Kamis, 24 Maret 2016

PERSIAPAN DA’I SEBELUM BERDAKWAH

PERSIAPAN DA’I SEBELUM BERDAKWAH
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Tafsir Ayat-ayat Dakwah
Dosen Pengampu : Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag.

Description: F:\LOGO UIN\logo.png
Disusun Oleh:
Alfin Abdi Riski
Bima Anggara Yudha
Mila Marlinda
Sufi Amalia



PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta karunianya sehingga kami dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang diberikan. Solawah serta salam salam kami haturkan kepada nabi pembawa cahaya iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini kami menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini baik dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini dapat menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis lebih baik lagi.
kami mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi wabaraktuh

Yogyakarta, 13 April 2015

Penulis



BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seorang da’i dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh umat. Tujuannya adalah agar mengajak seluruh manusia menuju ke jalan yang diridhai oleh Allah SWT dan menghindarkan manusia dari jalan yang bisa merugikan manusia atau jalan yang salah.  
Dalam proses dakwah ini pastinya tidak segampampang yang kita harapkan melainkan terdapat bermacam rintangan, salah satunya penolakan oleh golongan lain. Banyak sekali tantangan dan cobaan-cobaan yang dihadapi oleh seorang da’i dalam menjalankan misi dakwah ini.
Untuk itu, seorang da’i sebelum melakukan dakwah hendaknya melakukan persiapan atau strategi dakwah terlebih dahulu agar dakwahnya berjalan lancar. Salah satunya adalah menguasai materi apa yang di sampaikan pada masyarakat, hal tersebut sangat penting karena seorang da’i di mata masyarakat merupakan seorang anutan, dan apabila da’i kurang melakukan persiapan dan belum menguasai materi maka masyarakat bisa keliru dalam memahaminya. Untuk lebih jelasnya mungkin bisa lebih jelas lagi di bagian pembahasan pada makalah ini.




B.     Rumusan Masalah
1.      Siapa itu da’i?
2.      Apa saja bekal para da’i?
                                                                                              
C.     Tujuan

Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Tafsir Ayat Dakwah. Isi di dalam makalah ini membahas persiapan atau strategi seorang da’i sebelum melakukan dakwah.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Da’i
Kata da’i berasal dari bahasa Arab yang berarti orang yang mengajak. dalam istilah ilmu komunikasi di sebut komunikator, di indonesia juga di kenal dengan sebutan lainseperti mubaligh, ustadz, kiai, ajengan,tuan guru, syeikh. Kemudian secar istilah da’i adalah orang yang mengajak kepada orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kata-kata, perbuatan atau tingkah laku ke arah kondisi yang baik atau lebih baik menurut syariat al-quran dan sunah.[1]
ayat 108 QS. Yusuf
Description: E:\SEMESTER 2\TAFSIR AYAT DAKWAH\ayat2\12_108.png
Artinya: “Katakanlah,inilah jalan (agama-ku), aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs. Yusuf: 108)
Ayat ini menyampaikan bahwa seorang dai harus mengetahui siapa dirinya, apa tujuan dakwahnya, sifat-sifat apa yang harus dimilikinya, siapa sasaran dakwhnya dan sasaran seta metode apa yang digunakannya.[2]





B.     Bekal Seorang Da’i
1.      Akhlak Da’i dan Sifat-sifatnya
Seorang Da’i sangat butuh kepada akhlak yang baik dan sifat yang mulia, yaitu akhlak islam yang telah dijelaskan oleh Allah SWT, dalam kitab-Nya dan dijelaskan oleh rasulullah Saw dalam sunnahnya.
Akhlak yang paling urgen yang harus dimiliki oleh seorang da’i ialah: Jujur, ikhlas, berdakwah kepada Allah SWT dengan bashirah, penyantun, lembut,lunak, sabar, kasih sayang, pemaaf, lapang dada, tawadhu, menepati janji, itsar (lebih mementingkan orang lain), takwa, memiliki keinginan yang kuat yang mencakup tekad (azimah) yang kuat, bercita-cita yang tinggi, optimisme, teratur, lihai (teliti), menjaga waktu, bangga dengan islam, mengamalkan sesuatu yang didakwahkannya agar menjadi qudwah (teladan) yang baik, zuhud, wara’, istiqamah, tanggap terhadap lingkungan, adil dan seimbang, selalu merasa akan adanya mu’iyatullah, tsiqah terhadapAllah SWT, bertahap dalam berdakwah, dan memulai dari yang terpenting kemudian yang penting, sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Saw, dan diperhatikan olehnya kepada Muadz bin Jabal ketika diutus ke negeri Yaman sebagai muallim (pengajar).[3]
Kredibilitas seorang da’i tidak tumbuh dengan sendirinya, ia harus dibina dan dipupuk. Memang kredibilitas erat kaitannya dengan karisma walau yang kredibilitas tinggi adalah seorang yang memiliki kompetensi dibidang yang ingin ia sebarkan, mempunyai jiwa yang tulus dan beraktifitas, senang terhadap pesan-pesan yang ia miliki, berbudi luhur, serta punya stetus yang cukup walau tidak harus tinggi. Dari sana berarti seoran da’i yang ingin memiliki kredibilitas tinggi harus berupaya membentuk dirinya dengan sungguh-sungguh.
Di samping itu, agar seorang da’i dengan mudah mengkomunikasikan pesan-pesan kepada komunikasikan, diperlukan pribadi yang cerdas, peka terhadap masyarakat, percaya terhadap dirinya, stabil emosinya, berani, bersemangat tinggi, penuh inisiatif, tegas tetapi juga hati-hati, kreatif serta berbudi luhur.[4]
Firman Allah yang menjelaskan tentang sikap berdakwah (Qs. Ali Imran: 159)
Description: E:\SEMESTER 2\TAFSIR AYAT DAKWAH\ayat2\ali imran ayat 159.png
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Seungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159)[5]

2.      Kompetensi Juru Dakwah
Agar suatu tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan tujuan tercapai dengan efektif dan efisien maka juru dakwah harus mempunyai kemampuan dibidang yang berkaitan dengan tugasnya. Karena semakin memiliki kemampuan yang profesional maka semakin meningkat pula keberhasilan tugas dakwahnya
Da’i akan berhasil dalam tugas melaksanakan dakwah jika dibekali kemampuan-kemampuan yang berkaitan dengannya. Kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki da’i antara lain:
a.       Kemampuan berkomunikasi
b.      Kemampuan penguasaan diri
c.       Kemampuan pengetahuan psikologi
d.      Kemampuan pengetahuan kependidikan
e.       Kemampuan pengetahuan di bidang pengetehuan umum
f.       Kemampuan di bidang al-Qur’an[6]
Tidak cukup sampai di sini, para pendakwah juga harus mengetahui situasi negara atau daerah yang dituju, agar pembicaraan dan perbuatannya berhasil dan berfaedah. Pendakwah harus menguasai sejarah dan sistem pemerintahan negeri tersebut, kepercayaan tradisi dan sistem ekonomi.
Karena situasi berubah dari waktu ke waktu dan dari satu daerah ke daerah. Allah SWT mengajak untuk persiapan pendakwah dalam firmannya:
        Artinya: tidak sepatutnya bagi orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (Q.S., 9 : 122).[7]
Pendakwah yang hebat pastinya sebelum melakukan dakwah terdapat persiapan-persiapan khusus, dan materi dakwah yang akan di sampaikan masyarkat mestinya harus mengandung tiga bidang yaitu: Aqidah, yang menganut sistem keimanan/kepercayaan terhadap Allah SWT, berikutnya Syariat, rangkaian ajaran yang menyangkut aktivitas manusia muslimdi dalam semua aspek kehidupan, kemudian yang ketiga Akhlaq, yaitu tat cara berhubungan baik secara vertikal dengan Allah SWT.[8]
Sebelum berdakwah hendaknya para pendakwah itu senantiasa mengingat Allah SWT dengan jalan berdzikir yang tertera dalam firmannya:
Description: 33:41
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Qs. Al-Ahzaab: 41)
                              Ayat diatas menyampaikan keutamaan dzikir dan pahala orang-orang yang berdzikir. Allah SWT menguatkan perintah untuk senantiasa berdzikir dalam riwayat Mursal Baihaqi dari Makhul, “mengingat Allah adalah obat dan mengingat manusia adalah penyakit”. Diriwayatkan dari Qatadah “Ucapan subhannallah (maha suci Allah), Alhamdulillah (segala puji bagi Allah), Laa illaaha illallaah (tidak ada tuhan yang berhak di sembah selain Allah), Allahu Akbar (Allah maha besar), Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya kekuatan selain karena pertolongan Allah)”[9]
Dzikir dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan Allah menuntun mereka menuju kebenaran yang tidak di ketahui orang lain, mengetahui jalan yang di tempuh orang lain yang mengantarkan menuju kekafiran, bid ah, dan kesesatan. Di akhirat Allah SWT mengamankan mereka dari ketakutan terbesar, memberi mereka naungan rahmat, malaikat memberi berita gembira mendapatkan surga dan selamat dari neraka sebagai wujud sayang dan cinta pada mereka.[10]























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan






















DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Syihata, Da’wah Islamiyah, Jakarta: C.V. Rofindo,1986
Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, Solo: Pustaka Arafah, juni 2001
Said bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Jakarta: Gema Insani Press, 1994
Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009
Slamet Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, surabaya: Al Ikhlas, 1994
Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008









[1] Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta, Amzah, 2009, hal 68
[2] Said bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 94

[3] Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, 9 Pilar Keberhasilan da’i dalam Berdakwah, (Solo: Pustaka Arafah, juni 2001), hlm. 95
[4] Smsul Munir amin, Ilmu Dakwah, (Jakarta: amzah, 2009), hlm.76
[5] Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), hlm. 618
[6] Slamet Muhaimin Abda, prinsip-prinsip metode dakwah, (surabaya: Al Ikhlas, 1994), hlm.69-77
[7] Abdullah Syihata, Da’wah Islamiyah, (Jakarta: C.V. Rofindo,1986), hlm.24.
[8] Ahmad Amir Aziz, Pola Dakwah, Mataram, Larispda, 2011. Hal 15
[9] Wahbah Az Zuhaili, Tafsir Al-Wasith: Al-Qashas-An-Naas,(Jakarta: Gema Insani,2013), hlm. 141
[10] Ibid. Hal 9.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar