Kamis, 24 Maret 2016

ahlaq tasawuf

MENITI JALAN SURGA
Makalah Ini Disusun dalam Rangka Memenuhi  Tugas
Mata Kuliah Akhlaq Tasawuf
Dosen Pengampu : H. Muhammad Hafiun

Disusun Oleh:
Sufi Amalia
NIM: 14250023



PROGRAM STUDI  ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015



KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji bagi Allah sang penguasa alam, yang telah melimpahkan nikmat seta karunianya sehingga saya dapat “merampungkan” makalah sesuai dengan tugas yang diberikan. Solawah serta salam salam saya haturkan kepada nabi pembawa cahaya iman, tidak lain ialah nabi Muhammad Saw, yang begitu tegar untuk memerdekakan agama Allah yaitu agama yang “Rohmatan lil ‘alamin”.
Pada kesempatan kali ini saya menyampaikan beribu terimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat, kepada Dosen yang telah membimbing kami, dan kepada teman-teman yang setiap malam lembur bersama, demi terselesaikannya makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini, saya menyadari bahwa masih sangat banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini baik dari segi pembahasan dan dalam segi penulisan. Semoga tugas kecil ini dapat menyampaikan pemahaman kepada kita, sehingga kedepannya dapat menulis lebih baik lagi.
Saya mengharap kritik dan saran yang konstruktif dari para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga allah SWT. memberkahi kita dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta kemanfaatan ilmu yang kita peroleh. Amin.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahi wabaraktuh

Yogyakarta, 28 Mei 2015

Penulis



BAB II
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Mengingat masa berabad-abad silam, di mana nabi Adam dan Siti Hawa hidup di surga, membuat semua umat manusia yakin bahwa kelak kita akan kembali ke surga. Tempat yang menurut bayangan orang-orang pada umumnya adalah tempat yang penuh dengan keindahan, kegembiraan dan hal menyenangkan lainnya. Memang benar kelak kita akan kembali ke tempat asal kita, yaitu Surga. Namun tidak serta-merta tanpa usaha kita akan kembali kesana. Semua butuh perjuangan. Seperti kita mau menyebrang danau, butuh yang namanya perjuangan untuk sampai ke tepi danau.
Allah SWT, memberi tiket murah untuk kita menuju Surganya, namun kebanyakan manusia hanya menginginkan surganya tanpa ada usaha. Sesungguhnya Surga adalah sebaik-baik nikmat yang Allah berikan kepada hambanya. Nikmat dunia tidak ada bandingannya dengan yang dinamakan Surga.
Oleh karena itu makalah ini saya buat untuk menjadi satu dari sekian banyak motifasi bagi kita untuk semangat meraih cintanya. Hanya dengan mendapat cinta Allah, maka surga menjadi mungkin untuk kita. Mari bersama menuju tujuan akhir yang bahagia. “Berakit-rakit kehulu, Bersenang-senang kemudian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian”.
B.     Rumusan Masalah
1.      Untuk siapa surga diciptakan?
2.      Seperti apa surga itu?
3.      Bagaimana kita memasuki surga?
C.     Tujuan
Makalah ini disusun guna melengkapi tugas Aklak Tasawuf yang diampu oleh Bapak H. Muhammad Hafiun. Isi di dalam makalah ini membahas tentang surga diperuntukan untuk siapa? Dan bagaiman cara kita memasuki tempat yang penuh dengan kebahagiaan tersebut.





















BAB III
PEMBAHASAN
A.    Untuk Siapa Surga diciptakan ?
Terkadang terbesit di pikiran kita, jika Allah sayang kepada aku kenapa dia memberi cobaan yang tak bisa aku lewati?. Sering sekali kita mengeluh dan jarang sekali mengucap syukur atas nikmat. Padahal semua yang ada pada diri kita dan yang terjadi adalah nikmat yang terhingga dari-Nya. Seperti ketika kita duduk itu adalah nikmat yang kadang kita lupakan. Coba saja ketika Allah tak memberi nikmat duduk apa kita bisa duduk? Tidak kawan. Kita hanya bisa berbaring. Bahkan berbaring itu juga nikmat yang Allah beri untuk kita. Coba pikir semua yang ada hanyalah nikmat yang tak terbatas.
Masih di dunia saja sudah banyak sekali nikmat yang Allah berikan. Apalagi jika nanti kita masuk surga, sungguh tak terkira banyaknya nikmat yang akan kita terima. Tapi sebenarnya surga itu untuk siapa?. Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim menjelaskan untuk siapa surga diciptakan.
      “aku telah menyiapkan surga untuk hamba-hambaku yang shalih, apa yang belum pernah mata melihat, telinga belum pernah mendengar, dan tidak terbesit dalam hati manusia.”(HR. Bukhori dan Muslim).
      Allah memberikan berbagai cobaan itu bertujuan agar kita bisa melaluinya dengan hati yang ikhlas, dengan manusia menerima apa yang telah terjadi diharapkan manusia masuk surga tanpa hisab. Seperti dalam firman-Nya.
      “...sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas”.[1]
     
B.     Seperti apa surga itu?
Tak ada yang bisa membayangkan surga secara pasti itu seperti apa. Keindahannya tak ada yang menyamai di muka Bumi ini. Bahkan taman terindah di Dunia pun tak bisa menyamai keindahannya. Berikut sabda Nabi tentang surga.
Nabi Saw, bersabda”Satu penyeru yang menyeru- menyeru penghuni Surga-,”Sesungguhnya bagi kalian keselamatan, dan kalian tidak pernah sakit, bagi kalian kehidupan dan kalian tidak akan pernah mati, dan bagi kalian kemudahan dan kalian tidak akan pernah (menjadi) tua.”
Umur semua yang hidup di Surga adalah sekitar tiga puluh tiga tahun. Mengapa? Tampaklah bahwa umur itu merupakan umur yang paling matang dan umur dimana manusia berempati dengan realitas maupun makna yang ada di sekitarnya.
Satu penyeru yang menyeru- menyeru penghuni surga- “Sesungguhnya bagi kalian kesehatan , dan kalian tidak pernah sakit, bagi kalian kehidupan dan kalian tidak akan pernah mati, dan bagi kalian kemudahan, dan kalian tidak akan pernah menjadi tu. Bersenang-senang dan tidak pernah khawatir.”
Ada empat perkara yang tidak akan ditemui di surga:
1.      Kesehatan abadi tanpa pernah sakit setelah itu
2.      Bagi kita kehidupan abadi dan kita tidak akan mati
3.      Kemudahan, sehingga tidak akan pernag menjadi tua setelah itu. Kita akan tetap dalam usia muda sepanjang masa tanpa pernah henti.
4.      Bersenang-senang tanpa pernah merasa khawatir akan kehilangan.
C.     Bagaimana kita memasuki surga?
1.      Pintu surga dari orang tua
a.       Birul Walidaini
Yaitu berbuat baik pada ibu dan ayah, berdasarkan nash Al-Qur’an dan Hadist.
Berdasar nash Al-Qur’an:
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Ayahmu dengan sebaik-baiknya.”(QS. Al-Israa’: 23)

“katakanlah, marilah kubaca apa yang diharuskan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan dia dan berbuat baiklah terhadap kedua orang, ibu ayah.” (QS. Al-An’aam: 151)
            Allah memaklumatkan satu peritah yang wajib ditinggalkan dan haram dikerjakan yaitu kemusyrikan. Satu perintah lagi wajib dikerjakan dan haram ditinggalkan yaitu berbuat baik kepada ibu dan ayah.
Wajib berbuat baik kepada ibu dan ayah berdasarkan sunnah Rasulullah Saw,
“Dari Abu Hurairah RA berkata, ‘seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan bertanya “ya Rasulullah siapakah orang yang paling berhak aku layani(patuhi)? Jawab Nabi ‘ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘kemudian siapa lagi?’ jawab nabi, ‘ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘kemudian siapa lagi?’ jawab Nabi, ‘ibumu.’’kemudian siapa lagi?’jawab Nabi, ‘Ayahmu.” (HR. Bukhori da Muslim).
b.      Khidmatul Ummi
Yaitu menngutamakan ibu tanpa mengabaikan jasa ayah. Alasannya, karena ibu merupakan orang yang bersusah payah dan menanggung beban derita paling besar dalam membesarkan anak.
Rasulullah memberi suatu kehormatan kepada ibu, dengan sabdanya “surgamu ada di bawah telapak kaki ibu.” Karenanya, beliau menganjurkan agar kita berkhidmad kepada ibu, terlebih bila dia sudah lanjut usia. Sebab, disanalah kunci-kunci surga berada.  
c.       Mahabatul Ummi
Yaitu kecintaan kepada ibu. Kita harus memahami betapa orang tua, terutama ibu, adalah orang yang sangat menyayangi kita. Besarnya kasih sayang ibu telah mengiringi perjalanan hidup kita selama ini. Walaupun kesusahan dirasakan demi membesarkan dan mendidik kita, ia jalani dengan penuh kesabaran hingga akhirnya kita menjadi besar, dewasa, dan dapat hidup mandiri. Sungguh hal yang sangat wajar bila orangtua, terutama ibu, harus dimuliakan dan dihormati.
d.      Syukur Lil Ummi
Yaitu kewajiban berterimakasih kepada ibu.  Setiap manusia wajib bersyukur kepada Allah dengan berterimakasih kepada orangtua, terutama ibu. Allah SWT berfirman:
“Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 78)[2]
2.      Pintu Surga dari Diri Sendiri
a.       Tobat
Tobat bermakna penyesalan. Sebagian ulama berpendapat bahwa dalam tobat terkandung tiga sifat:
·         Ilmu
·         Penyesalan atas l
b.      Sabar dan Syukur
c.       Khawf dan Raja’
d.      Fakir dan Zuhud
e.       Muraqabah dan Muhasabah
f.       Tawakal
g.      Al-Shidq
h.      Ikhlas
i.        Tafakur




[1] Amru Khalid, Hati Sebening Mata Air, (Solo: Aqwam, 2006), hlm.172.
[2] Mutia Mutmainnah, Keajaiban Doa dan Ridho Ibu, (Jakarta Selatan: PT. Wahyu Media, 2009), hlm.15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar