MENGUPAS AYAT AL-QUR’AN DALAM BERDAKWAH
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Tafsir Ayat-ayat Dakwah
Dosen Pengampu : Dr. H. Waryono Abdul Ghafur, M.Ag.

Disusun Oleh:
Sufi Amalia
NIM: 14250023
PROGRAM STUDI
ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi
wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin,
segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta
karunianya sehingga kami dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang
diberikan. Solawah serta salam salam kami haturkan kepada nabi pembawa cahaya
iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan
agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan
lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini kami
menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat,
kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap
malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, kami
menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini baik
dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini dapat
menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis lebih
baik lagi.
kami
mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan
dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan
kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi
wabaraktuh
Yogyakarta,
17 Maret 2015
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seperti yang kita tahu, dakwah sudah dilaksanakan sejak pada zaman nabi
terdahulu. Dakwah pada zaman itu juga tidak mudah dilakukan. Karena dakwah nabi
dihadapkan dengan orang-orang jahiliyah atau orang bodoh. Pada saat dakwah nabi
dulu juga mengajarkan sikap lapang dada, toleransi dan memudahkan. Namun nabi
juga seorang manusia, yang tidak jauh dari kesalahan, nabi juga pernah marah
terhadap orang-rang bodoh. Dan inilah nabi kita, selalu bisa mengatasi
kemarahannya dengan “legowo”, belum tentu sahabat dapat menirunya, apa lagi
kita yang hannya orang biasa. Namun kita harus tetap berusah, walau kadang
terasa berat.
Dakwah islam masih tetap dilakukan sepeninggal Rasulullah Saw. Dan para
sahabat setianyalah yang menggantikan posisi beliau dalam berdakwah dan
memimpin negara. Tetap dakwah bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak
sekali rintangan yang menghadang para pendakwah. Mengenaskannya lagi perang
terjadi antar kaum muslim. Ini sungguh memprihatinkan.
Masuk pada era Modern. Bertambahnya tahun tidak menjadikan dakwah mudah
dilakukan. Justru malah semakin sulit. Memang pada saat ini oramg-orang sudah
tidak lagi bodoh seperti zaman dahulu. Tapi kenapa masih sulit?. Ini karena
orang-orang telah diperbudak oleh fasilitas yang modern. Sehingga dakwah yang
disampaikan dianggap angin lalu. Dari sini timbul ungkapan, jangan-jangan masa
ini telah kembali pada masa perbudakan dan kebodohan, di mana orang-orang
pintar di Negeri ini? Jawabannya, mereka ada, namun telah diperbudak oleh
fasilitas yang dianggap memanjakan
mereka, sehingga keperluan untuk masa depan pun terlupakan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu dakwah?
2. Siapa da’i dan hal yang
berkaitan dengannya?
3. Bagaimana sikap seorang pendakwah?
4. Bagaimana mengatasi tantangan
terhadap dakwah?
C. Tujuan
Makalah ini disusun guna
melengkapi tugas Tafsir Ayat Dakwah yang diampu oleh Bapak Waryono Abdul Ghafur. Isi di dalam makalah ini
membahas sikap dan tantangan sasaran dakwah terhadap aktivitas dakwah dan cara
sikap yanag seharusnya dilakukan oleh seorang da’i.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Dakwah
Berdasarkan penelusuran akar
kata (Etimologis), kata dakwah merupakan bentuk masdar dari kata yad’u (fi’il mudhar’i) dan da’a (fi’il madli) yang
artinya memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to summer),
menyeru (to propo), mendorong (to urge), dan memohon (to pray).[1]
Dengan demikian, dakwah adalah
upaya memanggil, menyeru, dan mengajak manusia menuju Allah SWT. Pemahaman ini
sejalan dengan penjelasan Allah dalam Surah Yusuf ayat 108. Sedangkan yang
dimaksud ajakan kepada Allah berarti ajakan kepada agama-Nya yaitu islam,
sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ali Imran ayat 19.[2]

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada
berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang
pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.
Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat
cepat hisab-Nya.”
(QS: Ali Imran Ayat: 19)[3]
(QS: Ali Imran Ayat: 19)[3]
Dalam surat ini menerangkan bahwa Islam memiliki beberapa keistimewaan,
antara lain:
a.
Islam adalah din yang benar
b.
Islam adalah din yang mengatur segala aspek
kehidupan
c.
Islam adalah din yang berlaku (umum) bagi segenap
manusia pada setiap tempat dan zaman
d.
(Melalui islam) Allah akan memberikan pahala bagi
orang yang patuh dan siksa bagi orang ingkar
e.
Islam sangat berkepentingan mengantarkan umat
manusia ketingkat kesempurnaannya
Dalam sikologi dakwah,
dakwah memiliki sikap sukarela dalam penerimaan message dakwah merupakan ciri
khas kejiwaan, maka kegiatan dakwah yang didasarkan atas pandangan psikologi
mengandung sifat persuasif (memberikan keyakinan), motifasi (merangsang),
konsultatif (memberikan nasihat), serta edukatif (memdidik).[5]
Dari pengertian di atas
dapat kita simpul kan bahwa dakwah ialah proses islamisasi dengan tujuan
mempertahankan islam dan meluruskan mereka yang ingkar dari Allah dan
ajarannya.
B.
Pengertian Da’i
ayat 108 QS.
Yusuf

Artinya: “Katakanlah,inilah jalan (agama-ku), aku
dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada allah dengan hujjah
yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”
(Qs. Yusuf: 108)
Ayat ini menyampaikan
bahwa seorang dai harus mengetahui siapa dirinya, apa tujuan dakwahnya,
sifat-sifat apa yang harus dimilikinya, siapa sasaran dakwhnya dan sasaran seta
metode apa yang digunakannya.[6]
Adapun salah satu firman
Allah yang membahas tentang tugas Da’i (Qs. Ali Imran: 110)

“kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang
mungkar, serta beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu
lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka
adalah orang-orang yang fasik.”[7]
Dalam penggalan ayat diatas dapat kita ketahui apa saja tugas seorang dai
itu, diantaranya menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan
beriman kepada Allah.
C.
Sikap Berdakwah
Untuk menjalankan tugas dakwah, kita juga harus memiliki sikap-sikap yang
mendukung kita dalam berdakwah. Tidak lucukan apabila dalam berdakwah kita
memiliki sikap yang tercela, bukannya orang-orang pada mendekat, malah mereka
pergi tanpa permisi. Firman Allah yang menjelaskan tentang sikap berdakwah (Qs.
Ali Imran: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Seungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal
kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159)[8]
“jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan
yang ma’ruf”[9]
Jadi dasar seorang Da’i bersikap sudah sangat jelas dalam
ayat di atas. Dari makna ayat ini dapat kita ketahui, dulu Rasulullah Saw,
bersikap lemah-lembut dengan orang yang berpaling pada perang Uhud dan tidak
bersikap kasar terhadap mereka maka Allah SWT menjelaskan bahwa beliau dapat
melakuka itu dengan sebab taufiq-Nya kepada beliau.[10]
D.
Tantangan dakwah
Adapun ayat yang membahas tentang tantangan dalam dakwah yaitu (Qs.
Fusshilat:26)

“Dan orang-orang kafir berkata janganlah kamu mendengar dengan sunguh-sungguh
akan Al-Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat
mengalahkan mereka”[11]
Maksud dari ayat ini orang-orang kafir pada zaman
Nabi Saw,ketika beliau membaca al-Qur’an dan menyaringkan suaranya orang-orang
kafir itu mengganggu dengan permainan dan kebatilan dengan cara menyenandungkan
syair dan pantun serta siulan. Supaya al-Qur’an dapat dikalahkan oleh
orang-orang kafir.[12]
Sesungguhnya tantangan terhadap dakwah itu sangat
banyak, dan benar-benar menguji kesabaran para pendakwah. Oleh karena itu
sebagai pendakwah hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.
Tegar dalam menghadapi ejekan
Jika kita mendapat ejekan, maka bersegeralah ingat kepada Rasul kita,
beliau lebih banyak mendapat ejekan, namun hatinya begitu tegar. Karena cahaya
Allah tidak akan padam karena ejekan.
b.
Tegar dalam menghadapi ejekan
Ketika orang Quraisy tidak mampu menghalangi dakwah Nabi Saw, mereka
membuat berbagai macam fitnah. Seperti pada (Qs. Shad: 4)
Yang artinya: “Mereka heran atas
kedatangan seseorang yang memberi peringatan (Rasul), dan orang-orang kafir itu
berkata, “orang-orang itu (Muhammad) adalah tukang sihir dan pendusta” (Qs.
Shad: 4)
Ini adalah gambaran tantangan dakwah islam kepada nabi Muhammad Saw,
diharapkan para pendakwah tidak menyerah hanya karna ada ISIS atau Teroris yang
mengatas namakan islam, sehingga banyak yang mengecap islam itujelek.
c.
Tegar dalam menghadapi teror fisik
Para penentang dakwah tidak akan pernah putus asa di dalam menghantam
dakwah Islam. Ketika dengan jalan fitnah dan ejekan belum menampakkan hasil,
tidak segan-segan mereka melakukan teror fisik kepada Rasulullah Saw, dan para
sahabat generasi awal.
Suatu saat Rasulullah Saw, tengah dalam keadaan shalat di Ka’bah, ketika
tiba-tiba datang Uqbah din Mu’ith membawa kotoran unta. Tanpa segan-segan lagi
kotoran binatang tersebut dilemparkan ke kepala Rasulullah Saw. Sungguh
buruklah apa yang mereka lakukan itu.
Demikian salah satu bentuk teror yang dilancarkan oleh musuh-musuh Allah,
untuk memadamkan semangat dan mematikan gerak dakwah. Berbahagialah mereka yang
senantiasa tegar di jalan dakwah.
d.
Tergar dalam menghadapi manisnya
rayuan
Tidak mampu menahan gerak dakwah dengan cara yang keras, tak segan-segan musuh-musuh
Islam menggunakan cara-cara yang halus. Seperti racun yang dimasukan ke dalam
gelas yang sangat cantik, dan warnanyan sangat menarik untuk diminum. Berbagai
bukukan dan rayuan mereka lancarkan agar para aktifis dakwah menjadi lemah dan
berubah sikap serta pendirian.
e.
Tegar dalam menghadapi tekanan
keluarga
Dakwah nabi dulu mendapat tekanan dari keluarga, seperti pamannya Abu
Jahal. Dengan berbagai cara ia berusaha menghancurkan nabi Muhammad Saw.
f.
Tegar dalam kondisi kekurangan
Rasulullah saw, dan sahabat dulu dalam menempuh medan yang berat, dalam
kondisi serba kekurangan materi. Namun dakwah toh tetap berjalan, bahkan kelak
dimenangkan oleh Allah. Salah satu sahabat nabi yaitu, Abu Bakar Ash Shiddiq
merelakan semua hartanya dalam jalan dakwah, sampai ia dalam kondisi faqir.
Sampai ada suatu riwayat yang menyampaikan bahwa lewat malaikat Jibril
Allah menitipkan salam, “ Sampaikan salam Allah baginya dan tanyakan apakah ia
rela atau dia marah dengan kondisi faqir seperti itu?”
Mendengar hal itu Abu Bakar menangis dan berkata “apakah aku tidak ridho
dengan keputusan Allah?”
Inilah ketegaran kaum muslimin dalam berdakwah. Semoga kita dapat
meneladani sikap mereka dalam berdakwah.
Oleh karena banyaknya cobaan para pendakwah harus tegar dan teguh pendirian,
agar tidak terombang-ambing dan kemudian tenggelam kedalam jurang penyesalan
BAB III
A.
Kesimpulan
Setelah melalui pembahasan diatas, dapat kita ketahui bahwa ayat-ayat
al-Qur’an menjelaskan apa itu dakwah, berbagai macam sikap dalam berdakwah,
bagaimana menyikapi tantangan terhadap dakwah. Semua hal yang sudah dilampirkan
di atas sudah ada sejak zaman nabi dulu menyampaikan dakwahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Musthafa Al maraghi, Terjemah Tafsir Al Maraghi,
CV. Toha Putra, Semarang
Ilyas Supena, Filsafat Ilmu
Dakwah: Perspektif Filsafat Ilmu Sosial, Anggota IKAPI, Yogyakarta, 2013
Muhammad Arifin, Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi,
Bumi Aksara, Jakarta, 1991
Said bin Ali Qahthani, Dakwah Islam Dakwah Bijak, Gema
Insani Press, Jakarta, 1994
Sayyid Quthb, Fi Zhilalil Qur’an, Gema Insani, Jakarta,
2003
Syaikh Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, Pustaka
Azzam, Jakarta, 2008
Tata Sukayat, Quantum Dakwah, Rineka Cipta, Jakarta, 2009
[1] Ilyas Supena, Filsafat
Ilmu Dakwah: Perspektif Filsafat Ilmu Sosial, (Yogyakarta: Anggota IKAPI,
2013), hlm. 89
Tidak ada komentar:
Posting Komentar