkannya agar menjadi
qudwah (teladan) yang baik, zuhud, wara’, istiqamah, tanggap terhadap
lingkungan, adil dan seimbang, selalu merasa akan adanya mu’iyatullah, tsiqah
terhadapAllah SWT, bertahap dalam berdakwah, dan memulai dari yang terpenting
kemudian yang penting, sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Saw, dan
diperhatikan olehnya kepada Muadz bin Jabal ketika diutus ke negeri Yaman
sebagai muallim (pengajar).[3]
Kredibilitas seorang da’i tidak tumbuh
dengan sendirinya, ia harus dibina dan dipupuk. Memang kredibilitas erat
kaitannya dengan karisma walau yang kredibilitas tinggi adalah seorang yang
memiliki kompetensi dibidang yang ingin ia sebarkan, mempunyai jiwa yang tulus
dan beraktifitas, senang terhadap pesan-pesan yang ia miliki, berbudi luhur,
serta punya stetus yang cukup walau tidak harus tinggi. Dari sana berarti
seoran da’i yang ingin memiliki kredibilitas tinggi harus berupaya membentuk
dirinya dengan sungguh-sungguh.
Di samping itu, agar seorang da’i dengan
mudah mengkomunikasikan pesan-pesan kepada komunikasikan, diperlukan pribadi
yang cerdas, peka terhadap masyarakat, percaya terhadap dirinya, stabil
emosinya, berani, bersemangat tinggi, penuh inisiatif, tegas tetapi juga
hati-hati, kreatif serta berbudi luhur.[4]
Firman Allah yang menjelaskan tentang sikap berdakwah (Qs. Ali Imran: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Seungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159)[5]
2. Kompetensi
Juru Dakwah
Agar suatu tugas dapat dilaksanakan
dengan baik dan tujuan tercapai dengan efektif dan efisien maka juru dakwah
harus mempunyai kemampuan dibidang yang berkaitan dengan tugasnya. Karena
semakin memiliki kemampuan yang profesional maka semakin meningkat pula keberhasilan
tugas dakwahnya
Da’i akan berhasil dalam tugas
melaksanakan dakwah jika dibekali kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengannya.
Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki da’i antara lain:
a. Kemampuan
berkomunikasi
b. Kemampuan
penguasaan diri
c. Kemampuan
pengetahuan psikologi
d. Kemampuan
pengetahuan kependidikan
e. Kemampuan
pengetahuan di bidang pengetehuan umum
f. Kemampuan
di bidang al-Qur’an[6]
Tidak cukup sampai di sini,
para pendakwah juga harus mengetahui situasi negara atau daerah yang dituju,
agar pembicaraan dan perbuatannya berhasil dan berfaedah. Pendakwah harus
menguasai sejarah dan sistem pemerintahan negeri tersebut, kepercayaan tradisi
dan sistem ekonomi.
Karena situasi berubah dari
waktu ke waktu dan dari satu daerah ke daerah. Allah SWT mengajak untuk
persiapan pendakwah dalam firmannya:

Artinya: tidak
sepatutnya bagi orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa
tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk
memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya. (Q.S., 9 : 122).[7]
Pendakwah
yang hebat pastinya sebelum melakukan dakwah terdapat persiapan-persiapan
khusus, dan materi dakwah yang akan di sampaikan masyarkat mestinya harus
mengandung tiga bidang yaitu: Aqidah, yang menganut sistem keimanan/kepercayaan
terhadap Allah SWT, berikutnya Syariat, rangkaian ajaran yang menyangkut
aktivitas manusia muslimdi dalam semua aspek kehidupan, kemudian yang ketiga
Akhlaq, yaitu tat cara berhubungan baik secara vertikal dengan Allah SWT.[8]
Sebelum
berdakwah hendaknya para pendakwah itu senantiasa mengingat Allah SWT dengan
jalan berdzikir yang tertera dalam firmannya:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Qs. Al-Ahzaab: 41)
Ayat diatas
menyampaikan keutamaan dzikir dan pahala orang-orang yang berdzikir. Allah SWT
menguatkan perintah untuk senantiasa berdzikir dalam riwayat Mursal Baihaqi
dari Makhul, “mengingat Allah adalah obat dan mengingat manusia adalah
penyakit”. Diriwayatkan dari Qatadah “Ucapan subhannallah (maha suci Allah),
Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), Laa illaaha illallaah (tidak ada tuhan
yang berhak di sembah selain Allah), Allahu Akbar (Allah maha besar), Laa haula
wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya kekuatan selain karena pertolongan
Allah)”[9]
Dzikir
dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan Allah menuntun mereka menuju
kebenaran yang tidak di ketahui orang lain, mengetahui jalan yang di tempuh orang lain yang mengantarkan menuju
kekafiran, bid ah, dan kesesatan. Di akhirat Allah SWT mengamankan mereka dari
ketakutan terbesar, memberi mereka naungan rahmat, malaikat memberi berita
gembira mendapatkan surga dan selamat dari neraka sebagai wujud sayang dan
cinta pada mereka.[10]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Syihata, Da’wah Islamiyah,
Jakarta: C.V. Rofindo,1986
Said bin Ali bin Wahf
Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, Solo: Pustaka Arafah,
juni 2001
Said
bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Jakarta: Gema Insani Press, 1994
Samsul
Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009
Slamet
Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, surabaya: Al Ikhlas, 1994
Syaikh
Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008
[1] Samsul
Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009, hal 68
[2] Said bin
Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994),
hlm. 94
[3] Said bin
Ali bin Wahf Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, (Solo:
Pustaka Arafah, juni 2001), hlm. 95
[4] Smsul
Munir amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: amzah, 2009), hlm.76
[5] Syaikh
Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 618
[6] Slamet
Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, (surabaya: Al Ikhlas, 1994),
hlm.69-77
[7] Abdullah
Syihata, Da’wah Islamiyah, (Jakarta: C.V. Rofindo,1986), hlm.24.
[9] Wahbah
Az Zuhaili, Tafsir Al-Wasith: Al-Qashas-An-Naas,(Jakarta: Gema Insani,2013),
hlm. 141
[10] Ibid. Hal 9.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar