MENGENAL DUNIA
REMAJA AWAL
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Psikologi untuk Kesejahteraan Sosial
Dosen Pengampu : Muslim Hidayat, S. Sos. I.
Disusun Oleh:
Sufi Amalia
Siti Nuzulul
Istiqomah
Ngaqib Faisal
Rizqi
Edwin Oktavianto
PROGRAM STUDI
ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa
remaja merupakan masa di mana seseorang berada pada situasi yang tidak bisa dikatakan
anak-anak atau dewasa. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang tidak
jelas. Hanya saja karena kehidupannya masih terombang ambing karena pencarian
jatidiri, makanya dunia remaja dikatakan tidak memiliki tempat. Remaja juga belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik
maupun psikisnya. Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan
kanak-kanak, mereka masih harus menemukan tempat dalam masyarakat untuk hidup
nyaman tanpa ada yang terganggu. Pada masa ini para remaja memiliki perasaan
yang lebih sensitif. Oleh karena itu para orang tua harus sangat hati-hati
dalam mendidik mereka. Karena salah sedikit saja mereka bisa salah mengartikan
apa yang dimaksud oleh orang tua. Pada masa ini remaja senang melakukan berbagai kegiatan, ini dilakukan
untuk menemukan pola kehidupan yang sesuai dengan apa yang diinginkankan. Oleh
karena itu remaja sering melakukan kegiatan yang dianggap menyimpang, bahkan
terkadang bisa membuat lingkungan resah.
B.
Rumusan Masalah
a. Apa pengertian Fase Remaja?
b. Apa Tugas Perkembangan dan Kesejahteraan
Psikologis Fase Remaja?
c. Bagaimana Sudut Pandang Masyarakat dan
Agama pada Fase Remaja?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Masa Remaja
Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang
berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Sedangkan istilah adolescence mempunyai arti yang lebih
luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.[1]
B. Tugas Perkembanngan dan Kesejahteraan
Psikologis
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut
perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit
anak laki-laki dan perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas
tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat.
Kebanyakan harapan tumpukan padahal ini adalah bahwa remaja muda akan
meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
Penelitian singkat mengenai tugas-tugas
perkembangan masa remaja yang penting akan
menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah
yang timbul dari perubahan itu sendiri.
Seringkali
sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak
mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu
dewasa nantinya.
Menerima peran seks dewasa yang diakui
masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki; mereka
telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda
dengan anak perempuan. Sebagai anak-anak mereka diperbolehkan bahkan didorong
untuk memainkan peran sederajat sehingga usaha
untuk mempelajari peran feminism dewasa yang diakui masyarakat dan menerima peran tersebut, seringkali
merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.
Karena adanya pertentangan dengan lawan
jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka
mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol
dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus
bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang
dengan teman sebaya sesame jenis juga tidak mudah.
Bagi reamaja yang sangat membanggakan
kemandirian usaha mandiri untuk emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa
lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun kemandirian emosi tidaklah
sama dengan kemandirian prilaku. Banyak remaja yang ingin juga ingin dan
membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua
atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusanya pada
kelompok tidak meyakinkan atau yang
kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.
Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan
perkembangan ketrampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan
sosial. Namun hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan ketrampilan dan
konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktifitas
ekstrakulikuler menguasai praktek demikian namun mereka yang tidak aktif karena harus bekerja setelah sekolah atau
tidak diterima oleh teman-temantidak memperoleh kesempatan ini.
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba
untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua
berpearan banyak dalam perkembangan ini. namun bla nilai-nilai dewasa
bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya maka remaja harus memilih yang
terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan
sosial mereka.
Erat hubungannya dengan masalah
pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan
di masuki adalah tugas untuk mengembangkan prilaku sosial yang bertanggung
jawab. Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman-teman sebaya tetapi hal
ini seringkali diperoleh dengan prilaku yang oleh orang dewasa di anggap tidak
bertanggung jawab. Misalnya, kalu
menghadapi masalah menolong atau menipu teman ujian ketika ujian, maka remaja
harus memilih antara setandar remaja dan setandar tman-teman.
Kecenderungan kawin muda menyebabkan
persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam
tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku sesuai yang
berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah etapi aspek perkawinan yang lain
hanya sedikit di persiapkan-dirumah, disekola dan di perguruan tinggi. Dan
lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan tanggung jawab kehidupan
keluarga.kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari “masalah
yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja di bawa kedalam masa dewasa. [2]
C. Sudut Pandang Masyarakat dan Agama pada
Fase Remaja
a. Sudut Pandang Agama
Periodisasi
masa remaja (Pubertas, Remaja awal dan Remaja Akhir) dalam psikologi Islam
disebut amrad[3]
yaitu fase persiapan bagi manusia untuk melakukan peran sebagai Khalifah Allah di bumi adanya kesadaran
akan tanggungjawab terhadap sesame makhluk, meneguhkan pengabdiannya kepada
Allah melalui aktifitas amar ma’ruf nahi munkar pubertas. Pubertas berasal dari
kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin yaitumerupakan
tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual. Dengan kata
lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih menunjukkan remaja
dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya di pakai dalam hubungannya
dengan perkembangan bioseksualnya. [4]
Masa
remaja pada usia 18 tahun merupakan masa yang secara hukum dipandang sudah
matang, yang merupakan masa peralihan dari masa akhir anak-anak kemasa dewasa (
Siti Partini, 1995) dalam psikologi Islam pada masa ini di tandai dengan
kemampuan seseorang dalam memahami beban taklif, terutama menyangkut
dasar-dasar agama, jenis-jenis kewajiban dan prosedur atau cara pelaksanaannya.
[5]
b. Sudut Pandang Masyarakat
Hubungam seseorang
dengan masyarakatnya menjadi semakin penting pada masa remaja. Khususnya dalam
proses emansipasi perlu ada tinjauan bagaimana remaja dengan masyarakatnya.
Dalam mendidik remaja perlu diarahkan kepada hal-hal yang baik untuk menjaga
keselarasan antara individu dan masyarakat, jadi apa yang baik untuk menjaga
kelestarian “social order”. Hal ini sering menimbulkan bahan konflik karena
remaja mempunyai ideal dan cita-cita sendiri yang tidak ditemuukan di
masyarakat. Remaja mengalami pertentangan antara apa yang diidam-idamkan dengan
kenyataan yang ada. Pertentangan antara remaja dan masyarakat ini menurut
Mollenhaueur :
1. Pertentangan antara inteegrasi dan
partisipasi kritis.
Supaya
masyarakat bisa berfungsi dengan baik, maka semua perlu tanggung jawab bersama
dan para remaja perlu dipersiapkan untuk hal tersebut. Namun sebaliknya banyak
diketemukan hambatan dan rintangan bagi remaja untuk bisa ikut berpatisipasi
secara kritis dalam berbagai institusi seperti keluarga, sekolah serta
kehidupan usaha. Sebagian besarr remaja telah mengambil sikap konformistis
sehingga lebih menyesuaikan diri dengan pola masyarakat daripada dengan
cita-cita sendiri.
2. Pertentangan antara sugesti mengenal
kehidupan yang serba enak dengan kenyataan yang ada: masih tergantung orangtua.
Ideal
perkembangan seseorang adalah mencapai aktualisasi diri atau perwujudan diri.
Anak muda masih diliputi penuh cita-cita akan kehidupan yang lebih bebas
mandiri lepas dari ikatan rumah dan lingkungannya. Kenyataannya adalah bahwa
remaja masih terikat akan sejarah hidupnya masih juga meniti jalan yang sudah
“ditentukan” baginya oleh pendidikan dan lingkungannya. Dalam waktu luang
remaja sering melamunkan kehidupan yang lebih menyenagkan membeli barang-barang
yang disenangi. Namun keadaan itu juga bubar bila ia memilih untuk kawin,
artinya mulai melepaskan status interimnya. Remaja memasuki kehidupan
bertanggung jawab dan waktu luangnya diisi dengan usaha menambah penghasilan
hidup yang biasanya menuntut penyesuaian dengan norma-norma yang ada dalam
masyarakat.
3. Pertentangan antara perhatian mengenai
factor ekonomi dan pembentukan dan kepribadian.
Pertentangan
yang terjadi disini adalah pertentangan yang sungguh-sungguh: numerus fixus dan
pengstrukturan kembali system pengajaran yang bersifat ilmiah. Makin banyak
anak-anak muda yang ingin mellanjutkan keperguruan tinggi sebagai akibat
situasi hidup yang lebih baik. Kenutuhan akan sarjana bertambah. Pengstrukturan
kembali membawa akibat bahwa makin banyak mahasiswa yang diketemukan lebih
cocok untuk pengajaran yang non-akademis dan juga bahwa dari kelompok mahasiswa
ada sebagian yang cocok untuk pekerjaan yang tidak terlalu akademis dan
sebagian sangat cocok untuk menjadi peneliti yang ulung, mencapai puncak kerja
akademis dan nanti dapat mencapai tangga yang paling tinggi dalam masyarakat.
Dalam keseluruhan pendidikan mamkin Nampak bahwa kebutuhan ekonomi makin
menguasai pembentukan kepribadian anak. Tetapi disamping itu, Nampak pula bahwa
pendidikan sering kali bertujuan untuk membuat anak politis dewasa dan mencapai
emansipasi yang kurang ada hubungannya dengan keaadaan orde ekonomi yang ada.
Timbulah aksi-aksi ujuk rasa menentang orde tersebut serta menentang
lembaga-lembaga yang lebih mementingkan kebutuhan ekonomi. Remaja dan kaum muda
pada umumnya menjadi unsure pokok pada aksi unjuk rasa tersebut.[6]
BAB
III
PENUTUP
A. Kritik dan Diskusi
Setelah kami berdiskusi dalam waktu yang
lama, kami dapat mengetahui apa itu fase remaja dan tugasnya. Serta bagaimana
pandangan masyarakat terhadap remaja yang saat ini cenderung berpandangan
negatif.
B. Kesimpulan
Masa remaja menunjukkan
masa peralihan karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak
lagi memiliki status kanak-kanak. Pada usia ini remaja juga memiliki tugas pada
perkembangannya. Pada setiap tugas, remaja perlu memahaminya untuk memasuki
fase dewasa awal. Karena dengan memahami ini remaja diharapkan dapat menemukan
solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinnya. Sehingga dalam proses menuju
dewasa, seorang remaja bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2002.
Elizabeth
B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga:
1980.
Fuad
Nashori, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003.
Siti
Partini Suadirman et.al. Perkembangan Peserta Didik, Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2006.
[1] Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, (Erlangga: 1980),
hlm.206.
[2] Ibid, 210.
[3] Fuad Nashori, potensi-potensi
manusia, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003, h.153.
[4] Siti Partini Suardiman et.al., Perkembangan
Peserta Didik,Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Yogyakarta, 2006, h.127.
[5] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa
Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2002,h.106-107.
[6] Monks-Knoers, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, Tahun 2006, h. 308-311
Tidak ada komentar:
Posting Komentar