Kamis, 24 Maret 2016

MENGENAL DUNIA REMAJA AWAL
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Psikologi untuk Kesejahteraan Sosial
Dosen Pengampu : Muslim Hidayat, S. Sos. I.

Disusun Oleh:
Sufi Amalia
Siti Nuzulul Istiqomah
Ngaqib Faisal Rizqi
Edwin Oktavianto



PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015





BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa di mana seseorang berada pada situasi yang tidak bisa dikatakan anak-anak atau dewasa. Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang tidak jelas. Hanya saja karena kehidupannya masih terombang ambing karena pencarian jatidiri, makanya dunia remaja dikatakan tidak memiliki tempat. Remaja juga  belum mampu menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya. Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan kanak-kanak, mereka masih harus menemukan tempat dalam masyarakat untuk hidup nyaman tanpa ada yang terganggu. Pada masa ini para remaja memiliki perasaan yang lebih sensitif. Oleh karena itu para orang tua harus sangat hati-hati dalam mendidik mereka. Karena salah sedikit saja mereka bisa salah mengartikan apa yang dimaksud oleh orang tua. Pada masa ini remaja senang melakukan berbagai kegiatan, ini dilakukan untuk menemukan pola kehidupan yang sesuai dengan apa yang diinginkankan. Oleh karena itu remaja sering melakukan kegiatan yang dianggap menyimpang, bahkan terkadang bisa membuat lingkungan resah.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian Fase Remaja?
b.      Apa Tugas Perkembangan dan Kesejahteraan Psikologis Fase Remaja?
c.       Bagaimana Sudut Pandang Masyarakat dan Agama pada Fase Remaja?











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Masa Remaja
Istilah Adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Sedangkan istilah adolescence mempunyai arti yang lebih luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.[1]
B.     Tugas Perkembanngan dan Kesejahteraan Psikologis
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya terlambat. Kebanyakan harapan tumpukan padahal ini adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
Penelitian singkat mengenai tugas-tugas perkembangan masa remaja yang penting akan  menggambarkan seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri.
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya.
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah mempunyai banyak kesulitan bagi anak laki-laki; mereka telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda dengan anak perempuan. Sebagai anak-anak mereka diperbolehkan bahkan didorong untuk memainkan peran sederajat sehingga usaha  untuk mempelajari peran feminism dewasa yang diakui masyarakat  dan menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun.
Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir masa kanak-kanak dan masa puber, maka mempelajari hubungan baru dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk mengetahui hal ihwal lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya sesame jenis juga tidak mudah.
Bagi reamaja yang sangat membanggakan kemandirian usaha mandiri untuk emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian prilaku. Banyak remaja yang ingin juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusanya pada kelompok tidak  meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang akrab dengan anggota kelompok.
Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan perkembangan ketrampilan intelektual dan konsep yang penting bagi kecakapan sosial. Namun hanya sedikit remaja yang mampu menggunakan ketrampilan dan konsep ini dalam situasi praktis. Mereka yang aktif dalam berbagai aktifitas ekstrakulikuler menguasai praktek demikian namun mereka yang tidak aktif  karena harus bekerja setelah sekolah atau tidak diterima oleh teman-temantidak memperoleh kesempatan ini.
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan nilai-nilai dewasa; orang tua berpearan banyak dalam perkembangan ini. namun bla nilai-nilai dewasa bertentangan dengan nilai-nilai teman sebaya maka remaja harus memilih yang terakhir bila mengharapkan dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.
Erat hubungannya dengan masalah pengembangan nilai-nilai yang selaras dengan dunia nilai orang dewasa yang akan di masuki adalah tugas untuk mengembangkan prilaku sosial yang bertanggung jawab. Sebagian besar remaja ingin diterima oleh teman-teman sebaya tetapi hal ini seringkali diperoleh dengan prilaku yang oleh orang dewasa di anggap tidak bertanggung jawab.  Misalnya, kalu menghadapi masalah menolong atau menipu teman ujian ketika ujian, maka remaja harus memilih antara setandar remaja dan setandar tman-teman.
Kecenderungan kawin muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku sesuai yang berangsur-angsur mengendur dapat mempermudah etapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit di persiapkan-dirumah, disekola dan di perguruan tinggi. Dan lebih-lebih lagi persiapan tentang tugas-tugas dan tanggung jawab kehidupan keluarga.kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari “masalah yang tidak terselesaikan” yang oleh remaja di bawa kedalam masa dewasa. [2]
C.     Sudut Pandang Masyarakat dan Agama pada Fase Remaja
a.       Sudut Pandang Agama
Periodisasi masa remaja (Pubertas, Remaja awal dan Remaja Akhir) dalam psikologi Islam disebut amrad[3] yaitu fase persiapan bagi manusia untuk melakukan peran sebagai Khalifah Allah di bumi adanya kesadaran akan tanggungjawab terhadap sesame makhluk, meneguhkan pengabdiannya kepada Allah melalui aktifitas amar ma’ruf nahi munkar pubertas. Pubertas berasal dari kata pubes (dalam bahasa latin) yang berarti rambut kelamin yaitumerupakan tanda kelamin sekunder yang menekankan pada perkembangan seksual. Dengan kata lain pemakaian kata pubertas sama dengan remaja tetapi lebih menunjukkan remaja dalam perkembangan seksualnya atau pubertas hanya di pakai dalam hubungannya dengan perkembangan bioseksualnya. [4]  
Masa remaja pada usia 18 tahun merupakan masa yang secara hukum dipandang sudah matang, yang merupakan masa peralihan dari masa akhir anak-anak kemasa dewasa ( Siti Partini, 1995) dalam psikologi Islam pada masa ini di tandai dengan kemampuan seseorang dalam memahami beban taklif, terutama menyangkut dasar-dasar agama, jenis-jenis kewajiban dan prosedur atau cara pelaksanaannya. [5]
b.      Sudut Pandang Masyarakat
Hubungam seseorang dengan masyarakatnya menjadi semakin penting pada masa remaja. Khususnya dalam proses emansipasi perlu ada tinjauan bagaimana remaja dengan masyarakatnya. Dalam mendidik remaja perlu diarahkan kepada hal-hal yang baik untuk menjaga keselarasan antara individu dan masyarakat, jadi apa yang baik untuk menjaga kelestarian “social order”. Hal ini sering menimbulkan bahan konflik karena remaja mempunyai ideal dan cita-cita sendiri yang tidak ditemuukan di masyarakat. Remaja mengalami pertentangan antara apa yang diidam-idamkan dengan kenyataan yang ada. Pertentangan antara remaja dan masyarakat ini menurut Mollenhaueur :
1.      Pertentangan antara inteegrasi dan partisipasi kritis.
Supaya masyarakat bisa berfungsi dengan baik, maka semua perlu tanggung jawab bersama dan para remaja perlu dipersiapkan untuk hal tersebut. Namun sebaliknya banyak diketemukan hambatan dan rintangan bagi remaja untuk bisa ikut berpatisipasi secara kritis dalam berbagai institusi seperti keluarga, sekolah serta kehidupan usaha. Sebagian besarr remaja telah mengambil sikap konformistis sehingga lebih menyesuaikan diri dengan pola masyarakat daripada dengan cita-cita sendiri.
2.      Pertentangan antara sugesti mengenal kehidupan yang serba enak dengan kenyataan yang ada: masih tergantung orangtua.
Ideal perkembangan seseorang adalah mencapai aktualisasi diri atau perwujudan diri. Anak muda masih diliputi penuh cita-cita akan kehidupan yang lebih bebas mandiri lepas dari ikatan rumah dan lingkungannya. Kenyataannya adalah bahwa remaja masih terikat akan sejarah hidupnya masih juga meniti jalan yang sudah “ditentukan” baginya oleh pendidikan dan lingkungannya. Dalam waktu luang remaja sering melamunkan kehidupan yang lebih menyenagkan membeli barang-barang yang disenangi. Namun keadaan itu juga bubar bila ia memilih untuk kawin, artinya mulai melepaskan status interimnya. Remaja memasuki kehidupan bertanggung jawab dan waktu luangnya diisi dengan usaha menambah penghasilan hidup yang biasanya menuntut penyesuaian dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
3.      Pertentangan antara perhatian mengenai factor ekonomi dan pembentukan dan kepribadian.
Pertentangan yang terjadi disini adalah pertentangan yang sungguh-sungguh: numerus fixus dan pengstrukturan kembali system pengajaran yang bersifat ilmiah. Makin banyak anak-anak muda yang ingin mellanjutkan keperguruan tinggi sebagai akibat situasi hidup yang lebih baik. Kenutuhan akan sarjana bertambah. Pengstrukturan kembali membawa akibat bahwa makin banyak mahasiswa yang diketemukan lebih cocok untuk pengajaran yang non-akademis dan juga bahwa dari kelompok mahasiswa ada sebagian yang cocok untuk pekerjaan yang tidak terlalu akademis dan sebagian sangat cocok untuk menjadi peneliti yang ulung, mencapai puncak kerja akademis dan nanti dapat mencapai tangga yang paling tinggi dalam masyarakat. Dalam keseluruhan pendidikan mamkin Nampak bahwa kebutuhan ekonomi makin menguasai pembentukan kepribadian anak. Tetapi disamping itu, Nampak pula bahwa pendidikan sering kali bertujuan untuk membuat anak politis dewasa dan mencapai emansipasi yang kurang ada hubungannya dengan keaadaan orde ekonomi yang ada. Timbulah aksi-aksi ujuk rasa menentang orde tersebut serta menentang lembaga-lembaga yang lebih mementingkan kebutuhan ekonomi. Remaja dan kaum muda pada umumnya menjadi unsure pokok pada aksi unjuk rasa tersebut.[6]



  














BAB III
PENUTUP
A.    Kritik dan Diskusi
Setelah kami berdiskusi dalam waktu yang lama, kami dapat mengetahui apa itu fase remaja dan tugasnya. Serta bagaimana pandangan masyarakat terhadap remaja yang saat ini cenderung berpandangan negatif.
B.     Kesimpulan
Masa remaja menunjukkan masa peralihan karena remaja belum memperoleh status orang dewasa tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak. Pada usia ini remaja juga memiliki tugas pada perkembangannya. Pada setiap tugas, remaja perlu memahaminya untuk memasuki fase dewasa awal. Karena dengan memahami ini remaja diharapkan dapat menemukan solusi atas permasalahan yang sedang dihadapinnya. Sehingga dalam proses menuju dewasa, seorang remaja bisa hidup berdampingan dengan masyarakat.



















DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga: 1980.
Fuad Nashori, Potensi-potensi Manusia, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003.
Siti Partini Suadirman et.al. Perkembangan Peserta Didik, Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2006.





[1] Hurlock, Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, (Erlangga: 1980), hlm.206.
[2] Ibid, 210.
[3] Fuad Nashori, potensi-potensi manusia, Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2003, h.153.
[4] Siti Partini Suardiman et.al., Perkembangan Peserta Didik,Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2006, h.127.
[5] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2002,h.106-107.
[6] Monks-Knoers, Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, Tahun 2006, h. 308-311

Tidak ada komentar:

Posting Komentar